Nagabumi III #314 Sergapan Malam di Tengah Hujan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Wednesday, 13 May 2015
Oleh - Dibaca: 15 kali -


KAMI putuskan untuk menyusup ke dalam Taman Terlarang setelah gelap untuk menyatroni keberadaan Harimau Perang. Kukira kami memang tidak bisa lagi menunggu. Selama ini Harimau Perang seperti selalu selangkah berada di depan kami, jadi sebaiknya kami jangan memberinya peluang bernapas dan apalagi berpikir.

”Berangkatlah,” ujar salah satu dari para padri Kaum Muhu di kuil itu, yang menggantikan Padri Das sebagai kepala kuil. ”Kami telah mengirim utusan ke setiap Kuil Muhu di Chang’an meminta mereka agar mengirimkan padri pengawal mereka yang terbaik kemari untuk menjaga gadis bisu-tuli ini.

”Sebetulnya kami juga ingin memburu sendiri pembunuh dua padri Muhu ini, tetapi kami mengetahui bahwa pada tahap ini sebaiknya kami mendukung saja perburuan yang sudah dirintis oleh Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Panah Wangi.”

Kalimat yang sopan ini kurasa tidaklah setenang tampaknya. Apalagi setelah para padri pengawal yang disebutkan itu segera tiba sebelum gelap. Sebagai kuil asing, tidak banyak kuil Kaum Penyembah Api di Chang’an sehingga hanya terdapat tiga orang padri pengawal.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #202 Sang Buronan dalam Penyamaran

Sepintas lalu ketiganya seperti padri biasa, tetapi setelah jubah padrinya yang hitam mereka buka, terlihatlah ketiganya sebagai petarung yang tangguh. Ketiga padri pengawal yang tegap dan tinggi ini mengenakan serban, wajahnya berbulu dan bersenjatakan dua pedang yang saling bersilang di punggungnya. Di balik jubahnya saling bersilang sabuk pisau terbang, dan pada ikat pinggangnya kulihat kantung-kantung bola peledak yang sangat kuat, sehingga tidak akan meledak apabila terkena tendangan lawan dalam pertarungan, di samping terdapat pula kait bertali tergulung rapi yang akan sangat berguna dalam penyusupan.

Namun bukan kelengkapan persenjataannya yang membuatku terkesan, melainkan sikap rendah hati dan kematangannya sebagai padri yang tetap terjaga, meski pada sekujur tubuh mereka terlihat begitu banyak bekas luka sebagai penanda atas pengalaman bertarung mereka yang panjang. Kedudukan Kaum Penyembah Api sebagai kelompok kecil, bahkan diresmikan sebagai agama asing di Negeri Atap Langit, dan terutama di Chang’an, agaknya mengundang tekanan dan penindasan kelompok-kelompok besar sampai kepada taraf membutuhkan pembelaan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #240 Wajah yang Tidak Dapat Dilihat

Dalam perkara terbunuhnya dua padri Muhu atau Penyembah Api, sekarang tampaknya hanya tiga orang berada di sini. Itu pun hanya menjaga gadis bisu-tuli. Namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, kukira serikat padri Kaum Penyembah Api akan mengirimkan padri pengawal sebanyak-banyaknya untuk memburu Harimau Perang.

Kong Fuzi berkata:

manusia sejati

tidak punya

kekhawatiran;

manusia bijak

tidak punya

kebingungan;

manusia berani

tidak punya

ketakutan 1

Kami sudah berada di Taman Terlarang. Hujan turun. Gelap. Angin ribut. Kami tahu harus siap menghadapi peronda dalam cuaca seperti ini, tetapi bukanlah peronda yang harus kami waspadai sekarang ini, melainkan sosok yang begitu mahir begitu licin dan begitu licik dalam permainan dengan kegelapan.

Hujan, angin, dan kegelapan bagai tirai-tirai yang mengelabui silih-berganti, dari balik tirai itulah memang berlangsung kelebat serangan berkecepatan kilat, yang muncul secepat menghilangnya, sehingga kami hanya bisa menangkis dan tidak bisa menyerang balik. Setiap kali dari kegelapan itu muncul suatu sosok yang dengan pedangnya membabat, yang seperti hanya perlu ditangkis sekali segera menghilang kembali.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi I Kitab 5 #92 Pendekar Dawai Maut

Begitulah kami melangkah di dalam taman setengah hutan, yang seringkali menjadi ajang pelampiasan semangat berburu sang maharaja itu, menghadapi serangan demi serangan yang sama sekali gelap, yang jika tidak diakhiri, tampaknya memang akan mungkin mengakhiri riwayat hidup kami.

Ketika kilat berkeredap dan guntur menggelegar, kubisikkan sesuatu di telinga Panah Wangi yang segera mengangguk.

Kami berdua melangkah dalam keadaan basah kuyup dan kepala tertunduk, dan saat itulah suatu serangan kilat datang dari belakang dan kubiarkan saja. Pedang itu seperti menembus punggungku dan penyerang itu langsung menghilang.

Aku jatuh terguling di rerumputan basah. Panah Wangi menjerit dan ikut menjatuhkan diri memelukku. Hujan bukannya mereda melainkan semakin keras. Pada saat itu kami tahu berpuluh-puluh bayangan keluar dari balik kegelapan dan saling berebut untuk merajam kami.

”Sekarang!”

Kudorong Panah Wangi sehingga terlontar ke atas. (bersambung) 

1. Lin Yutang, The Wisdom of Confucius (1938), h. 162.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #314 Sergapan Malam di Tengah Hujan oleh yang terbit pada Wednesday, 13 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #314 Sergapan Malam di Tengah Hujan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #314 Sergapan Malam di Tengah Hujan

×