Cerpen Si Pemabuk itu Bertobat

Dimuat di suarakarya Edisi Saturday, 15 September 2007
Oleh - Dibaca: 6 kali -


SI PEMABUK itu kini tampak sungguh-sungguh bertobat. Sarung hitam berlurik kotak-kotak melilit tubuhnya, piyama (kau menyebut baju koko) dan peci-semuanya berwarna putih mempermanis kehadirannya di mesjid ini.

Pada shaf ketiga di sudut kiri, ia bergeming. Pandangnya tak jalang, tatapnya tiada nyalang. Lurus ke bawah, persis pada sajadah di mana keningnya rebah saat sujud. Tak ada yang peduli pada si pemabuk itu-ia tampak kini sungguh-sungguh bertobat-yang setiap jamaah mesjid ini tahu padanya; mengenal siapa lelaki itu secara akrab seperti tahu pada diri sendiri. Si pemabuk itu terkenal amat karib berulah. Meski semua orang juga tahu kalau ia telah melunasi rukun kelima dari rukun Islam.

“Tapi sepulang dari Mekah bukan benar-benar tobat, tapi malah banyak bikin maksiat,” sindir jamah yang juga masuk dalam jalajan pengurus mesjid. Ia lalu menggelari si pemabuk itu sebagai tomat: pergi ke Mekah karena tobat dan pulang kembali maksiat. “Haji tomat. Mau pergi tobat, sepulang haji malah kumat,” sahut yang lain.

Si pemabuk itu acuh pada gunjingan tetangga, apatah lagi jemaah mesjid yang acap meliwati warung Ali tempat ia biasa nongkrong menenggak alkohol. Ia juga tetap bergeming meski terlalu sering orang yang bergunjing sampai ke telinganya. Ia berpikir, selagi ia tak meminta uang atau memeras orang lain, tak jadi soal benar gunjingan itu. Kata guru mengajinya waktu ia kecil masih selalu diingatnya dan tak akan pernah hilang dalam kenanganya: “Lebih baik pemabuk yang kemudian bertobat sehingga disebut bekas pemabuk, daripada bekas ustad karena tergelincir ke lubang maksiat.”

Guru mengajinya yang lain (maklum ia kerap berganti guru mengaji karena alasan bosan atau ingin banyak menimbu ilmu agama dari banyak guru) pernah bercerita lalu menyimpulkan: “Seorang pelacur akhirnya dimasukkan ke surga oleh Tuhan hanya karena ia telah menolong seekor anjing yang nyaris mati kehausan.”

Pada hari lain, guru mengaji yang lain lagi, juga bercerita di sela jeda anak-anak istirahat mengaji, bahwa pernah terjadi di zaman nabi seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang lalu ia bertobat. Akan tetapi, sebelum ia sempat memasuki mesjid ia meninggal. Lalu malaikat menghitung jumlah langkah dari pertama kali ia berniat untuk bertobat dengan jarak mesjid. “Ternyata pembunuh itu lebih dekat pada mesjid saat Tuhan mengambil nyawanya. Jadi, Tuhan tak pernah alpa dan lalai mencatat setiap niat seseorang. Mereka itu mati dalam keadaan khusnul khotimah. Tahu artinya khusnul khotimah?” ustad mengajukan pertanyaan. Hanya si pemabuk yang tahu artinya dan menjawab: “Meninggal dalam keadaan (berbuat) baik, Ustad!”

Ustad mengangguk. Tersenyum. Sebatang lidi yang semula tegak dan siap mengelus kulit para santri kembali ditarik dan diletakkan di sebelah ustad. Semua santri riang-gembira. Tapi, para santri tak bisa mengerti, menginjak remaja sahabatnya itu lupa pada khalaqoh, tak pernah lagi membuka Alquran, enggan bersarung dan berpeci. Apalagi begitu ia merantau ke kota dan beristri perempuan kota, kemudian mengambil rumah di kompleks perumahan sangat sederhana (RSS). Mungkin karena acap bergaul dengan orang-orang kota ia pun sudah melupakan aroma kampung, tempat pengajian, bahkan juga surau yang memang sulit ditemui di kota besar.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Abang Yun

“Kau sudah sangat lain sekarang,” tukas sohibnya di kampung dan bersama-sama belajar mengaji dengan ustad Mustofa Bisri. “Jangan-jangan di rumahmu sudah tak lagi menyimpan Alquran?”

“Ini kota besar, kawan!” ia menyela. “Kalau aku masih tinggal di kampung, sudah lama aku mati. Mungkin kau hanya ingat namaku, tapi tak pernah melihatku lagi. Aku akan mati kelaparan!”
“Apakah begitu, semua orang kota berpikiran seperti itu?” sohibnya berujar.
Ia diam. Kembali menenggak air alkohol dalam seteguk habis.
“Sudahlah, tak perlu berkhotbah. Kalau kau mau, silakan minum pula.”

“Kalau cuma minum, jangankan sebotol tapi sepeti pun aku bisa habiskan tanpa mabuk. Tapi apa untungnya bagiku?” tantang sohibnya, kemudian ingin beranjak. Tetapi, si pemabuk memegang kerah baju sohibnya itu dari belakang. Ia hendak meninju wajah temannya, tapi rekannya semasa kecil lebih cepat memuntahkan tinjunya ke wajah si pemabuk hingga terhuyung. “Selamat menikmati perihmu itu, dan itu belum seberapa”

Ia tak dendam. Meski sejak itu ia tak lagi berjumpa sohibnya semaca kecil dan sama-sama berguru dengan ustad Mustofa Bisri, Haji Zawawi, dan Kiyai Kromo.

* * *

SI PEMABUK itu ternyata sudah berkali-kali menginap gratis di balik jeruji. Keluar masuk bui karena mabuk maupun digaruk saat berpesta di rumah bordil sudah jadi langganannya. Tetapi, ya tetapi, ia tak pernah jera. Apalagi kemudian ia berkawan dengan keponakannya yang wartawan-juga pemabuk-dan “menguasai” beberapa tempat hiburan malam, makin jauh saja ia pada kehidupan surau. Kehidupannya menjadi-jadi. Kacau. Ia memilih hidup menggelandang setiap malam daripada pulang menemui istrinya dan berpelukan. Hingga 20 tahun ia berumah tangga, belum juga dikuriania anak.

Itulah yang menyebabkan ia merasa kesepian jika tinggal di rumah. Hanya istrinya yang mulai tua dan tak lagi menarik wajahnya seperti saat ia sunting dulu yang menemaninya.. “Mungkin ia kecewa pada rumah tangganya,” seloroh tetangga sebelah rumahnya.
“Ia bermabuk-mabuk karena ingin lari dari kenyataan!”
“Tapi itu salah, ia tak bisa bersembunyi dari realita!”
“Mungkin juga baginya itu yang membahagiakannya.”
“Cuma, cara seperti itu jelas semu.”
“Ya.” Yang lain mengangguk.

* * *

SI PEMABUK itu yang telah menenggelamkan nama sesungguhnya yakni Aulianuddin, kini membuat semua orang di kompleks perumahan itu terpengarah. Pada Ramadhan tahun ini ia sambangi mesjid setiap jelang Isya hingga usai tarawih. Bersarung hitam lurik kotak-kotak, berpiyama dan berpeci warna putih, tak ketinggalan pula sorban ala pejuang Palestin melilit lehernya hingga ke dada.

Ia tampak khusyuk. Tidak pernah berpaling ke kiri dan kanan, kecuali untuk mengucap salam setiap habis rakaat terakhir. Setelah itu ia kembali tenggelamkan wajahnya ke bawah, jemarinya bergerak bagai menari di antara biji-biji tasbih, bibirnya bergerak meski amat lambat. Ia pasti sedang berzikir. Menyebut asma-asma Allah. Usai tarawih, ia pun keluar mesjid tanpa menyapa siapa pun.
“Syukurlah kalau ia sudah bertobat.”
“Semoga ia khusnul khotimah.”
“Husts,” seseorang mengingatkan. “Pak Aulianuddin itu masih jauh bau tanah. Ia masih muda!”
“Aku tak mendoakan dia cepat mati.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Meniti Sepi Menanti yang Pergi

Si pemabuk itu bergeming pada bisik-bisik jamaah mesjid. Ia acuhkan semua gunjingan. Ia berpikir, ia tak mengganggu orang lain. Ke mesjid itu ia hanya ingin salat berjamaah, bukan mengemis atau merampas pahala jamaah lain. Ia hendak mengadu, selain mengenang masa anak-anak di kampung saat bulan Ramadhan ia habiskan waktu malamnya di surau: tarawih, tadarus, solat wajib, dan amal sunah lainnya.

“Kadang aku juga rindu suasana seperti di kampung dulu, apakah salah?” ia beralasan ketika Ali-pemilik warung rokok dan minuman alkohol di sudut gang-merasa heran ketika melihat perubahan dirinya. “Suatu ketika, entah kapan, kau pun akan mengalami hal yang sama. Apakah kau salah?”
“Tidak juga.”
“Karena itu, apa yang kulakukan ini benar kan?”
“Benar. Sangat benar,” cetus Ali. “Hanya saja, abang cepat sekali berubah. Itulah yang membuatku terheran-heran.”

“Kau tak pernah mendengar cerita tentang orang yang telah membunuh 99 orang lalu ketika hendak menggenapkan 100 orang ia tobat, tapi sebelum ia mewujudkan niatnya dengan perbuatan ke 100 ia keburu mati. Malaikat pun menghitung langkahnya, ternyata ia lebih dekat pada perbuatan baik maka ia pun dimasukkan ke surga. Begitu pula kisah seorang pelacur yang telah menolong seekor anjing kehauasan, maka karena kebaikannya itu terhapuslah dosa-dosanya.”
“Ah!” Ali hanya mendesah. Mungkin terpana, mungkin pula tak percaya.

* * *

PADA malam ke 11 tarawih, kami kehilangan si pemabuk. Ia tak terlihat di shaf biasa ia solat. Hampir setiap jamaah yang tahu dan mengenal Aulinuddin mencari-cari. Saling berpaling ke kiri-kanan atau pun belakang, sudut kanan mesjid. Tapi tetap tiada. Si pemabuk itu dipastikan tak lagi ke mesjid untuk berjamaah salat Isa dan tarawih.
Ke mana gerangan? Jamaah mesjid bertanya-tanya.

Usai tarawih salah seorang jamaah menyambangi warung Ali, bertanya apakah melihat si pemabuk. Ali hanya menggeleng. Ia mengaku tak melihat si pemabuk itu. Bahkan ia mengira, Aulinuddin di dalam mesjid: masih bertasbih ataupun tadarus. “Tadi ia berbuka puasa di sini, lalu saya tak tahu ke mana ia pergi.”
“Apa ia bersarung dan berpeci?” selidik jamaah mesjid ingin tahu lebih jauh.
“Hanya pakai kopiah.”
“Ohhh”

Tiba-tiba Ali menuding telunjuknya. “Itu dia Bang Aulia!” kemudian ia memanggil, “Bang Bang Aulia, sini, dari mana?!”
Si pemabuk itu mendekat. Wajahnya tetap tertunduk.

“Ada apa? Memangnya mengapa?” ia balik tanya begitu dekat. Kini wajahnya tegak. Menatap Ali dan salah seorang jamaah mesjid yang tadi mencarinya.

“Ah, tidak. Tidak apa-apa, cuma kami merasa kehilangan, ketika bang Aulia tidak tarawih di mesjid. Mungkin abang sibuk di kantor atau ada kerjaan di rumah?” jawab jamaah mesjid.

“Hanya itu?” sinis si pemabuk. “Saya pikir, saya bukanlah apa-apa dan tak memberikan apa pun sebagai jamaah. Saya tak dihitung jika datang, dan tak merasa hilang kalaupun absen. Saya hanyalah si pemabuk yang mengemis untuk diakui telah bertobat. Tetapi tak satu pun jamaah yang acuh, bahkan saya merasa dikucilkan. Layaknya seekor anjing kudis yang lapar dan haus di dekat bak sampah yang telah kosong karena baru saja diangkut isinya ke dalam truk. Dan anjing itu nyaris mati karena kelaparan dan haus, tapi tak satu pun manusia yang peduli”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Meniti Sepi Menanti yang Pergi

“Begitukah abang mengganggap kami?” suara jamaah masjid itu bergetar. “Abang salah terka, abang terlalu jauh menafsir. Bahkan kami tak hendak membuat bang Aulia tersinggung lalu tak hendak lagi ke mesjid jika kami menyapa atau mengacuhkan, maka itu kami seperti mendiamkan abang.”

“Saya merasa tak ada artinya di hadapan jamaah. Saya merasa diri saya sangatlah kotor, pendosa, yang tak pantas beriba lagi. Semua mata jamaah saya rasakan selalu menujah dan menguliti seluruh isi yang ada di dalam tubuh saya. Seakan hendak menghakimi saya,” katanya. “Padahal Tuhan saja tak memedulikan apakah yang datang padanya hamba yang kotor dan pendosa, karena di hadapan Tuhan hanyalah niat, iman, dan keikhlasan untuk beribadah. Dan, saya sudah niatkan untuk beribadah. Saya hanya pertaruhkan iman saya di hadapan Tuhan, saya pun sudah ikhlas untuk berserah semata kepada-Nya. Tapi.”

“Abang salah kalau berpikiran seperti itu. Abang sudah terlalu jauh menafsir, tapi sayang tidak tepat dan malah berakibat suudzon. Percayalah bang, kami tak seburuk apa yang disangkakan abang. Kalau kami begitu takabur namanya, kami juga merasa tak lebih bersih dan suci dibanding abang.”
“Tapi.”

“Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga, ia masih selalu beribadah dan berdoa meminta agar di masukkan surga. Itu artinya, sebagai manusia, ia meyakini pernah khilaf dan silaf. Apalagi kita yang hanya pengikutnya, yang jauh dari sahabat atau orang-orang salaf,” tekan jamaah mesjid itu meyakini si pemabuk itu.

“Tapi, saya sudah merasa menemukan apa yang saya idamkan sebagai jamaah bukan di mesjid ini, melainkan di mesjid seberang. Meski saya harus mengayunkan kaki saya sejauh 2.000 meter tak jadi masalah, semoga itu tabungan untuk menambah amal saya. Saya meyakini setiap perbuatan mesti selalu dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan, mungkin sebagai jihad saya di jalan-Nya, insya Allah”

“Amin,” imbuh jamaah mesjid. Tiba-tiba ia melihat tubuh si pemabuk itu tampak layu dan pipih. Dan, ia terlambat bergerak untuk menahan tubuh yang berdiri di depannya itu ketika luruh. Tubuh pemabuk itu terjerembab, menggelepar sekejap dan diam.

Semua orang tahu bahwa pemabuk itu belakangan sering sakit-sakitan. Ia komplikasi: paru-paru, darah tinggi, terganggu jantung, dan ginjal. Ali segera menyetop angkutan kota. Beberapa orang menggotong dan menaikkan si pemabuk ke atas mobil. Yang lain mengabari istri si pemabuk di rumah agar menyusul ke rumah sakit. Jamaah tarawih yang baru keluar dari mesjid berkerumun, saling tanya dan saling jawab. Cuma, sepertinya mereka sepakat-setidaknya doa dan pengharapan mereka-meski Aulianuddin mati di depan warung tempat biasa mabuk, nasibnya sama dengan kisah pembunuh 99 orang maupun pelacur penolong seekor anjing. ***

* Lampung, 27 September 2006; 00.33
(revisi 12 September 2007; 21.30

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Si Pemabuk itu Bertobat oleh yang terbit pada Saturday, 15 September 2007 di suarakarya. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Si Pemabuk itu Bertobat

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Si Pemabuk itu Bertobat

×