Nagabumi III #351 71: Pertarungan Senja

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Friday, 19 June 2015
Oleh - Dibaca: 10 kali -


APAKAH Harimau Perang terikat kepada suatu perjanjian rahasia dengan pembunuh Amrita? Demi pertarungan yang kami berikan kepadanya, dengan segala keterlibatannya dalam seluk-beluk tipu daya permainan kekuasaan, jika masih ingin mati dengan kehormatan dunia persilatan, maka ia harus menyerahkan semuanya, termasuk nama pembunuh Amrita. Namun sangat mungkin Harimau Perang juga terikat, jika bukan perjanjian, mungkin tata kehormatan tertentu, baik dari dalam hati maupun sekadar siasat agar yang bersangkutan bersedia membunuh Amrita untuk tidak mengungkapkan siapa pelakunya.

Dalam persilangan dengan tata kehormatan yang lain, yakni tawar-menawar yang kemudian menjadi kesepakatan dengan kami, justru pengungkapan atas pelaku itu tidak bisa dikecualikan. Kukira dalam tarik-menarik inilah muncul pertanyaan Harimau Perang, yakni apakah dirinya harus menyebut suatu nama yang mungkin ditafsirkannya melanggar tata kehormatan dunia persilatan.

”Dengan cara apa pun, wahai Harimau Perang, asal jika daku menangkap dan membuatnya bertanggung jawab atas perbuatannya, maka memang dialah orang yang membunuh Panglima Amrita.”

Kukira dengan jawaban seperti itu Harimau Perang berpeluang memberitahukan siapa pembunuhAmrita, tanpa melanggar tata kehormatan, meskipun yang dipikirkannya hanyalah cara mengakali tata kehormatan tersebut. Namun jawabannya sungguh tidak terduga.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi I Kitab 2 #30 Perbincangan Nagasena

”Daku memang tidak dapat memberitahukan namanya, tetapi daku dapat memberitahukan bahwa orangnya sedang dalam perjalanan menuju Dunhuang.”

Dunhuang! Terdengar seperti ujung dunia!

”Janganlah ragu kepadaku, wahai Pendekar Tanpa Nama. Daku tidak sedang mengelabuimu,” kata Harimau Perang, ”Ini adalah ucapan seseorang yang sudah siap dan bersedia untuk meninggalkan dunia, dan diriku tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan nama yang diucapkan di berbagai kedai dengan mulut mencibir. Jika dikau tiba di Gua-gua Mogao tahun ini juga di Dunhuang, dikau akan segera menemui dan mengenalinya.”

Sebuah nama, sebuah wajah berkelebat, dan menimbulkan rasa sesak di dadaku, tetapi aku tidak ingin memikirkannya sekarang. Jika diriku percaya dan harus percaya, jika pun tidak terpaksa percaya, masih tetap saja urusan Harimau Perang ini harus diselesaikan segera, sebelum keremangan senja digantikan kegelapan malam yang kemudian menguasai Chang’an dan membantunya untuk kembali menghilang.

Sun Tzu berkata:

pengelabuan

mesti dipekerjakan

sebagai

muslihat/bukan muslihat

artinya

tiada mempengaruhi sikap

atas pengelabuan keadaan

penipuan/bukan penipuan

berarti

dirimu maju

tanpa terpengaruh

oleh gagasan

menang atau kalah 1

Petak tempat Harimau Perang berhadapan dengan Panah Wangi di dalam Pasar Barat tersebut luasnya sepersembilan dari petak biasa, karena luas petak Pasar Barat dan Pasar Timur yang sama saja dengan semua petak di dalam Kotaraja Chang’an, tetapi yang dibagi rata menjadi masing-masing sembilan petak, dengan sebuah kolam pada petak paling timur laut di Pasar Timur dan paling barat laut di Pasar Barat.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #117 Terpeleset Genangan Darah...

Harimau Perang masih tetap berada di sudut paling barat laut, di depan sebuah kolam, sama seperti ketika empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta berhasil mengurung dan tadi siap membunuhnya. Harimau Perang masih terulur hidupnya karena para padri pengawal Kaum Muhu telah lebih dahulu membunuhnya. Ia masih tetap hidup sampai saat ini karena berhasil mengajukan penawaran, yakni sebuah pertarungan satu lawan satu atas kesediaannya mengungkap seluk-beluk pembunuhan maupun siapakah kiranya pembunuh Panglima Amrita Vighnesvara. Tawaran ini diterima karena apakah dirinya menang atau kalah tidak mengubah ketentuan hukuman mati dari 50 padri pengawal Kaum Muhu, yang harus diterimanya juga sebagai tanggung jawab atas segala tindak pembunuhannya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi I Kitab 3 #51 Hutan Mayat

Kini Harimau Perang memiliki dua pilihan, antara bertarung dan terbunuh, atau bertarung dan menang tetapi tetap menerima hukuman mati. Keduanya memang sama-sama berakhir dengan kematian, tetapi betapapun aku menggeleng-gelengkan kepala dalam hatiku, bukan hanya menyadari langkah-langkah yang berhasil ditempuhnya dalam penguluran waktu, melainkan juga mengubah kedudukannya, dari seorang pesakitan terhukum menjadi seorang petarung.

Harimau Perang masih berada di tempatnya semula. Ia telah mencabut kedua pedangnya yang panjang melengkung, dalam kuda-kuda yang siap untuk sebuah pertarungan antara hidup dan mati. Hanya sekitar sepuluh langkah di hadapannya, Panah Wangi juga telah mencabut pedang jian dari punggungnya dan memasang kuda-kuda. Mata Panah Wangi menatap Harimau Perang dengan tajam, begitu tajam, bagaikan tiada lagi yang lebih tajam…

Saat itulah gerimis berubah menjadi hujan. (bersambung) 

1. Sun Tzu, The Art of War, diterjemahkan ke Bahasa I nggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 57.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #351 71: Pertarungan Senja oleh yang terbit pada Friday, 19 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #351 71: Pertarungan Senja

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #351 71: Pertarungan Senja

×