Cerpen Klik!

Dimuat di suarapembaruan Edisi Sunday, 15 January 2006
Oleh - Dibaca: 8 kali -


Siang itu Alex berada di dalam sebuah iring–iringan mobil hitam menuju gereja. Ia duduk di samping supir bersetelan jas berwarna kelam, ketombenya bertebaran di balik kerah bajunya. Tatapan matanya kosong, memandang ke arah jalan dari kursi mobil di depan orang tuanya yang tak berucap sepatahpun sejak mereka meninggalkan rumah sakit.

Tiga hari yang lalu Alex sudah tidak sabar lagi untuk menantikan hari Natal dan Tahun Baru segera berlalu, supaya ia tak harus berpura–pura tersenyum bahagia. Tak harus meringis dengan paksa ketika hadiah barter yang ia buka lagi–lagi berisi sehelai dasi norak dan kaos kaki basi yang ukurannyapun salah.

Tiga hari yang lalu Alex sudah tidak sabar untuk meluncur dengan snowboardnya, melayang bebas di luar jalur landasan ski yang resmi, di antara pohon–pohon cemara yang tampak ditaburi bedak putih yang sesekali merontokan butir–butirnya ke atas kepala Alex saat ia melesat tak jauh dari batang–batang pohon yang mencuat di sana–sini.

Shuuish..shuuuisshh..bunyi papan snowboardnya meluncur halus di atas bubuk salju, sesekali ia harus meloncat menghindari batu–batu karang yang tampak tiba–tiba saja muncul. Tebing–tebing tinggi yang juga tampak bersembunyi di bawah karpet putih salju menjadi tantangan Alex yang utama, otaknya harus berpikir cepat, untuk menghindari, meloncat atau berhenti sama sekali. Namun ia begitu mahir dengan papan bermotif anjing ganasnya itu. Ia selalu memilih untuk meloncat, siap dengan berbagai tantangan baru yang menantinya di bawah tebing.

Shuuuuisssh….Alex tampak seperti terbang di udara, dadanya berdebar keras, kepalanya tampak ikut berdenyut dan terasa seperti terpanggang di atas arang yang menyala merah. Panas, panas, panas, di tengah ber hektare–hektare gunung yang terselimuti salju yang dingin.

Tubuhnya sesekali melintir, membuat semua aliran darah tertumpah ke ubun–ubun. Alex selalu berhasil mendarat dengan selamat, jantungnya kemudian akan berdegup lebih lambat, aliran darahnya mulai menghangat lagi, derap adrenalinnya mulai mereda. Senyumnya mulai melebar.

“Yeah,” teriaknya, kemudian shuuish..shuissh..lagi, sampai ke tebing berikutnya. Tak ada rambu–rambu, tak ada larangan, hanya ia dan gunung beku.

“Aku rasa kita sudah tak cocok lagi,” Alex berkata.

Jari jemarinya masih giat memijat tombol–tombol Playstation–nya. Matanya memandang ke arah monitor, walaupun kepalanya seakan ingin lari keluar, terbang jauh dari jendela dan terjun ke jalan.

“Apa?” Sofi menyalak keras dari arah dapur. Tangannya masih memegang pisau yang baru saja ia bilas.

Alex berhenti sejenak bermain dan menengok perlahan ke arah gadis itu. Matanya hampir silau oleh kilatan pisau yang memantulkan sinar lampu. Ia biarkan atlet snowboard–nya terguling–guling di atas salju putih di dalam layar.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta

“Sofi, bisa kita bicara sebentar?”

Alex beranjak dari sofa empuk yang kini seperti berpola bokong yang melekat. Gadis itu meletakkan pisau daging besar di atas meja dapur, walaupun tangannya masih tampak melekat di atas gagang kayunya. Matanya memandang tajam ke arah Alex.

Rambut gadis itu terikat berbuntut kuda panjang sampai ke punggung, berkilau berwarna bordeaux mengkilat jika terkena sinar matahari. Bingkai manis yang menghias wajahnya yang hampir segitiga. Bibirnya yang tipis tampak semakin tenggelam di atas wajahnya yang seperti akan meledak.

Alex memandangnya putus asa, tak tahu apakah ia harus melanjutkan kata–kata yang baru saja diucapkannya ataukah ia harus segera terbirit lari dari tikaman mata kekasihnya itu. Alex menundukkan kepalanya, ia tak sanggup memandang ke arah Sofi lagi.

“Aku rasa mungkin kita perlu pergi berlibur sejenak,” kata Alex, mencoba mencerahkan suasana. Ia tak ingin pisau itu nyaris menancap di samping kepalanya, seperti yang terjadi terakhir kali ia mencoba mengakhiri hubungan mereka. Ia tak ingin pisau itu mengiris tangan Sofi, seperti kali yang sebelumnya lagi. Ia tak ingin dan ia tak berani. Ia membalikkan badannya dan duduk menghadap ke arah layar tv, Game Over. Alex kalah lagi.

“Terus,” Damien berkata, di sela–sela jeda kerja mereka, menghirup secangkir kopi panas di warung kopi di sebelah kantor.

Alex menghela nafas panjang, matanya memandang ke arah jalan, melalui jendela besar yang terletak tak jauh dari kursi bar tempat mereka duduk.

“Aku tak sanggup.”

Damien memutar kepalanya perlahan ke arah Alex. Matanya bertanya.

“Aku tak sanggup memutuskannya.”

Damien memutar kepalanya kembali ke arah cangkir kopinya yang sudah kosong. Ia memandang ke arah Alex, rambut keritingnya tampak tak tersisir dan panjang tak jelas, bawah matanya berwarna gelap.

“Ia mengancam untuk bunuh diri lagi?” tanya Damien.

“No.”

“So?”

“Aku hanya takut, kalau…,” Alex tak melanjutkan kata–katanya, bibirnya sibuk menghirup kopinya yang sudah cenderung dingin.

“Takut apa?”

Mata Alex masih terus memandang kosong ke arah jalan, takut kalau Damien bisa membaca kata–kata yang terlintas di dalam kepalanya. Salju putih turun perlahan bagai bintik–bintik putih dari langit yang terus cair di jalan aspal.

“Udaranya masih terlalu panas,” kata Alex tiba–tiba.

“Apa?”

“Udaranya, terlalu panas untuk salju.”

“Oh.”

“Aku ingin segera ke gunung.”

“Kau tak harus bekerja akhir pekan ini?”

“No.”

“Kau akan ajak Sofi?”

Alex memandang salju–salju putih yang turun semakin deras.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah

“Mungkin cukup dingin,” kata Alex lagi.

“Bukankah kau ingin bebas?”

Alex memandang ke arah Damien. Ia tak perlu menyembunyikan pikirannya lagi.

“Bukan salahmu kalau Sofi seperti itu,” Damien berkata lagi.

“Salahku memilihnya,” kata Alex, merenung.

“Alex, laki–laki mana yang tak akan menengok jika melihat Sofi, belum lagi di kantor yang jarang perempuan.”

Seperti sebuah gunung es yang ingin ditaklukkannya, Sofi adalah sebuah tantangan yang membuat Alex tak sabar ingin melompat. Berputar dan melintir, melaju cepat membuat darahnya naik dan hampir meledak.

Membuat dunianya pusing penuh dengan adrenalin. Sofi adalah seorang perempuan sulit yang ingin dikuasainya, diatur dan diubah, diselamatkan dari kepunahan dan kesulitannya. Sayangnya Alex tak ingat kalau dari setiap tebing yang sanggup ditaklukkannya selalu ada permukaan datar yang memberinya kesempatan untuk bernafas dan meredakan degup jantungnya. Sofi bukan melulu gunung es mati yang tidak bernyawa.

Alex juga tak ingat kalau perjalanan ke gunung untuk bertamasya dengan Sofi tidak pernah tidak melupakan teman–temannya. Di akhir pekan terakhir sebelum hari Natal, mobil Alex bak kandang ayam saja, dengan ayam–ayam betina yang menciap–ciap tak henti sepanjang perjalanan.

Sofi dan teman–temannya tak henti berbicara. Kepalanya penat, sesekali di otaknya melintas keinginannya untuk menerjunkan mobil itu ke jurang. Namun Alex hanya bisa diam, memandang ke arah jalan, tak pasti lagi akan alasan dari segala ketakutannya yang sering membuatnya tak bisa memejamkan matanya di malam hari larut.

“Alex foto doooong,” kata ayam–ayam betina itu bergaok–gaok.

Alex baru saja mau beristirahat setelah bolak–balik ia meluncur dengan snowboard–nya di atas salju putih dan lembut, membuat papan luncurnya seperti terbang di atas awan. Matahari musim dingin yang hangat membakar ia biarkan mencium pipinya lembut.

Bokongnya baru saja ia dudukkan tak jauh dari puncak tebing sambil menikmati matahari. Mau tak mau ia memutar kepalanya ke arah teriakan ayam betina itu. Empat gadis–gadis centil berloncat–loncatan dengan genitnya dari seberang, di ujung tebing yang satunya lagi.

“Alex, males amat sih?” kata mereka lagi.

Perlahan–lahan ia mulai menyeret papan luncurnya ke arah gadis–gadis itu.

“Foto apa sih??” tanya Alex.

“Foto kita berempat sayang, bagus banget backgroundnya,” kata Sofi

“Mmm..”

Pose–pose mereka berganti–ganti bak foto model. Lengkingan tawa mereka hampir–hampir menggema di seluruh gunung.

“Klik!Klik!Klik…” kamera itu berkerjap cepat

“Udah?” Kata Alex, wajahnya setengah tak sabar.

“Kamu gak mau di foto say??” tanya Sofi

Alex menggeleng lemah dan bersiap untuk menjauh.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Sumirah

“Eh tunggu..tunggu..” kata Sofi lagi.

“Satu lagi ya say..”

Dahi Alex mengernyit ragu.

“Satu lagi, Sofi sendiri aja…kan di sini belum pernah foto..”

“Oh..”

“Full shot ya say.., kelihatan kalau aku ada di tengah dua puncak gunung itu yaaa…” kata Sofi ketika Alex mulai mengarahkan kamera sekali pakai murahan itu

“Gak cukup Sof.., bentar aku mundur dulu..” Alex bergerak mundur dua langkah

“Udah cukup?” tanya Sofi lagi

“Aduh gak cukup Sof..aku mundur lagi deh.”

“Udah??”

“Kurang dikit”

Alex mencoba mundur selangkah lagi, begitu juga Sofi. “Udah??”

Alex mundur satu centimeter lagi sambil melihat ke belakang, begitu juga Sofi tanpa melihat ke belakang. Krraaaaaaffffhhhh…

Alex membalikkan kepalanya, ia ingat bunyi khas itu. Seperti ketika tebing–tebing salju itu pecah di bawah snowboard–nya. Kraaaafffhh. Bunyi es yang terdengar patah dengan lembut.

“Sofiiiiiii…” lengking Alex sambil berlari secepatnya, sepatu snowboardnya membuat langkahnya jadi lebih lambat. Kupingnya terasa pengang, semuanya seperti dalam sebuah film yang bergerak lambat, tangannya seperti jadi begitu lemah tak sanggup meraih Sofi yang meluncur cepat ke bawah tebing.

Alex tak bisa melihatnya lagi ketika ia sampai ke ujung tebing. Hanya serpihan–serpihan salju putih dan asap–asap dari salju yang runtuh, mengaburkan pandangannya. Sesekali ia melihat satu titik hitam tampak jatuh tertarik gravitasi, menggelinding dan terpental–pental, seperti sebutir kerikil yang tak bernyawa.

Orang–orang di sekitarnya berteriak histeris. Udara yang begitu dingin membuatnya tak bisa bernapas, hampir–hampir saja ia jatuh pingsan. Hidungnya perih, matanya perih, kakinya perih, tangannya perih, ia tak bisa merasakan apakah jantungnya masih berdegup. Dingin beku hari itu di puncak gunung seperti membuat semuanya jadi beku.

Makan waktu yang cukup lama untuk bisa menemukan mayat Sofi, karena keadaan alam yang tidak memungkinkan untuk dijelajahi dengan anjing pelacak pun. Mereka harus menunggu berjam–jam sampai sebuah alat khusus harus didatangkan jauh–jauh dari kota tetangga untuk menciduk tubuh mungil itu. Tubuh Sofi tampak beku membiru. Ayah Sofi tampak menggayut tak bertenaga di atas bahu Alex, tak kuat lagi berdiri di atas kakinya sendiri.

Perawat yang menemani mereka di ruangan mayat harus menjauhkan ibu Sofi yang mulai menangis tersedu–sedu di atas jenazah putrinya. Semua orang mulai mencium pipi Sofi, mata atau bahkan sekedar menyentuh tangannya saja. Kecuali Alex yang hanya memandang bisu. Beku dan hening di tengah keramaian yang sedih. Sebuah sepi yang sering ia rasakan setelah snowboardnya terbang melalui tebing paling sulit. Tebing Sofi. ***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Klik! oleh yang terbit pada Sunday, 15 January 2006 di suarapembaruan. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Klik!

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Klik!

×