Dongeng Anak: Celengan Bambu

Dimuat di kompas-nusantarabertutur Edisi Sunday, 06 May 2018
Oleh - Dibaca: 12 kali -


Kakek Fauzi baru saja memotong bambu di belakang rumahnya di Indramayu, Jawa Barat. Dipotongnya bambu sesuai ukuran buku-bukunya. Rencananya akan diberikan kepada keempat cucu-cucunya, yaitu Zallumi, Zain, Ziyad, dan Zamit yang sedang menginap di rumahnya.

Bambu-bambu berukuran sekitar dua jengkal tangan itu lalu dilubangi seukuran koin uang seratus rupiah lama di permukaannya, lalu dicat dengan vernis sehingga tampak mengkilat warna bambu dan urat-uratnya yang bersulur-sulur.

“Untuk apa Kek bambu-bambu ini?” tanya Zamit penasaran.

“Bentuknya seperti kentongan, tetapi ini lebih bagus,” timpal Ziyad.

“Tapi kok lubangnya kecil, seperti lubang celengan?” tukas Zain sambil mencoba mengintip isi tabung bambu dari celah lubang itu.

“Ah, sepertinya Zain benar, ini celengan bambu, benarkan, Kek?” tanya Zallumi satu-satunya cucu kakek yang perempuan.

“Wah, kalian memang cucu-cucu Kakek yang pintar! Kakek sengaja membuatkan untuk kalian celengan bambu. Lihatlah, tidak kalah dengan celengan plastik yang dijual di pasar malam, kan?”

“Iya Kek, bagus. Lebih bagus bahkan,” puji Ziyad.

“Nah, mulai sekarang kalian harus belajar untuk menyisihkan uang saku kalian. Sehari lima ratus rupiah tak mengapa. Jika dikumpulkan selama setahun akan terkumpul uang sekitar seratus delapan puluh ribuan. Bisa membeli baju baru untuk lebaran nanti.”

“Benar, Kek,” jawab mereka hampir berbarengan.

Namun kemudian terdengar bisik-bisik dari mereka tentang celengan bambu.

“Ini Kek, menurut Zain apakah Kakek dapat mengajari kami membuat celengan bambu?”

“Tentu saja, Nak! Tapi untuk apa lagi, kan sudah Kakek buatkan untuk masing-masing?”

“Zamit punya usul untuk membuat celengan bambu dan kita berempat akan menjualnya.”

“Bagus sekali! Kalian sudah berpikir kreatif dan produktif. Ayo kita tebang lagi dan potong-potong bambunya!” seru Kakek Fauzi seraya mengambil golok dan gergaji.

Kini telah terkumpul puluhan tabung bambu. Keempat saudara itu bekerja sesuai dengan arahan Kakek Fauzi. Zallumy dan Zain membantu mengampelas, sedangkan Ziyad dan Zamit mengecatnya dengan vernis. Sementara Kakek membuat tali-temali yang dirajutkan dari anyaman bilah bambu sebagai pegangannya.

“Oh iya, kemana kalian rencananya akan menjual celengan-celengan itu?” kata Kakek  Fauzi.

“Ke teman-teman sekolah, Kek,” jawab Zamit.

“Iya, biar teman-teman juga ikut rajin menabung, sehingga menghindari pemborosan uang jajan,” timpal Ziyad.

“Betul, Kek. Biar kami dan teman-teman sudah biasa melatih hidup hemat sejak diri, sehingga saat besar nanti kami bisa hidup dengan sejahtera,” lanjut Zallumi.

Kakek Fauzi terharu dan bangga mendengar penuturan cucu-cucunya. *

PenulisFaris Al Faisal
Pendongeng: Paman Gery (IG: paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Dongeng Anak: Celengan Bambu oleh yang terbit pada Sunday, 06 May 2018 di kompas-nusantarabertutur. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Dongeng Anak: Celengan Bambu

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Dongeng Anak: Celengan Bambu

×