Nagabumi III #326 66: Mengejar Bayangan dalam Kelam

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Monday, 25 May 2015
Oleh - Dibaca: 13 kali -


PADA malam kesembilan, bulan kesembilan, yang di Javadvipa disebut bulan Caitra, sebagian orang di Kotaraja Chang’an pergi ke luar kota, terutama ke pegunungan, untuk berwisata. Namun sebagian lagi lebih memilih untuk membuka bekalnya di puncak pagoda, atau di Danau Lekuk Ular. Sejak malam itu berlangsung liburan selama tiga hari, dalam rangka Pesta Makanan Dingin. Rangkaian pesta dan upacara selalu dihubungkan dengan bunga matahari sebagai lambang panjang umur, karena bentuk bunganya yang seperti matahari pemberi kehidupan itu sendiri. Batang dan daunnya dikumpulkan pada hari kesembilan tersebut, ditambahkan pada peragian gandum, dan bisa diseduh sepanjang tahun. Semenjak pemerintahan Wangsa Tang sudah menjadi kebiasaan untuk meminum sari bunga matahari sepanjang rangkaian pesta dan upacara.

Kami bertiga, aku, Panah Wangi, dan Anggrek Putih, sedang menikmati minuman tersebut pada malam kesembilan di teras atas kuil Kaum Muhu, ketika sesosok bayangan melenting dari atas wuwungan kuil Kaum Muhu menuju wuwungan wihara Buddha, melenting lagi ke wuwungan kuil Kaum Dao, lantas berkelebat ke atas tembok pembatas petak dan menghilang…

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #106 21: Tertangkap!

Panah Wangi siap berkelebat tetapi kucegah dan akulah yang berkelebat menyusulnya, karena sudah jelas betapa dia sengaja memperlihatkan diri agar diikuti. Kucegah Panah Wangi mengikutinya karena ia tidak tampak seperti menyadari pancingan itu. Jika pancingan ini bermaksud jahat, kukira biarlah diriku saja yang menghadapinya. Di dalam dunia persilatan yang penuh dengan tipuan sulap, sihir, dan keajaiban tidak masuk akal, sedikit kelengahan sudah akan langsung menerbangkan nyawa ke langit, dan aku sama sekali tidak akan membiarkannya terjadi atas Panah Wangi.

Sembari melesat, melejit, dan berkelebat mengikutinya dari atap ke tembok ke lorong dan ke atap lagi, aku terkesiap dalam hatiku menyadari apa yang kupikirkan tentang Panah Wangi. Mungkinkah karena Amrita, Elang Merah, dan Yan Zi Si Walet, semuanya pergi dengan begitu mendadak, dengan cara yang tidak pernah kuduga akan mungkin terjadi? Apalagi Yan Zi, yang tanpa dapat kucegah dalam ketaksengajaan tewas oleh tanganku sendiri!

Dalam catatan tambahan pada I Ching tertulis:

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #153 Barang Curian di Taman Terlarang

adalah cara Langit

untuk mengurangi

yang berlebihan

dan menambah

yang sederhana;

adalah cara Bumi

untuk menebang

yang berlebihan

dan memberikan

hidangan cuma-cuma

bagi yang sederhana 1

Begitulah bayangan itu melesat naik dan menukik turun dengan gerakan yang teracu kepada burung camar dan kelelawar silih berganti. Ya, selintas pintas aku teringat gerakan Pangeran Kelelawar yang sekarang tentunya masih tertancap dua pedang, menempel pada dinding batu Puncak Tiga Rembulan di Tanah Kambuja, tempat kisah cintaku dengan Amrita Vighnesvara, yang kukira terlalu sederhana sebagai kisah cinta bermula.

Namun bayangan ini juga memanfaatkan kesetimbangan burung camar, yang bisa diam tetapi tetap meluncur dengan tangan terbentang di atas kotaraja yang sedang berpesta, karena larangan keluar rumah pada malam hari tidaklah berlaku selama tiga malam ini. Jika kelelawar mengandalkan daya kepak, dan caranya menukik seperti menjatuhkan diri, mirip dengan gerakan kegelisahan, maka ketenangan burung camar menjadi imbangan yang anggun dalam seni gin-kang atau ilmu meringankan tubuh. Keindahan paduan keduanya dalam terbang malam seperti ini membuatku nyaris melupakan betapa bayangan yang kuikuti naik turun dari atas genting turun ke lorong sunyi dan naik lagi menjejak dinding tembok, dan berlari miring sepanjang dinding, sangat mungkin merupakan sosok yang sangat berbahaya!

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #105 Tubuhnya Berkobar, Meledak tanpa Suara

Kami masih berlari miring sepanjang dinding tembok selatan ketika dari arahnya meluncur bola-bola kecil hitam, yang aku tahu betapa diriku lebih baik menghindar dan jangan sampai tersentuh maupun menyentuhnya. Bola-bola hitam itu lewat melesat hanya berjarak tiga jari dari wajahku, yang mengingatkanku kepada nasib burukku ketika sebuah bola peledak membakar wajahku tanpa bisa kuhindari lagi.

Wuzzzzzz!

Meski hanya selintas dapat kuketahui ini bukanlah bola peledak yang bisa membuat seekor kuda berlari terpanggang api, melainkan bola yang ketika mengenai sasarannya akan meletupkan serbuk beracun, yang jika terhirup sedikit saja akan mengakibatkan kematian dengan cara yang sangat mengenaskan, begitu mengenaskan, sehingga aku merasa lebih baik sedikit pun tidak perlu menggambarkannya kembali… (bersambung)

1 Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 172.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #326 66: Mengejar Bayangan dalam Kelam oleh yang terbit pada Monday, 25 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #326 66: Mengejar Bayangan dalam Kelam

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #326 66: Mengejar Bayangan dalam Kelam

×