Nagabumi III #362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Tuesday, 30 June 2015
Oleh - Dibaca: 7 kali -


PERDANA Menteri Zheng Yuqing kuperlukan supaya dapat berbicara kepada Ketua Dewan Peradilan Kerajaan Hakim Hou agar bersedia meminjamkan atau melepaskan Anggrek Putih yang akan kugunakan untuk memancing Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang. Bahwa diriku cenderung meminta kepada Perdana Menteri Zheng Yuqing, dan bukan kepada Pangeran Song, tentu karena perebutan hak hukum atas Panah Wangi telah membuat hubungan kedua pihak itu sangat buruk. Betapapun jika dulu Anggrek Putih ditahan sebagai sandera atas masih berkeliarannya Harimau Perang, ternyata kedudukan yang sama dapat berlaku bagi Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang.

Memang hanya Anggrek Putih yang bisa menjadi alasan bagi Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang untuk berhubungan kembali dengan dunia, tiada lain dan tiada bukan karena Anggrek Putih tidak pernah berhenti menjadi wahana penurunan ilmu dari Guru Besar Ilmu Silat Aliran Shannan, yang selama ini merupakan andalan bagi keberdayaan ilmu silatnya, agar tetap bertahan pada tingkat dewa. Suatu wahana yang telah beberapa lama terceraikan dari dirinya, semula karena Harimau Perang yang menculik Anggrek Putih dari Shannan tapi berhasil digagalkannya mencuri ilmu; kemudian oleh diriku dan Panah Wangi, yang ternyata bisa membaca lukisan tak utuh karena ingatan yang diacaknya. Ini tentu jauh lebih mengkhawatirkannya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #313 Lolos di Balik Cahaya Kekuningan

Maka kuharap rencanaku bisa berjalan lancar. Untunglah Hakim Hou ternyata bukan hanya setuju untuk meminjamkan atau melepas Anggrek Putih untuk sementara, melainkan membebaskannya!

Sun Tzu berkata:

panglima perang

melihat masa depan;

petani hanya melihat

masa kini, 

dan para pengeluh

hanya melihat

masa lalu. 1

Angin bertiup kencang di atas Sungai Yangzi. Matahari siang hari tegak lurus di atas ubun-ubun. Ini suatu hari yang biasa pada musim panas di wilayah Shannan. Perahu nelayan, rakit penyeberangan, perahu penumpang, tampak hilir mudik di sepanjang sungai yang luasnya bagiku sungguh mencengangkan. Pada permukaan sungai itu cahaya tergenang menyilaukan, mengertap-ertap seperti berlian, di sela bayang-bayang hitam orang bercaping, melempar jala, atau sekadar memancing. Namun memancing menjadi bukan sekadar ketika pancing menyendal, ikan menggelepar, dan pemancingnya tentu saja sibuk memasang umpan baru pada kail yang masih berdarah…

Kuharap akan tampak biasa pula bahwa Anggrek Putih ingin pulang ke Shannan, ke tempat tinggalnya di pinggiran Kota Chengdu. Sengaja kuminta dan kubuat agar Anggrek Putih tidak membawa alat-alat gambarnya, karena kutahu Ilmu Silat Aliran Shannan itu akan terus mengalir turun ke dalam kepalanya. Dengan tidak tersalurnya jurus-jurus itu menjadi gambar, maka gambar-gambar itu akan bermain di kepala Anggrek Putih, meskipun jika ia tidak memikirkannya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #151 Balai Semangat Kilauan Berlian

Dari hari ke hari jurus-jurus mengalir terus tanpa putus, sehingga kepala Anggrek Putih tentulah menjadi tempat penyimpanan Ilmu Silat Aliran Shannan terbaik, baik di Shannan maupun di Negeri Atap Langit. Siapa pun yang mampu dengan suatu cara menyerapnya langsung dari kepala Anggek Putih, memindahkannya ke kepalanya sendiri, niscaya juga mendapat yang terbaik.

Di perahu kusiapkan pancingku. Aku memang menyamar sebagai orang yang memancing, tetapi umpanku bukanlah cacing melainkan isi kepala gadis bisu tuli itu. Kukira tidak ada umpan lain yang lebih baik selain Ilmu Silat Aliran Shannan itu sendiri, yang bisa memancing Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang setidaknya melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Saat itulah, artinya, ia sudah terpancing.

Namun itu belum terjadi. Dari pagi kami masih menunggu, sama-sama memancing dan mengenakan caping, masing-masing di atas perahu sampan dengan jarak berjauhan. Sambil menunggu aku bertanya-tanya dalam hati, seperti apakah kiranya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #282 Putra Mahkota di Antara Khalayak

Saat itulah ia mengambil kesempatannya. Dari balik kilauan cahaya, sesosok bayangan berkelebat di atas permukaan sungai, begitu cepat sehingga tidak terlihat, menuju ke arah Anggrek Putih yang duduk tenang-tenang memunggungi di atas perahu.

Aku bisa bergerak lebih cepat, tapi aku diam saja, karena tahu itu hanyalah gerak tipu. Jika kutanggapi akan ada sesuatu yang dilakukannya.

Bayangan itu memudar begitu menyentuh Anggrek Putih. Begitu berlangsung sampai tujuh kali. Pada kelebat ke delapan, tentu dianggapnya tidak akan ada yang menanggapi. Ia tampak siap menotok dan menculik Anggrek Putih.

Namun aku sudah bertukar tubuh dengan Anggrek Putih. Ia terkecoh!

Tubuh Anggrek Putih yang isinya adalah diriku tanpa berbalik menyabetkan pukulan Telapak Darah. Terdengar suara tubuhnya tercebur di air.

Aku berbalik, dan tertegun melihat sosok yang masih mengambang itu.

Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang ternyata seorang katai! (bersambung) 

1. Sun Tzu, The Art of War, penafsiran dalam Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 25.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang oleh yang terbit pada Tuesday, 30 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #362 Matinya Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang

×