Nagabumi III #359 Atas Kesetaraan Cinta

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Saturday, 27 June 2015
Oleh - Dibaca: 12 kali -


KEGEMPARAN di bawah karena sesosok tubuh jatuh dari atas dan menimpa atap tidak dapat kuikuti karena pengejaran dan pertarungan yang berlangsung dari wuwungan ke wuwungan ini meliputi wilayah yang sangat luas, ibarat kata seluruh wilayah udara Kotaraja Chang’an selama masih ada rumah-rumah dan gedung beratap genting. Jika kediaman Ibu Pao tadi terletak di petak-petak permukiman yang terletak di barat daya, bentrokan pertama berlangsung di barat laut, dan bentrokan kedua dan ketiga tepat di tengah-tengah atau di pusat kota, maka kini diriku sudah mendekati mereka lagi yang sedang berkelebat, melesat, dan melenting-lenting di sisi timur.

Segera dapat kubaca bahwa mereka kini juga ingin menghilangkan jejak, karena tidak boleh diketahui tentunya dari mana mereka berasal. Namun arah yang mereka tuju ketika pertama kali kupergoki, yakni ke arah barat laut, jelas menuju ke arah Taman Terlarang. Ini tidak menegaskan apa pun, karena meski di satu pihak merupakan tempat yang diperuntukkan hanya bagi keluarga maharaja, tetapi telah kuketahui dan kualami bagaimana orang-orang kebiri bercokol di tempat itu. Jadi aku masih harus memastikannya dari salah satu penculik ini, tentu, selama aku masih ingin tahu, karena saat ini perhatianku hanyalah keselamatan dan pembebasan Ibu Pao!

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #307 Penculikan Dijalankan

Penculik itu berjumlah enam orang. Ketiadaan wajahnya di dalam kerudung, yang hanya memperlihatkan kekosongan hitam, menunjukkan keberadaan mereka sebagai perkumpulan rahasia yang disewa. Tiga orang sudah kujatuhkan, sedangkan tiga orang lagi sekarang melejit dan melenting-lenting ke arah selatan. Menuju ke manakah mereka? Namun aku sudah tidak terlalu peduli lagi. Aku menjejak udara dan berkelebat cepat. Ketiganya bahkan tidak menyadari aku sudah berada dekat sekali di atas mereka.

Dua penculik berada di kiri dan kanan dari penculik yang membopong Ibu Pao. Satu di antaranya dengan pisau terbang masih menancap di sela tulang panggul dan masih menetes-neteskan darah. Tentu dialah yang telah menganiaya gadis remaja cucu Ibu Pao. Setidaknya gadis itu memanggil Ibu Pao sebagai nenek. Aku tidak mau peduli apakah luka-lukanya masih menetes-neteskan darah. Tangan kiriku segera meraih leher baju di belakang tengkuknya, dan langsung membuangnya ke belakang sejauh 100 li.

Pada saat yang sama, penculik yang di sebelah kanan ternyata sudah berada di samping kananku, dan siap membacokkan kelewang. Namun bagaimanakah caranya melebihi kecepatanku, yang dapat mencapai kecepatan yang lebih cepat dari cepat itu? Kelewangnya belum terayun turun ketika kutendang dadanya dan terpental, juga sampai 100 li.

Adapun yang tengah langsung kutotok tanpa perlu menyentuhnya, sehingga melayang jatuh seperti selembar baju, tetapi dengan Ibu Pao yang sudah berpindah ke tanganku. Kulihat penculik itu meluncur masuk ke dalam sumur. Sungguh aku tidak ingin tahu bagaimana nasibnya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #296 Maharaja Mengambil Keputusan

Mozi berkata:

seandainya kita

berusaha menetapkan

sebab kekacauan,

kita akan menemukannya

terletak pada kehendak

atas kesetaraan cinta 1

Ibu Pao masih berada dalam boponganku ketika membuka mata setelah kubebaskan dari totokan. Langit masih merah dan angin bertiup kencang ketika kubawa ia melenting-lenting dari atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain. Chang’an pada akhir hari tidaklah bisa lebih meriah lagi ketika meski langit menggelap, kota di bawah justru bermandi cahaya, meski hanya sampai saat-saat larangan keluar rumah memudarkannya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #145 Apa Yang Membuat Serdadu Menang Perang?

”Pendekar Tanpa Nama….,” katanya setelah membuka mata, ”sudah lama sekali dikau tidak menjumpaiku, tetapi kudengar selalu sepak terjangmu. Daku ikut bersedih atas semua hal buruk yang terjadi pada dirimu dan kawan-kawanmu, tetapi daku juga kehilangan sobat-sobat terbaik. Apakah Persik Kecil selamat?”

Persik Kecil? Cucunya itukah?

”Cucumu? Dia selamat!”

”Persik Kecil bukan cucuku, tapi serumah denganku, syukurlah kalau dia selamat.”

”Bukan cucumu? Lantas siapa dia?”

”Sudahlah,” kata Ibu Pao, ”panjang ceritanya.”

Seberapa panjang? Namun aku pun tidak ingin bertanya lagi. Sekarang aku hanya ingin segera membawanya pulang kepada Persik Kecil yang sangat mengkhawatirkannya.

”Chang’an indah dari atas ya,” kata Ibu Pao.

Maka karena sudah berada di wilayah selatan, kubawa ia melenting dan membubung ke atas Pagoda Angsa Liar, melewati lapisan demi lapisan cahaya jingga yang membuatnya merasa sedang menembus nirvana… (bersambung) 

1. Diterjemahkan dari IZ Quotes (izquotes.com/quote/25472). Diunduh Kamis, 25 Juni 2015. 15:10.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #359 Atas Kesetaraan Cinta oleh yang terbit pada Saturday, 27 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #359 Atas Kesetaraan Cinta

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #359 Atas Kesetaraan Cinta

×