Malim Pesong

Dimuat di korantempo Edisi Sunday, 10 May 2009
Oleh - Dibaca: 9 kali -


IA SEMACAM kubang penampungan bagi tumpukan gunjing yang busuk. Ia dicibir sebagai penista agama oleh warga kampung. Lebih dari itu, Ustaz Tohir mendaulatnya sebagai calon penghuni palung neraka. Haji Sangkot malah menudingnya dajjal. Bahkan Tumbur, penjudi dan pemabuk di kampung itu pernah bersumpah, seraya menenggak tuak, “Kalaupun dia mati di kampung ini, nisannya akan kuukir dengan nama Malim Pesong!”

***

MALIM Esa duduk di saf terdepan. Tapi suatu hal tiba-tiba melorotkannya dari tampuk kemuliaan. Isi khutbah Ustaz Tohir seolah menggusurnya ke deretan akhir jemaah Jumat, bahkan menjungkalkannya ke luar masjid. Maka kini ia memilih menunduk, menjatuhkan sorot mata ke jantung sajadah. Sungguh, Malim Esa tak bernyali memaling muka ke belakang, sekadar memastikan puluhan mata tengah menjelma pisau. Lantas menerkam pundaknya: menyayat kulit dan mengelupas daging dari tulang.

Namun, meski sedang menanggungkan malu, Malim Esa tetap menyibakkan senyum. Ia berulang-kali mengguyurkan napas ke lorong dadanya. Lumayan untuk meredam geliuk api di hati, kendati gagal untuk dipadamkan. Tadi, Malim Esa takzim mendengar khutbah. Namun ketakzimannya mendadak disembelih imbauan khatib yang bernada sindiran, “Menghadap Allah tak musti dengan pakaian baru, tapi yang terbaik lagi bersih. Jangan masuk masjid mengenakan kostum bola, ah….”

Malim Esa melirik baju yang membungkus tubuhnya. Merah menyala. Di dada kiri tertera logo Manchester United. Terbata-bata ingatan Malim Esa mengeja sebaris kata buram di punggung baju: Ro-o-ney. Tapi ia hapal angka 10 yang terletak di bawahnya. “Sudahlah pakai kostum bola, saf pertama pula. Ya, jemaah yang di belakang jadi terusik. Manalah khusyuk sembahyang sambil membayangkan Maradona!” Ustaz Tohir mendengus, mendongak, lalu menyetor tatapan sinis ke seluruh ruangan.

Tanpa terhasut prasangka buruk, Malim Esa yakin peluru ejekan diletuskan ke kepalanya. Paling tidak, andai ada jemaah lain yang mengenakan kostum bola, taklah alasan baginya untuk berkelit. Maka, ia pun menuntaskan ibadah Jumat dengan pundak yang ditancapi puluhan pisau. Pisau yang memutus nadi kekhusyukan sembahyangnya.

Namun, beberapa hari usai peristiwa tersebut, Malim Esa tanpa sengaja membidikkan senapan sindiran soal kekhusyukan ke arah Ustaz Tohir. Biasanya, usai magrib, beberapa jemaah memilih bertahan di masjid ketimbang pulang. Satu-dua jemaah rebahan atau mengaji di dalam masjid. Sebagian lagi menagih angin di teras sambil kombur, bertukaran cerita. Nah, entah cerita apa yang memicu, Malim Esa kontan berkisah tentang Bisuk, lelaki yang tak pernah khusyuk sembahyang. Malim Esa tak peduli meski hadirin kombur melalaikan keberadaannya.

“Suatu kali ketika sembahyang subuh, di hadapan si Bisuk ada seorang tua berjubah putih,” Malim Esa menyalakan ceritanya dengan sepercik senyum. “Angin kencang yang berhembus sampai ke dalam masjid membuat juntaian jubah bergoyang, bergelombang. Lambat-laun si Bisuk membayangkan sosok di depannya itu adalah hantu. Si Bisuk menggigil. Belum genap dua rakaat, ia cabut dari saf, tunggang-langgang menuju rumahnya….”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Negeri Debu

Senyum tipis masih terpantik di bibir Malim Esa. Ia menoleh Ustaz Tohir dengan teduh. Ustaz Tohir pura-pura tak menyimak, malah mendehem, dan melempar gumpal dahak ke luar teras. Haji Sangkot memicing-micing mata sambil menyalakan rokok. Pendengar yang lain, menggelicakkan air muka kebekuan. Namun Malim Esa tak hendak menebang batang cerita.

“Ha, pernah saat sembahyang Jumat, si Bisuk memperhatikan sajadah seorang jemaah di sebelahnya. Sajadah itu sengaja dibawa jemaah itu ke masjid. Bagus sajadahnya. Tebal, lebar, dan gambar masjidnya megah. Tak banding dengan sajadah masjid yang kusam, kecil, dan kabur.” Malim Esa menjurus serius. “Alih-alih khusyuk, bah, si Bisuk malah sibuk memikirkan sajadah di sampingnya. ‘Bagus kali, ah. Kapan aku masuk ke masjid sebagus itu’. Gumam si Bisuk sambil berdecak dan menggeleng-geleng.”

Malim Esa pun mengunci ceritanya dengan mengoleng-oleng kepala. Para jemaah juga turut bersigeleng, lantas satu-satu beranjak ke pancuran, mendaur wudu. Padahal isyarat isya belum menegur. Ah, gelengan mereka bukan untuk si Bisuk, melainkan Malim Esa. Dasar pesong! Umpat mereka ke telinga sendiri.

***

IA PENDATANG baru di kampung itu. Atas izin Amang Leo, Kepala Kampung, Malim Esa membuka lahan untuk berladang dan tinggal di pinggang bukit. Warga menyambutnya dengan keluasan hati. Apalagi, meski entah dari mulut siapa, ia disebut-sebut malim, pandai agama. Tapi memang terbukti. Bacaan sembahyangnya fasih, ilmu agamanya terbilang mumpuni. Banyak warga mengagumi cara Malim Esa menyajikan ceramah agama. Baik di acara pengajian setiap Kamis petang, maupun di atas mimbar Jumat. Tak kalah ia dari Ustaz Tohir, yang tamatan pesantren dan menyelesaikan kuliah agama.

Memang, Malim Esa hampir tak pernah meledak-ledak tatkala menyampaikan nasihat agama. Suaranya tak berwibawa, tak diberat-beratkan atau dibikin bergema, tapi berdenting ke sanubari. Telunjuknya jarang menuding. Kulitnya memang sewarna kelabu, penuh irisan ketuaan, juga ampas luka. Namun riak mukanya tak pernah keruh. Malim Esa jarang menggurui, tak gemar mendikte. Ia lihai menjahit bahan ceramah dengan kisah-kisah yang mengesankan.

“Malim Esa bukan ustaz yang suka menakut-nakuti,” gelak sebagian warga. Ya, senyum khasnya senantiasa mekar di celah ceramah. Sejatinya senyum Malim Esa juga bagian dari ceramah. Senyum yang menyejukkan. Kedua matanya pun turut berbicara, liar dan bercahaya. Penampilan Malim Esa sederhana. Sarungnya tak banyak. Bajunya tak melulu jubah. Kopiahnya berwarna cokelat tua, kalau tak hendak dibilang lapuk. Pokoknya warga senang menukar kehebatan Malim Esa dengan elu-eluan!

Tapi, entah sejak kapan Malim Esa mulai dipencilkan warga. Dari kabar angin, ia tahu bahwa Ustaz Tohir dan Haji Sangkot tak berkenan kepadanya. Ia memang kerap terlibat soal-jawab dengan Ustaz Tohir, pun dengan Haji Sangkot. Namun itu biasa menurut Malim Esa. Cuma bergelut pendapat. Suatu kali usai pengajian, Malim Esa meladeni Ustaz Tohir perihal keikhlasan bersedekah.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Negeri Debu

“Ikhlas itu di sini,” kata Malim Esa sembari meraba dadanya.

“Kalau tangan kanan bersedekah, tangan kiri haram tahu,” balas ustaz muda tersebut.

“Mmh….”

“Sembunyikanlah jumlah uang yang engkau masukkan ke tabung infak. Orang di kiri-kananmu tak boleh tahu.”

“Tidakkah makin ditutupi, makin diperhatikan orang? Bisa riya itu!”

“Jadi?”

“Wajar saja. Tak usah terlampau disembunyikan. Jangan pula ditunjuk-tunjukkan.”

Pada waktu lain, perdebatan berlanjut. Kata Ustaz Tohir, sedekah itu harus meningkat waktu ke waktu. Hari ini seribu, besok musti dua ribu. Menurut Malim Esa, lain pula. Peningkatan sedekah bukan dilihat dari segi jumlah, tapi keikhlasan. Kemarin menyumbang seribu perak tapi kurang ikhlas lebih buruk ketimbang hari ini memberi lima ratus perak dengan keikhlasan sempurna. Namun semburan Ustaz Tohir mencerabut nyawa perdebatan. “Malim tahu kan, aku ini tamatan sekolah agama?”

Ah, sering Ustaz Tohir dan Malim Esa tubrukan pendapat, dan senantiasa kandas dengan ungkapan, “…tamatan sekolah agama aku ini!” Sepanjang ingatan Malim Esa, sejak sering berdebat dengan Ustaz Tohir, warga mulai dingin terhadapnya. Begitu lekas! Padahal Malim Esa tak pernah mendebat Ustaz Tohir di depan khalayak.

Sentimen warga menjangkau puncaknya awal bulan puasa beberapa waktu lalu. Lepas tarawih, Malim Esa disidang Haji Sangkot dan Ustaz Tohir di masjid. Pasalnya? Nael, seorang warga Masehi–sebutan untuk orang Nasrani di kampung itu–datang menemui Haji Sangkot dan Kepala Kampung. Ia minta izin membuka warung tuaknya. Nael mengaku, Malim Esa yang kasih saran.

“Malim tahu kenapa kita tak langsung tadarus malam ini?” Haji Sangkot angkat bicara. Malim Esa bingung. Ia coba mengais jawaban dari mata jemaah yang duduk berkeliling.

“Malim, sejak dulu, penduduk Masehi dan penganut Islam di kampung ini rukun-rukun saja. Jangan dibikin rusuh!” Giliran Ustaz Tohir yang menguak pintu suara dengan terawang mata menyentuh bubungan masjid.

“Maksudnya?”

“Itu pertanyaanku,” sentak Haji Sangkot. “Apa maksud malim menyuruh si Nael membuka warung tuaknya, hah?”

Malim Esa mengernyitkan dahi. Sesaat, hening melintas bersijingkat. Malim Esa kemudian tersenyum. Lekas juga ia mencecap garam permasalahan.

“Aku tak menyuruh, Haji. Aku hanya mengatakan pada Nael, ‘Tak salah kau membuka warung’. Itu saja.”

“E-eh, itu bukan menyuruh namanya? Asal Malim tahu, kita di kampung ini saling menghargai. Meski beda keyakinan, banyak di antara kita yang masih berkerabat dengan orang-orang Masehi karena hubungan marga.” Geretak rahang Haji Sangkot menyerupa suara gesekan dua dadu. Di luar, angin dan hujan menyela malam. “Mereka horja, kita hadiri. Sebaliknya, kita menggelar pesta, mereka kita undang. Mereka boleh membuka warung tuak, tapi di luar bulan puasa? Nah, itulah arti saling menghormati. Tapi jangan Malim anjurkan orang Masehi tak menghormati kita yang berpuasa.” Napas Haji Sangkot tindih-menindih.

“Maaf, Haji. Kita juga harus menghormati mereka yang tak puasa.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Negeri Debu

“Bagaimana pula itu?” Desak Ustaz Tohir.

“Masak gara-gara kita puasa, orang yang tak puasa tak boleh makan-minum secara terang-terangan,” Suara Malim Esa terdengar lembut, meski bergetar.

“Mmh…. Sudah berapa kali malim naik haji, maksudku, sudah pernah pergi haji?” Tanya Haji Sangkot. Angin berkelok ke dalam masjid. Suara hujan menciduk jeda pembicaraan. Malim Esa menggeleng sambil melacak alamat pertanyaan. Sedang si empunya tanya mengangguk-angguk.

“Malim,” Ustaz Tohir menyalib anggukan Haji Sangkot, “Jika orang-orang Masehi dibiarkan makan-minum sesukanya, bisa-bisa mengganggu kehikmatan puasa.”

“Kalau itu membikin nilai puasa rusak, itu urusan kita. Bukan salah mereka. Kecuali mereka memaksa kita membatalkan puasa, lain cerita.”

“Ah, sesat kau, Malim! Puasa-puasa malah menyuruh warung tuak dibuka!” Haji Sangkot menghardik. Urat lehernya bak dialiri petir.

“Minum tuak bagi mereka semacam minum kopi, Haji. Tuak sebagai kawan bercerita, bukan untuk mabuk. Lagi pula, kalau kita menghormati mereka yang tak puasa, kitalah sebenarnya yang lebih terhormat?” Kesabaran Malim Esa melenceng. Suaranya mendaki.

“Kau bala di kampung ini! Keluar! Haram kakimu menginjak masjid ini! Jangan pernah lagi masuk ke sini!” Haji Sangkot melempar Malim Esa dengan gelung sorbannya. Ustaz Tohir bangkit dari duduknya. Ayun tinjunya menghantam hidung Malim Esa. Sejumlah jemaah melonjak ke hadapan Malim Esa, entah melerai atau menyokong Ustaz Tohir. Untung Amang Leo gesit merangkul dan menggiring Malim Esa ke halaman masjid. Malim Esa menyeringai menumpas rasa sakit. Kejaran hujan meringkus tubuhnya yang ringkih. Siur angin menyempoyongkan langkahnya. Dalam keadaan hidung yang bercucur darah, ia masih mencoba tersenyum. Dan lalu, senyum itu perlahan memapahnya pulang. Sedang dari arah masjid, masih terdengar lolongan amarah.

***

SEJAK kejadian itu, Malim Esa kian terkucil. Meski ancaman Haji Sangkot melarang Malim Esa masuk masjid tak terbukti, tapi ia dicekal menjadi khatib, mengisi pengajian atau mengimami sembahyang jemaah. Belum lagi menghadapi khalayak yang menghukumnya dengan pandangan sembilu. Jika kumpul-kumpul warga didatangi Malim Esa, orang-orang menyambutnya dengan punggung. Kalaupun ada satu-dua warga yang masih melayani Malim Esa, siap-siaplah hanyut di sungai gunjingan.

Begitulah, cuma dengan senyum Malim Esa menepis perlakuan itu. Tapi tak ayal, senyumnya malah merampungkan cemoohan: dasar pesong! Akhirnya, Malim Esa tersiksa juga. Baginya, lebih baik orang-orang kampung menghujat dengan aing yang lantang tinimbang mengolok dengan tatapan timpang. Mengapa tak mereka hanguskan saja ladang dan tempat tinggalku, pikirnya. Seperti yang lalu-lalu, di kampung-kampung yang lain, Malim Esa pun rindu dirajah batu, dirajam bambu. Nikmat nian mendapati puluhan tungku luka berkobar di gelimpang tubuhnya.

Maka, meski bukan lantaran sengaja atau kecanduan, ia lebih menginginkan orang-orang setempat menelanjanginya, mengarak dan menyeret tubuhnya ke luar kampung. Pun tak apa mereka menyerapahi:

“Malim Pesong! Malim Sinting!”

***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Malim Pesong oleh yang terbit pada Sunday, 10 May 2009 di korantempo. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Malim Pesong

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Malim Pesong

×