Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah

Dimuat di suarapembaruan Edisi Sunday, 16 September 2007
Oleh - Dibaca: 5 kali -


satu

(Dinda, Bunda Dinda )

**Ayah di mana,Bunda?”

“Ayah ada di mana-mana, Dinda.”

“Di mana-mana, Bunda?”

“Maksud Bunda, Ayah tetap ada di hati Dinda, meski Ayah Dinda tidak sedang di sini.”

“Tapi Dinda ingin dipeluk Ayah Bunda.”

“Berdoa saja biar Ayah Dinda cepat pulang.”

“Berdoa Bunda?”

“Iya. Berdoa kepada Tuhan agar Ayah Dinda cepat bisa cepat pulang.”

“Memang Ayah Dinda ke mana, Bunda?”

“Ayah Dinda sedang ke luar daerah.”

“Untuk apa, Bunda?”

“Mencari uang yang banyak buat Dinda.”

“Mencari uang kenapa harus di luar daerah Bunda?”

“Karena di tempat kita, masih perang Dinda.”

“Kalau perang Ayah tidak bisa mencari uang ya, Bunda?”

“Iya. Ayah Dinda takut tertembak kalau harus mencari uang di sini, Dinda.”

“Dinda dan Bunda nggak takut tertembak Bunda?”

“Kita kan tidak keluar rumah untuk mencari uang, Dinda.”

“Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?”

“Bunda… Bunda melamun ya?”

“Eh..Eh….”

“Bunda teringat Ayah, ya?”

“Bunda rindu dengan Ayah, Bunda?”

“Bunda….”

“Iya Dinda, Bunda rindu dengan Ayah.”

“Apa yang Dinda tanyakan tadi?”

“Hhm… Ayah Dinda kapan pulang, Bunda?”

“Nanti. Kalau sudah waktunya.”

“Bunda kok nangis?”

“Nggak apa-apa Dinda sayang. Mata Bunda perih saja.”

“Bukan karena teringat Ayah, Bunda?”

“Bukan Dinda. Mata Bunda cuma perih saja. Ini Bunda tidak lagi menangis, kan?”

“Bunda.”

“Iya Dinda sayang.”

“Kita susul Ayah ke luar daerah, Bunda yok!”

“Tidak bisa Dinda. Kita tidak tahu alamat Ayah.”

“Kita bisa tanya pada orang-orang, Bunda.”

“Mereka tidak tahu Dinda.”

“Tapi Dinda rindu sekali dengan Ayah, Bunda… Dinda ingin dipeluk Ayah, Bunda…”

“Bunda juga rindu Dinda… Dinda jangan nangis ya… Kan masih ada Bunda yang bisa memeluk Dinda.”

*

Dua

(Dinda)

Bunda, Ayah di mana Bunda? Di mana Ayah, Bunda? Ayah, Dinda rindu sekali dengan Ayah. Rindu sekali Ayah. Ayah di mana? Dinda ingin sekali dipeluk oleh Ayah.

Bunda, Dinda merasa ada banyak hal yang Bunda sembunyikan dari Dinda. Ada apa sebenarnya, Bunda? Ke mana sebenarnya Ayah Dinda, Bunda?

Bunda, Dinda sering sekali melihat Bunda menangis sewaktu Dinda menanyakan tentang Ayah. Meski Bunda beralasan ini-itu, tapi Dinda tahu, Bunda menangis karena Ayah.

Apa maksud tangisan Bunda? Apakah tangisan itu sama artinya dengan tangisan Dinda, Bunda? Tangisan itu untuk melepas kerinduan yang terlalu besar, Bunda? Karena lama sekali tidak berjumpa dengan Ayah.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta

Begitukah maksud dari setiap tangisan Bunda? Begitu kah, Bunda? Jika begitu Bunda, syukurlah…

Bunda, Ayah Dinda di mana? Ayah Dinda, di mana Ayah sekarang? Kapan pulang? Jangan takut perang Ayah. Dinda saja tidak takut. Selama kita tidak salah Ayah, kita tidak akan apa-apa…

Ayah, Dinda rindu. Rindu sekali…

*

Tiga

(Bunda Dinda )

Dinda sayang, maafkan Bunda bila harus menyembunyikan hal ini terus menerus dari Dinda. Bunda tidak tega melihat anak Bunda terguncang hebat bila mengetahui kenyataan yang sebenarnya kelak.

Bunda tidak ingin melihat Dinda menangis. Melihat Dinda bersedih. Bunda sayang sekali dengan Dinda. Bunda ingin melihat Dinda bahagia. Cukup Bunda saja yang tahu. Dinda masih terlalu dini untuk merasa segala penderitaan.

Dinda, tujuh tahun yang lalu, waktu itu Dinda sama sekali belum mengerti apa artinya seorang Ayah. Ayah Dinda meminta izin dengan Bunda untuk pergi ke luar daerah.

Setelah itu tahun-tahun berlalu Bunda habiskan dengan penantian. Tapi penantian itu belum berujung dengan perjumpaan. Namun Bunda memaklumi, sebab perang di tanah kita belum reda sedikit pun, pasti Ayah Dinda belum berani untuk kembali bersama kita.

Maka Bunda terus menanti dengan segala harapan bahwa Ayah Dinda akan kembali.

Hingga suatu sore itu Dinda, Bunda ingat sekali, sore itu langit mendung-mendung hitam, Bunda kedatangan seorang tamu. Tentu saja Bunda kenal kenal baik tamu itu. Ia Ibrahim. Kawan karib Ayah dinda yang bertahun-tahun juga tak pulang ke kampung halaman.

Tapi Dinda, Ibrahim membawa kabar yang sama sekali tidak Bunda inginkan dengar sebenarnya. Tetapi Bunda tidak dapat mengelak dinda. Kata Ibrahim, Ayah Dinda telah tiada.

Setelah itu Bunda tidak selera sama sekali untuk makan-minum. Sementara kamu Dinda, kamu masih terlalu kecil waktu itu. Dinda belum mengerti apa-apa.

Ibrahim memang ingin membantu Bunda melawan derita hidup selanjutnya. Ia mengajak Bunda untuk menjadi istrinya. Tapi biar dipaksa, Bunda enggan. Bunda tidak bisa melupakan Ayah Dinda dalam tempo cepat

Maafkan Bunda Dinda atas segala kebohongan ini. Tapi Bunda janji, bila Dinda sudah lebih besar nanti, kelak Bunda akan berterus terang perihal Ayah Dinda.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Sumirah

*

Empat

(Dinda, Bunda Dinda , Inayah)

“Dinda kenalkan, ini Om Inayah,”

“Siapa dia, Bunda?”

“Salam dulu, nanti Bunda jelaskan.”

“Dinda, Om.”

“Panggil Om Inayah ya, sayang.”

“Siapa Om itu, Bunda?

“Sebentar Mas, ya?”

“Siapa Om itu, Bunda?”

“Dinda, kamu harus mengerti Bunda, ya, sayang.”

“Iya Bunda, tapi bilang dulu ke Dinda, siapa Om itu?”

“Dia calon Ayah Dinda yang baru.”

“Apa Bunda?! Calon Ayah Dinda yang baru?”

“Iya sayang.”

“Nggak mau Bunda! Bunda mau Ayah Dinda!”

“Dinda, Ayah Dinda belum bisa pulang bersama kita.”

“Sampai kapan Bunda?”

“Bunda juga tidak tahu sayang, makanya sekarang, Bunda cariin Dinda Ayah baru.”

“Tapi Bunda ingin Ayah Dinda, Bunda…”

“Kalau Ayah Dinda pulang nanti, kita akan kembali dengan Ayah Dinda, sayang.”

“Benar Bunda?”

“Benar sayang.”

*

Lima

(Dinda)

Bunda, Om Inayah yang Dinda panggil Ayah sekarang, sangat baik Bunda. Ayah Inayah penyayang sekali dengan Dinda. Dinda suka diceritakan cerita pelanduk yang pintar. Dinda juga setiap pagi diberi uang jajan. Kadang Ayah Inayah malah menjemput Dinda di sekolah Dinda, Bunda.

Tapi Bunda, maafkan Dinda, karena Dinda masih merindukan Ayah Dinda yang sebenarnya. Akhir-akhir ini, Dinda sering sekali bermimpi dengan Ayah. Tapi Bunda, Ayah kenapa kelihatan murung di dalam mimpi Dinda ya, Bunda? Apa Ayah marah karena Dinda sudah punya Ayah Inayah sekarang, ya?

Bunda, Ayah Inayah belum bisa membuat Dinda melupakan Ayah Dinda, Bunda. Dinda masih merindukan Ayah Dinda. Di mana Ayah Dinda, Bunda? Kapan Ayah pulang agar kita bisa kembali bersama-sama?

Ayah, di mana? Tahukah Ayah kalau Dinda rindu sekali?

*

Enam

(Dinda, Bunda Dinda, Ayah Inayah, dan Ayah Dinda)

“Timaahh…Timaahh….”

“Dindaaa….Dindaaaa…”

“Siapa di luar, Bundaa…?”

“Bunda nggak tahu sayang… coba Dinda tengok ya…”

“Timaahh… Dinda….”

“Saya Ayah kamu, nak…”

“Ayah Dinda?”

“Iya, sayang,”

“Ayah Dinda yang sebenarnya?”

“Iya Dinda sayang,”

“Ayaahhhh…. Ayah Bundaaa…”

“Siapa Dinda? Ayah yang manaaa…?”

“Ayah Dinda, Bundaaa…”

“Apa kabar anak Ayah?”

“Ayah ke mana aja? Dinda rindu sekali dengan Ayah.”

“Ayah juga rindu dengan Dinda. Bunda di mana, sayang?”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Klik!

“Bunda cepat keluaarr…”

“Bang Tafa.”

“Betul kan ini Bang Tafa?”

“Iya Timah, abang kembali. Maaf lama tak pulang-pulang.”

“Bukankah abang sudah…?”

“Sudah apa Timah?”

“Bunda dan Ayah bisikin apa sih? Dinda kok nggak diajak bisik?”

“Yang benar?! Buktinya abang masih hidup.”

“Ibrahim kawan abang yang bilang.”

“Ah, si Brahim, membual saja kerjanya. Berjumpa saja aku tak pernah dengan dia.”

“Bunda, Ayah Inayah suruh cepat keluar dari kamar mandi biar bisa melihat Ayah Dinda,”

“Ayah Inayah?”

“Iya Ayah. Kata Bunda, sambil menunggu Ayah pulang, Dinda dicariin Ayah baru dulu oleh Bunda. Tapi kalau Ayah sudah pulang, Ayah Inayah akan pergi kok! Betulkah begitu, Bunda?”

“Timah! Tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?

“Aku menikah lagi dengan Inayah beberapa bulan yang lalu.”

“Tega sekali kamu Timah kepada abang.”

“Aku pikir surat itu benar bang.”

“Mengapa tak menunggu abang sebentar lagi?”

“Abang sendiri mengapa tak pulang-pulang? Abang ingin beralasan sebab perang belum reda? Lantas, bagaimana dengan Dinda dan aku?”

“Abang…e..e…Abang…”

“Ayah dan Bunda lucu. Jumpa pertama langsung berantem. Orang dewasa lucu-lucu, ya?”

“Siapa lelaki ini, Dek Timah?”

“D-Di-dia..Dia…Mas…”

“Aku yang pantas bertanya hai laki-laki brengsek, siapa kamu hingga berani memasuki rumahku?”

“Dek Timah! Tolong jelaskan siapa lelaki ini?”

“Dia mantan suamiku, mas.”

“Timah! Abang belum pernah menceraikanmu!”

“Tapi aku sudah menganggap kamu tidak ada lagi bang!”

“Bunda, Ayah, Ayah Inayah, sedang ngomong apaan sih? Dinda kok nggak ngerti?”

“Gara-gara kamu lelaki brengsek! Tega sekali kamu merebut istri orang, ya?!”

“Dek Timah memperkenalkan diri sebagai janda bung!”

“Apakah aku salah bang?!”

“Ayah…Ayah mau ke mana?”

“Ayah harus pergi lagi sayang.”

“Ayah…Ayah jangan pergiii…Dinda masih rindu dengan Ayah…”

“Ayaahh…..”

“Aku ceraikan kamu, Timah!”

“Mas?”

“Aku tak mau dibilang lelaki perebut istri orang.”

“Tapi mas?”

“Bunda, Ayah Bundaa….Ayaaahhh….”

*

Tujuh

(Dinda, Bunda Dinda )

“Ayah Dinda ke mana, Bunda?”

“Sudah pergi Dinda, sayang.”

“Kapan pulang?”

“Bunda tidak tahu, sayang.”

“Ayah kok pergi lagi ya, Bunda?”

“Bunda tidak tahu.”

“Ayah Inayah ke mana, Bunda?”

“Sudah pergi Dinda, sayang.”

“Kapan pulangnya, Bunda?”

“Bunda tidak tahu Dinda.”

Ayah, Dinda rindu sekali.***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah oleh yang terbit pada Sunday, 16 September 2007 di suarapembaruan. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah

×