Bulan dan Bintang yang Terkurung

Dimuat di kedaulatanrakyat Edisi Sunday, 25 June 2006
Oleh - Dibaca: 8 kali -


I. Bulan Berkalang

Hari Jumat Wage (malam Sabtu Kliwon) tanggal 12 Mei 2006 langit cerah. Tak ada sepotong mendung, sungguh tak ada. Sinar bulan bersih. Siluet pohon-pohon, gedung-gedung tampak jelas. Gemericik air dari kali Winongo samar terdengar. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak masuk dalam pikiran.

“Sialan, aku kembali dipojokkan perasaanku sendiri”. Aku mengumpat dalam hati. Berkali-kali aku selalu kalah dengan perasaanku sendiri. “Otakku bebal!” Harusnya perasaan-perasaan yang suka ngaco itu, aku lawan dengan pikiran-pikiran logis, masuk akal, pasti! Aku pun harus mengakui kemampuan berpikirku ternyata cukup lemah.

“Hei.. bulan berkalang!” seru istriku.

“Ada tiga bintang dalam kalang bulan itu,” tambahnya lagi. Aku masih berdiam diri. Waktu Kang Sarmin dulu bunuh diri, bulan juga berkalang. Kemudian burung bence berkali-kali mengitari kampung.

“Semoga tak ada apa-apa”. Aku mencoba menenangkan istri juga diri sendiri.

Malam terus berlalu. Sesekali mega menyaput bulan. Gelap sebentar, kemudian kembali terang.

“Tuhan memberi ujian pada umatnya, tapi tenang saja. Dia tak akan memberi ujian di luar kemampuan umat tersebut,” kata istriku, melansir omongan ustaz yang sering didengarkan lewat televisi.

“Memangnya apa yang akan terjadi?” tanyaku.

“Ya nggak tahu, itu rahasia Tuhan.”

Malam terus merayap, udara semakin dingin. Aku mencoba berkonsentrasi pada telinga, mencari suara burung bence. Untunglah, sekian lama saya mencari tapi tak saya temukan. Semoga tak terjadi apa-apa.

“Jeng kelihatannya udara semakin dingin, enaknya kita masuk rumah”.

“Masuk rumah apa masuk kamar?”

“Ah, tahu aja”.

Udara dingin, seekor kucing mengendap-endap di samping rumah. Mengincar tikus wirok yang sedang menarik-narik sebungkus mi instan.

Bulan berkalang, ada tiga bintang terkurung di sana.

II. Merapi

Peningkatan aktivitas gunung Merapi menjadi perhatian banyak orang, tak hanya di Yogya saja, bahkan di seluruh dunia. Karena gunung Merapi merupakan gunung paling aktif di dunia. Banyak wartawan-wartawan dari luar negeri yang nongkrongin gunung Merapi. Nama Mbah Maridjan mendunia. Populer di segala kalangan. Merakyat humoris, suka mengaku bodoh, tapi sebenarnya cerdas, itulah Mbah Maridjan. Tapi maaf itu hanya berdasar penilaianku saja. “Sepanjang yang saya kenal memang begitu”.

“Mbah Maridjan itu orangnya gimana sih mas?” tanya istriku.

“Kayak Semar”.

“Kayak Semar gimana, bokongnya gede gitu, punya jambul?”

“Ya tidak begitu, kau kan sering lihat fotonya”.

“Maksudku kesehariannya bagaimana?”

Istriku tampak sedikit sewot.

“Biasa, kayak Mbah Darmo, Mbah Suto, Mbah Pawiro dan yang lain-lain.”

“Tapi dia sakti kan! Bisa omong-omongan dengan gunung”.

Sengaja aku tidak menanggapi omongan istriku.

Untuk beberapa saat aku dan istriku saling membisu, baru kemudian ia memecah keheningan. Kembali melontarkan pertanyaan dengan intonasi kekanak-kanakan.

“Kira-kira Merapi meletus tidak?”

“Kira-kira tidak!” jawabku sekenanya.

“Lalu kemungkinan bencana apa yang bakal terjadi?”

“Hus ngawur, jangan suka… berceloteh!”

“Lalu bagaimana dengan bulan berkalang kemarin?”

“Jangan percaya takhayul”.

“Tapi sudah beberapa kali terbukti!”

Memang sudah menjadi tradisi, setiap kali omong-omong dengan istriku, selalu tidak ‘ketemu’. Tapi tak pernah jadi persoalan, justru tambah asyik. Beda pendapat itu memang benar asyik. Coba saja! Tanya Mbah Maridjan, pasti lebih asyik tinggal di rumahnya daripada ikut-ikutan tinggal di barak pengungsian. “Beda boleh dong! Seragam? Tak ada hukum wajib”.

III. Bulan Mati

Sudah hampir seminggu, aku selalu pulang larut malam, bahkan beberapa kali tak pulang. Sebagai seorang fotografer, keinginan untuk mendapat gambar terbaik tentang aktivitas Merapi menjadi satu keinginan yang tak bisa ditawar lagi. Dan Merapi tak bisa diprediksi. Nongkrongin Merapi menjadi pilihan yang tak bisa ditawar. Untunglah istriku sangat paham dengan segala seluk-beluk profesiku. Sehingga tak pernah ada masalah. Kami memaknai kebersamaan dengan cara kami sendiri.

Sekarang saatnya menikmati kebersamaan dengan istri, minum teh bersama, sambil ngobrol ngalor-ngidul. Merapi saya lupakan untuk beberapa saat. “Sekadar untuk menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri”. Demikian saya berpikir. Berceloteh dengan istri kadang menjadi satu energi tersendiri bagi diriku.

Meskipun sekali waktu menjadi satu perselisihan. Karena kami sama-sama yakin dengan pikiran sendiri. Tapi endingnya, satu kemesraan yang nikmat. Hidup menjadi lebih berirama, tidak monoton. Demikian aku merasa selama ini. Kadang tak sadar, hari sudah sore. Lalu kita saling menanyakan menu apa untuk makan sore ini.

“Kamu mau makan apa?” tanya istriku.

“Terserah. Kau sendiri mau makan apa?” jawabku sambil menghisap rokok, dan mengepulkannya ke udara. Kemudian kami keluar, mencoba mencari warung yang kita rasa cocok. Bisa sampai satu jam kita muter-muter, tak menemukan yang benar-benar cocok seratus persen.

“Sudahlah, tak ada warung yang seratus persen ideal bagi kita. Kecuali bikin warung sendiri, mau kita bikin bagaimana pasti bisa,” kata istriku mulai jengkel. Atau mungkin karena lambung yang sudah mulai perih, minta diisi.

“Ya sudah, kau pilih mana?” tanyaku.

“Terserah”.

“Aduh mana? Sate lapangan Karang Kotagede, sekalian bisa lihat bulan”.

“Sekarang Tilam, bulan mati. Tak ada bulan”.

“Ya lihat bintang saja”.

“Uh….”

Usai makan kami tak langsung pulang, kita mampir di rumah Mas Yudi, salah seorang sahabat yang bekerja di broadcasting. Saya sering ketemu di berbagai event. Kami ngobrol panjang lebar. Iseng saya menanyakan koleksi film, termasuk film biru.

“He he… ada film biru tidak, tapi yang lokal?”

“Ada dong…” Mas Yudi menjawab sambil tersenyum. Lalu ia menawarkan beberapa keping CD. Aku memilih beberapa keping.

“Ah… fantastis….” aku dan istri berpandangan. Tak sadar tawa kami tiba-tiba pecah dan meruang. Baik aku, istriku maupun Mas Yudi memang cukup akrab, kami bertiga sering ngobrolin soal apa saja, termasuk juga soal sex, tak ada istilah tabu di antara kita. Semacam diskusi kecil-kecilan.

Bulan Mati. Udara seperti berhenti berembus. Tintrim.

Pagi, 27 Mei, hari Sabtu Wage, pukul 05.55 menit WIB. Gempa 5,9 SR meluluhlantakkan Yogyakarta dan sekitarnya. Ribuan orang meninggal, rumah dan harta benda hancur. Saat itu, aku dan istriku berlari ke luar rumah, kepanikan benar-benar menghantui kami. Beberapa saat setelah gempa usai, dan kami mulai bisa menenangkan diri, saya tersadar ternyata saat itu saya hanya mengenakan celana dalam. Cepat-cepat saya masuk mengambil sarung.

Banyak saksi melihat, saat terjadi gempa ada semburat warna merah memancar dari tengah laut selatan. Konon, Kanjeng Ratu sedang marah karena kalah populer dengan Mbah Maridjan. Ada juga yang bilang Kanjeng Ratu tidak setuju dengan RUU Pornografi. Kesukaannya mengenakan kemben, tentu akan terusik dengan adanya undang-undang tersebut. Percayalah, memang begitu adanya. ***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Bulan dan Bintang yang Terkurung oleh yang terbit pada Sunday, 25 June 2006 di kedaulatanrakyat. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Bulan dan Bintang yang Terkurung

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Bulan dan Bintang yang Terkurung

×