Nagabumi III #364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Thursday, 02 July 2015
Oleh - Dibaca: 13 kali -


YAVABHUMIPALA, juga disebut Javadvipa, pada bulan Margasirsa, tahun 872.

Aku sedang menuliskan hari terakhirku di Chang’an pada pertengahan tahun 800 itu, berusaha keras mengingat dengan rinci peristiwa yang berlangsung 72 tahun lalu, ketika sesosok bayangan berkelebat dari pohon ke pohon di hadapanku.

Apakah aku harus mengejarnya? Dari saat ke saat dunia persilatan penuh bayangan berkelebat, dan tentu bukan dunia persilatan namanya jika tiada bayangan berkelebat yang memungkinkan kehidupan menjadi tamat.

Namun dengan hidupku yang sudah 101 tahun, dan sejak kecil diasuh oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung yang hidup di dalam dunia persilatan, artinya telah terbukti aku selalu beruntung, dan jika tidak dianggap beruntung tentu harus berarti mampu mengatasi ancaman segala bayangan berkelebat itu.

Mengejar atau tidak mengejar, menyerang atau diserang, dengan kecepatan yang tidak bisa tidak setidaknya mendekati lebih cepat dari cepat, segala bahaya tiadalah hanya bisa ditepis, melainkan diriku pun tiada kurangnya menjadi ancaman itu sendiri.

Adapun jika dirikulah yang menjadi ancaman itu, dengan segala hormat, jika tidak sedang dilanda kejenuhan menamatkan riwayat hidup sesama manusia, maka ancaman itu pun tiada lebih dan tiada kurang menjadi kenyataan. Sudah tentu peranan menghilangkan nyawa ini tidaklah membahagiakan diriku, tetapi kehidupan dunia persilatan tidaklah memberi banyak pilihan selain membunuh atau dibunuh. Kebijakan untuk tidak pernah menyerang tampaknya saja merupakan pilihan terbaik, tetapi jika tidak terbunuh adalah bagian dari pilihan, maka semakin tinggi daya penyerangannya, semakin kecil kemungkinan terhindarnya, semakin besar pula kemungkinan membunuh sebagai satu-satunya cara bertahan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #232 Antara Terduga dan Tidak Terduga

Dalam gerak serangan secepat pikiran, sulit sekali menarik kembali serangan seusai penghindaran. Terlalu sering terjadi nyawa penyerangku langsung hilang pada saat pertama kali membuka serangan. Tidak kuingkari betapa Jurus Tanpa Bentuk, yang mampu menanggapi serangan tanpa diperintahkan otak, memberikan banyak sumbangan. Apakah kiranya ini merupakan kebersalahan?

Bayangan itu berkelebat lagi di dalam hutan di depan pondokku, tetapi sungguh mati diriku sedang tidak berselera. Aku baru saja menyelesaikan bagian terakhir dari riwayatku di Chang’an, dan apa yang kualami saat itu bagaikan hidup kembali dengan segala perasaan yang mengharubiru di dalam dadaku. Sebagai penulis yang berusaha membongkar segala sesuatu yang tersembunyi di balik kabut sejarah, pada titik ini diriku mengalami kesulitan untuk mengambil jarak.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #81 16: Di Balik Jurus Selimut Angin

Betapa tidak jika memang diriku sendiri yang kuceritakan itu? Sudah setahun lebih, bahkan kukira hampir dua tahun, aku menulis tanpa putus dengan semangat pembongkaran. Mencari tahu apakah kiranya yang menjadi perkara, sehingga diriku sebagai orang tua yang sudah mengundurkan diri ke dalam gua selama 25 tahun lamanya harus ditangkap oleh para hamba wet Kerajaan Mataram sebagai suatu rajadanda atau hukum raja?

Tidak dapat kuabaikan betapa para guptagati atau mata-mata maupun kadatuan gudha pariraksa atau pengawal rahasia istana, dengan tekun dan tanpa mengenal putus asa akan terus melacakku.

Namun tidak cukup para hamba wet, pencarian diriku telah diumumkan dan untuk itu ditawarkan hadiah pula jika dapat menangkapku, hidup atau mati. Sepuluh ribu keping emas! Suatu jumlah yang bahkan sebuah kerajaan pun tidak mungkin memilikinya, tetapi yang lebih dari cukup untuk mengecoh bukan hanya para pembunuh bayaran, pemburu hadiah, dan kemudian pencuri kitab untuk dijual kembali, melainkan juga para pendekar yang membutuhkan uang!

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #210 Pengepungan Istana Terlarang

Daun-daun berguguran dalam hembusan angin musim dari laut selatan, begitu kencangnya angin itu sehingga dedaunan kering di bawah pohon-pohon kembali diterbangkan. Aku menghela napas panjang untuk sebagian ternyata hatiku masih tertinggal di Chang’an, dan begitu terlambat kusadari betapa hati seorang tua berumur 101 tahun ternyata tidak berbeda jauh dengan hati seorang muda berumur 29 tahun. Aku sudah tua, air mataku mengering, tetapi segala usaha mengingat dan mencatat Chang’an membuat hatiku kembali basah oleh segala perasaan kehilangan. Elang Merah dan Yan Zi Si Walet, kedua pendekar perkasa itu tewas dengan cara yang begitu mengenaskan, sehingga bahkan sampai hari ini rasanya begitu sulit bagiku untuk memaafkan diriku sendiri. Hidupnya kembali pengalaman batinku di Chang’an itu membuat perasaanku menjadi rawan.

Namun aku tetap waspada terhadap bayangan berkelebat itu. Aku masih berada di dunia persilatan. (bersambung) 

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan oleh yang terbit pada Thursday, 02 July 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #364 Kelebat Bayangan dan Kenangan Rawan

×