Nagabumi III #319 Penyergapan dan Perlawanan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Monday, 18 May 2015
Oleh - Dibaca: 13 kali -


TERDENGAR pintu dibuka dan langkah pengawal yang tergopoh.

”Tuanku…”

”Sudah kukatakan kami jangan diganggu bukan?”

Apakah yang akan dilakukannya jika ia dengar 200 anggota Pasukan Hutan Bersayap telah bergelimpangan sebagai mayat dengan anak panah di dahinya?

Kami bersembunyi di dekat pintu, sehingga kejadiannya dapat kami saksikan, yakni ketika pengawal itu baru saja akan membuka mulutnya, sebilah tombak melayang dan menancap di punggungnya. Begitu kuat tenaga yang melempar tombak itu sampai tubuh pengawal tersebut terdorong jatuh jauh ke depan, dan baru berhenti di hadapan pemimpin pertemuan yang bagiku juga belum jelas siapa itu.

Ia yang sudah siap untuk marah semula tertegun melihat tombak yang menancap di punggung pengawal tersebut, tetapi ketika ia melihat ke arah pintu, saat itu pula wajahnya menjadi pucat.

Pintu telah ditendang sampai terbuka, seorang gagah yang mengenakan busana tempur jenis kulit dengan gambar singa dan harimau, muncul di sana.

”Tuanku Dou!”

Wibawa Panglima Pasukan Siasat Langit ini rupanya begitu kuat, sehingga orang kebiri yang tampaknya menjadi pemandu pertemuan itu langsung menyungkum lantai, mengetuk-ketukkan dahinya pada lantai dan tidak bangkit lagi.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #118 Siapa Pembunuh Putri Anggrek Merah?

”Ampun, Tuanku, ampun!”

Dengan bergeser sedikit, sementara perhatian semua orang mengikuti kejadian itu, kami bisa melihat semuanya dengan jelas.

Jadi inilah salah satu dari dua panglima Pasukan Siasat Langit yang terkenal, Dou Wenchang. Ia tidak datang sendiri, tidak kurang dari 100 orang Pasukan Siasat Langit memasuki zheng fang atau ruang utama, yang dahulu menjadi tempat persembunyian maharaja bayangan.

”Tangkap semua orang di ruangan ini,” perintahnya.

”Tikus-tikus kecil! Coba lihat ke luar! Duaratus orang tidak mampu membekuk Panah Wangi, bahkan semuanya mati, sungguh berani merancang pembunuhan calon maharajamu sendiri!”

Pasukannya bergerak sangat cepat, sehingga nyaris tiada perlawanan dari sekitar 20 orang yang berkumpul itu, kecuali dari utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang.

”Daku tidak sudi menjadi tawanan kalian,” ujarnya.

Lantas ia meloncat ke atas meja, sembari melepaskan senjata rahasia jarum-jarum beracun kepada lima orang yang langsung berlesatan menyusulnya. Lima orang langsung bergelimpangan dengan kulit membiru. Ketika lima orang lagi berlompatan ke atas meja dengan jurus ilmu pedang berpaduan yang mematikan, ia berjungkir balik ke atas untuk langsung menggantung seperti kelelawar pada kayu melintang yang merupakan kuda-kuda bangunan zheng fang ini. Dari sanalah melesat lima pisau terbang yang langsung menancap ke jantung lima pengejar, yang telanjur melenting ke atas tanpa sempat menangkis lagi.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 7 #139 Nagarjuna dalam Pemujaan

”Mampus kalian kebiri bodoh!”

Terdengar makian seperti itu, meski berbeda dengan Pasukan Hutan Bersayap yang semuanya terdiri dari orang-orang kebiri, dalam hal Pasukan Siasat Langit hanya para panglimanyalah yang terdiri atas orang kebiri.

Lima tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi jatuh bergedebukan di atas meja untuk kemudian terpental ke lantai maupun jatuh langsung ke lantai. Serentak 90 anggota Pasukan Siasat Langit melesatkan anak panah dengan busur silang masing-masing, yang dengan jaminan tepat sasaran mengancam setiap titik mematikan pada tubuh utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang. Jika panah-panah itu menancap semuanya, tubuh yang tergantung seperti kelelawar itu akan berubah menjadi seperti landak.

Namun kedua tangannya kini telah memegang sepasang pedang. Dalam sekali putar panah-panah itu rontok dan jatuh berserak dalam keadaan patah. Pasukan Siasat Langit masih terus memanah utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu. Jika tidak serentak, yang selalu berhasil dirontokkan, juga dengan berturutan, yang tetap seperti mengalir masuk ke sebuah gilingan untuk dimuntahkan kembali sebagai anak-anak panah yang patah dan terbelah.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #218 Pewarisan Dendam

”Heh-heh-heh-heh! Semakin bodoh!” Ia tertawa menghina.

Setelah diulang sepuluh kali, Panglima Dou Wenchang memberi tanda berhenti. Maka pasukan itu pun berhenti memanah. Panglima itu mencabut pedang seperti akan melenting ke atas dengan ilmu meringankan tubuh untuk mengejarnya sendiri. Namun Harimau Perang, yang bersama Pangeran Tong ternyata tidak disentuh sedikit pun, mencegahnya.

”Panglima tidak perlu mengotori tangan untuk seekor tikus kecil,” ujarnya.

Lantas ia pun mencabut sepasang pedang panjang melengkung yang tersoren saling bersilang di punggungnya.

”Heh-heh-heh-heh! Satu lagi yang bodoh!” ujar yang menggantung seperti kelelawar di atas itu.

Setelah itu hanya kediaman dan bunyi hujan. Harimau Perang menatap ke atas. Mata keduanya bertatapan. (bersambung) 

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #319 Penyergapan dan Perlawanan oleh yang terbit pada Monday, 18 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #319 Penyergapan dan Perlawanan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #319 Penyergapan dan Perlawanan

×