Nagabumi III #318 Persoalan Kaum Huan Kuan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Sunday, 17 May 2015
Oleh - Dibaca: 12 kali -


Aku tercekat mendengar pertanyaan itu. Sungguh pertanyaan yang berbahaya karena jelas tiada akan ada jawaban lain selain menyingkirkan Pangeran Song, putra mahkota Negeri Atap Angin.

Sunyi kembali mencekam. Suara hujan terdengar sangat jelas. Bagaimana caranya mengetahui siapa saja yang duduk di meja itu?

Aku juga dengan perasaan was-was menanti-nanti, setiap saat seorang pengawal akan masuk dan menyampaikan betapa 200 anggota Pasukan Hutan Bersayap yang diperintahkan untuk mencegat diriku dan Panah Wangi telah bergelimpangan sebagai mayat, dengan anak panah menancap pada dahinya masing-masing. Jika saat itu tiba, kuharapkan segenap kejelasannya sudah muncul ke permukaan.

Suara halus Pangeran Tong yang sebelumnya bernama Li Chen, yang bersama dengan Pangeran Song, Pangeran Shu yang sebelumnya bernama Li Yi, Pangeran Qian, Pangeran Su, dan Pangeran Zi, ditahbiskan sebagai pangeran pada tahun 779, kini terdengar lagi.

”Saudara-saudaraku, daku mengerti belaka betapa segala sesuatunya sudah sangat jelas, terang seperti siang,” ujarnya, ”jika keberadaan huan kuan ini ingin dipertahankan maka kemungkinan pemunahnya harus disingkirkan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #327 Bertarung Melawan Bayangan

”Kita semua di ruangan ini dapatlah diandaikan paham tentang siapa kiranya yang semestinya dihapus keberadaannya karena itu.”

Betapa halus suara Pangeran Tong, tetapi betapa berat pertimbangan yang dibebankan kepada setiap kepala yang ada di situ.

Hujan dan angin terdengar semakin jelas.

Aku mengerti, ini saat yang genting karena merupakan saat menentukan keberpihakan, sedangkan atas setiap pilihan dalam penentuan tersebut terdapatlah suatu harga dalam permainan kekuasaan yang harus dibayar. Yakni jika berpihak akan menjadi kawan, dan jika tidak berpihak akan menjadi lawan, yang menjadi berat karena setiap jawaban diandaikan membawa nama kelompok atau bahkan golongannya.

Panah Wangi memandangku. Tanpa membalas pandangannya aku sudah mengerti apa yang dimaksudnya, bahwa pertemuan atas nama persekutuan ini merupakan setengah jebakan, jika bukan sebagai ajang pengujian untuk menentukan siapa kawan dan siapa lawan. Siapa pun yang merencanakan pertemuan ini sungguh mengail di air keruh, ketika maharaja memusatkan perhatiannya kepada pembakangan para panglima wilayah, yang seperti ingin menjadi raja kecil di wilayahnya masing-masing.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 9 #168 Prasangka dan Kutukan Orang Kebiri

Mozi berkata:

membuktikan

ketiadaan jiwa,

tetapi belum belajar

upacara pengorbanan,

sama dengan

mempelajari

keramahtamahan

tanpa tamu,

atau melempar jala

ketika tiada ikan 1

Beberapa saat terasa begitu lama, kurasa mereka yang berkumpul di meja itu kini merasakan jebakan tersebut. Bahkan siapa pun yang beranggapan bahwa Pangeran Song layak disingkirkan, tentu tidak akan menyampaikannya di sini dan sekarang.

Meski rupanya Harimau Perang merupakan perkecualian.

”Kuketahui betapa diriku telah disebut-sebut sebagai pengadu domba, antara para petugas Dewan Peradilan Kerajaan dengan pasukan yang diperbantukan kepada Pangeran Song dalam peristiwa di bekas Taman An Lushan, dan setelah itu diriku diburu Pasukan Hutan Bersayap. Namun untunglah daku berhasil meyakinkan Dou Wenchang dan Huo Xianming bahwa seseorang telah menyaru sebagai diriku, sebagaimana telah memfitnahku dengan membunuhi para penjahat kambuhan itu.

”Itulah yang membuatku diloloskan Pasukan Hutan Bersayap sampai bisa masuk kemari. Meskipun begitu, daku tidak bisa begitu saja berpihak kepada kaum huan kuan dan ikut menyingkirkan putra mahkota. Putra mahkota tidak suka kepada kaum huan kuan bukan karena mereka adalah kaum huan kuan, melainkan karena pengaruh mereka yang menancap terlalu kuat ke dalam urusan pemerintahan maupun hampir semua urusan yang sama sekali bukan pekerjaan mereka.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #192 Pertarungan di Dalam Pasar

”Kalau kaum huan kuan ini bekerja sesuai dengan tugas mereka saja, dan hanya bekerja dalam bidang lain jika memang memiliki kepandaian dalam bidang tersebut, tentu Pangeran Song juga tidak akan keberatan dengan keberadaan mereka di istana sebagai pelayan maupun pelayan keluarga ma¬≠haraja. Jadi jalan keluar masalah ini bukanlah menyingkirkan putra mahkota, karena kelak sebagai maharaja ditakutkan akan menyingkirkan kaum huan kuan, melainkan justru penyesuaian kaum huan kuan dalam pengabdian terhadap maharaja, yang setiap zamannya pasti berbeda.”

Harimau Perang berhenti di sana. Dalam gelap kami saling berpandangan. Kami tidak terlalu yakin sekarang, apakah buruan kami ini memang bijak atau sebetulnyalah sangat licin serta licik sekali.(bersambung)

1. Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 57.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #318 Persoalan Kaum Huan Kuan oleh yang terbit pada Sunday, 17 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #318 Persoalan Kaum Huan Kuan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #318 Persoalan Kaum Huan Kuan

×