Cerpen Keluarga Anjing

Dimuat di riaupos Edisi Sunday, 16 September 2007
Oleh - Dibaca: 4 kali -


Pada suatu pagi aku terbangun dari tidur dan mendapati tubuhku berubah menjadi?

Kalimat pertama dari cerpen ?Methamorphosis?1 itu masih lekat dalam otakku. Sial, mungkin sekarang Kafka sedang terbahak di kuburnya menyaksikan tubuhku berangsur berubah menjadi anjing! Lihat, wajah gantengku yang dipuja para gadis ?juga para janda dan tentu saja tante-tante yang kesepian? berubah jelek seperti ini dan, ya ampun, kenapa lidah ini menjulur terus dan mengeluarkan bunyi yang menjijikkan. Lihat sprei mahal ini jadi basah kena air liurku. Aku jadi teringat istriku, hampir setiap malam ia mengeluarkan suara-suara yang menjijikkan seperti itu, dan jika pagi datang di bantal, guling dan selimut yang ia pakai akan terbentuk sebuah peta yang berasal dari air liurnya yang mengering. Uh mual rasanya.
Maka demi ketenanganku, aku minta ijin padanya untuk menempati kamar belakang sendiri. Di rumahku yang luas, kamar belakang dipisahkan kolam renang dan taman yang asri, pemandangan di situ nampak indah tapi jika malam datang suasana berubah menjadi sepi dan mencekam seperti tempat jin buang anak ?kebetulan di belakang rumah kami adalah komplek pemakaman umum?? dan tentu saja istriku yang gendut dan penakut itu tak mungkin sudi menyambangi kamar belakang.

Sebagai lelaki flamboyan dan playboy kelas kakap kesempatan itu tak kusia-siakan, di malam-malam sehabis ritual makan malam aku kembali ke kamarku. Mematikan lampu. Menunggu hingga jam berdenteng sepuluh kali ?sebuah tanda yang berarti istriku sudah terlelap? dan?Yoop, malam kebebasanku sebagai lelaki perkasa dimulai. Kadang aku terbang keluar kamar, mengarungi dunia malam yang gemerlap atau jika aku malas aku bisa memasukkan kuntilanak atau setan-setan perempuan yang tinggal di kuburan belakang untuk menemani tidurku sampai Subuh menjelang. Maklum suara azan Subuh pasti akan menghanguskan tubuh-tubuh mereka menjadi debu. Jadi dengan berat hati aku akan menyuruh mereka pergi. Sayang kan, tubuh mulus mereka hancur sia-sia padahal aku sangat suka mencium dan menjilati tubuh mereka yang wangi kembang itu.

Uuh, hidung ini susah sekali didiamkan, pengennya ngendus2 sana ngendus sini. Siapa sih orangnya yang pagi-pagi salah membaca mantera hingga aku berubah seperti ini?!? Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kesukaanku tadi, lalu Tuhan mengutukku menjadi anjing. Oh, betapa malangnya padahal apa yang aku lakukan adalah bentuk ketakjubanku pada ciptaan-Nya. Sungguh, aku selalu takjub melihat perempuan cantik dan seksi. Mereka itu kan ciptaan-Nya juga kan? Apa aku salah jika bentuk ketakjubanku itu adalah dengan menikmati kecantikan mereka? Apalagi mereka dengan ikhlas dan tanpa paksaan memberi apa yang aku mau. Atau jangan-jangan kutukan ini karena kegemaranku yang lain, yaitu mencium bau uang. Untuk yang satu ini, baiklah aku ceritakan suatu rahasia besar. ?

Sebagai seorang pejabat di suatu departemen milik pemerintah (sttttt, jangan banyak tanya, aku yakin kau sudah sangat tau apa yang kumaksud) menjadi suatu kewajaran jika aku harus memiliki keterampilan khusus, yaitu mencium bau uang. Keterampilan ini aku? pelajari secara otodidak meskipun banyak guru-guru hebat yang dengan sukarela mau membagikan ilmunya. Tapi karena kecerdasanku dan bakat alam yang aku miliki, hal itu bukanlah suatu yang sulit. Aku cuma perlu menyorongkan hidungku dan melatih ketajaman penciumanku. Seperti hidung anjing pelacak tapi yang aku cium adalah jejak-jejak uang. Aku tahu dimana ada uang, meskipun letaknya sangat tersembunyi bahkan jika uang tersebut belum berbentuk. Wah, aku sangat jago dalam hal itu. Lihat saja, aku bisa mencium bau uang dibalik surat ijin, perda, undang-undang dan berjuta peraturan lainnya. Hebat kan?

Sebetulnya itu belum seberapa, aku masih punya keterampilan yang lain yaitu bermain sulap. Untuk yang ini aku harus berguru dengan seorang master sulap yang kini sudah sepuh3 dan hanya bisa duduk di kursi rodanya (ah, jangan kau tanyakan siapa dia. Nanti kau tergoda pula untuk berguru padanya). Pelajaran pertama yang kukuasai adalah menyulap benda-benda di depanku menjadi uang. Awalnya cuma benda kecil-kecil seperti handphone, tv, radio. Tapi sekarang aku sudah ahli menyulap yang besar-besar. Contohnya ketika aku sedang traveling di hutan-hutan Riau, iseng aku menyulap satu pohon menjadi uang eh ajaib ia bisa berubah, lalu aku menyulap satu lagi, berhasil. Lagi dan lagi, hingga sekarang entah sudah berapa pohon yang aku sulap. Mungkin kau bisa cek nominalnya di rekening pribadiku di salah satu bank di Swiss.

Eh, ngomong apa aku ini. Gila, seharusnya aku bersedih atas musibah yang menimpa tubuhku ini. Sedih? Bagaimana itu? Aku sudah lupa rasanya. Oh ya aku ingat ketika negeri kita yang kaya ini ditimpa musibah yang beruntun? aku harus pasang muka sedih kalau perlu menangis sesunggukan dan disiarkan di seluruh tv di dunia (sttttt, ternyata ada satu lagi keterampilanku!). Lalu, ajaib air mataku dan air mata orang-orang yang tertimpa musibah berubah menjadi uang. Yah, meskipun tak banyak tapi mampu menambah panjang deretan angka-angka di rekening bank milikku. Tapi, sekarang aku adalah seekor anjing. Bagaimana cara anjing bersedih? Apa aku harus melolong, ah jangan, nanti seluruh penghuni rumah tahu keberadaanku. Sukur kalau mereka tau bahwa anjing itu adalah aku, tapi kalau tidak bisa-bisa aku diusirnya dikira anjing liar. Hiii, aku tak bisa membayangkan bergaul dengan anjing-anjing kurapan di luar sana, kotor dan dekil. Belum lagi kalau aku harus berebut tulang dengan sesama anjing, begitu kan cara hidup di alam binatang? Ehm aku jadi malu, meskipun saling rebut itu kehidupan di dunia binatang tapi pada dasarnya bangsa manusia juga melakukan itu.

Aku sendiri heran, dunia kok jadi jungkir balik begitu. Di tengah dunia manusia yang katanya beradab itu, masih berlaku hukum rimba, yang kuat memangsa yang lemah, yang besar memangsa yang kecil. Jadi tidak salah kan kalau aku punya prinsip memangsa daripada jadi mangsa. Itu survive namanya bung! Aduh jadi pengen pipis nih, bagaimana ya cara anjing pipis? Uhh, sulit sekali mengangkat sebelah kakiku. Aduh mana gak bisa ditahan lagi ni, aduh?. aduh ??aaah, lega. Dasar anjing karbitan, ujung tempat tidurku yang berukir itu basah terkena urine ku yang kekuning-kuningan. Aku harus bertindak cepat ni, bagaimana pun aku tak mau menjadi anjing. Aku bukan Gregor Samsa, selesman yang bodoh itu. Tapi bagaimana ya caranya? Apa aku harus memanggil Deddy Cobuzier atau Ki Joko Bodo sekalian. Ah, bagaimana pula cara memanggil mereka, suara yang keluar dari mulutku ini hanya berupa gonggongan pasti mereka tidak paham apa yang kumaksud. Benar-benar pagi yang sial.

Sebentar lagi isteriku pasti akan menggedor pintu kamar dan para pembantuku akan datang dengan membawa jas dan seperangkat alat kerjaku. Bagaimana jika mereka hanya menjumpai anjing di kamar ini. Isteriku pasti akan memekik ketakutan sebagaimana ia melihat kecoa merayap di kakinya. Dan para pembantuku pasti akan menangkapku, lalu membawaku di tempat penjagalan hewan dan dagingku mereka sate beramai-ramai. Oh, lelaki yang malang?tamatlah riwayatku.

?Papi?papi, bangun!! Jangan lupa transfer duit ke rekening mami, credit card mami sudah low. Nanti siang kawan arisan ngajak shooping ke Singapura, lagi ada big sale nih??

?Papi, belikan Jaguar keluaran terbaru ya. Siang ini sudah harus ada. Ntar malem, Boby mau kencan dengan Katy. Pi?jangan lupa ya?awas kalau lupa!!?

Gubrakkk

?Papi????

?Mami, Boby????
Lalu kami berpelukan. Mengibas-ibaskan ekor kami dan saling menjilat satu sama lain. Sungguh sebuah keluarga yang harmonis. ***

Pekanbaru, Agustus 2007

Catatan:
1.?The Metamorphosis? (1915) Karya Franz Kafka (1883-1924).
2(Jawa) = mencium (untuk anjing)
3.(Jawa) = tua

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Keluarga Anjing oleh yang terbit pada Sunday, 16 September 2007 di riaupos. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Keluarga Anjing

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Keluarga Anjing

×