Cerpen Lumpur Api (Begenggek)

Dimuat di mediaindonesia Edisi Sunday, 29 April 2018
Oleh - Dibaca: 7 kali -


Ilustrator MI/Gugun

ENTAH hitungan yang keberapa puntung rokoknya telah mencium asbak. Ia mengambil lagi sebatang. Menyulutnya. Asap mengepul. Meliuk-liuk laksana ular menari pada ruang tamu.

Akhirnya yang ditunggu melenggang dari kamar, bak penari yang hendak pentas ke panggung. Usia perempuan itu menjelang 30 tahun. Tubuhnya masih segar. Wajahnya cantik, walau dandannya agak menor.

“Sudah siap, Dik?”

“Sampun, Mas. Yuk, kita berangkat!”

“Oke!” si lelaki meraih kunci kontak di atas bufet, motor dinyalakan.

Si perempuan membonceng. Motor membelah Kota Jepara. Sekitar 45 menit, melewati barisan pesawahan dan sebuah hutan karet, kemudian motor parkir di perkampungan pantai Pungkruk.

Sepanjang tepi laut banyak berdiri warung dan karaoke. Warung yang menjual minuman beralkohol. Suara house musik berdentam dari rumah-rumah separuh tembok itu.

Sayup-sayup terlantun lagu dangdut koplo. Iwak peyek, iwak peyek nasi jagung. Sampek tuwek, sampek tuwek, bukak sithik joss. Sakitnya tuh di sini. Aku mah apa atuh, goyang dumang. Pokoke joget, pokoke joget….

Si rahang kokoh memberhentikan motor. Si lesung pipit turun, mengecup pipi suami seraya mendulang pesan. “Sudah, Mas pulanglah. Jangan bepergian. Jagain anak kita!”

***

Indah Pertiwi, bocah bertubuh bongsor, berumur 10 tahun, yang duduk di kelas tiga SD tengah duduk di meja makan menikmati makan siang. Sayur sup dan ayam goreng. Lezat. Si pipi gembil bersantap lahap. Si rahang keras yang berada di depannya, memandang riang.

“Ayamnya enak, Yah. Enggak seperti kemarin.”

“Memangnya kenapa yang kemarin, Sayang?”

“Kemarin ayam gorengnya belum matang. Masih ada darah di dagingnya.”

“Iya? Kalau gitu Ayah tidak akan beli ayam goreng di warung kemarin.”

“Terima kasih, Ayah. Oya, mengapa sih Ayah tidak doyan ayam?”

“Entah. Mungkin karena sejak kecil Ayah suka melihat orang nyembelih ayam. Jadi, rasanya Ayah tak tega untuk makan ayam yang disembelih.”

“….mengapa Ayah suka melihat orang nyembelih ayam?”

“Kebetulan orang tua Ayah tukang sembelih ayam.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Kau yang Menikah dengan Batu

“Kakek Tiwi?”

“Iya.”

“Di mana kakek? Tiwi ingin ketemu, Yah.”

“Kakek meninggal ketika bencana tanah longsor menimpa desa.”

“Nenek?”

“Juga iya. Semua saudara Ayah jadi korban. Hanya Ayah yang selamat.”

“Kasihan. Tiwi tak punya Kakek-Nenek, Yah. Ibu tak pernah ceritain kakek nenek. Dan…”

“Sudahlah, Sayang. Yang penting Tiwi masih punya Ayah dan Ibu yang sayang pada Tiwi dan akan selalu jagain Tiwi.”

Kabut di wajah bocah imut mengabur. “Ya, Ayah. Ayah, apakah Ibu sudah makan?”

“Ya. Siang ini ibumu pasti sedang istirahat siang dan makan”

“Enak ya, Yah, kalau makan ditemani Ibu.”

“Ibumu sedang kerja, Sayang.”

“Ibu kerja di mana sih?”

“Di perusahaan mebel….”

“Ibu jadi apa sih Yah?”

“Sekretaris.”

“Ibu pasti capek. Berangkat pagi pulang malam.”

“Ya, ya, ya.”

“Mengapa sih Ayah enggak bekerja?”

“Siapa bilang Ayah tak kerja?”

“Tapi Ayah di rumah melulu?”

“Di rumah Ayah sedang ngerjain proyek. Ayah melukis.”

“Ya…Tiwi pernah melihat lukisan Ayah.”

“Ayah sedang bikin lukisan sebanyak-banyaknya. Jika waktu telah tiba, Ayah menjualnya. Kita banyak uang dan ibumu tak perlu bekerja lagi!”

“Iya, Ayah?”

“Ya, Ayah janji, Sayang.”

“Tiwi mau main ke rumah teman, Yah!”

Si anak riang berlalu bergabung dengan Mirah dan Siti temannya. Mereka bermain bola bekel di serambi rumah kontrakan.

Si Ayah mencuci perabotan dapur. Membersihkan, nyapu dan ngepel rumah kontrakan. Menyetrika. Setelah itu ia masuk ke kamarnya, menyelesaikan lukisan. Sampai menjelang malam, ketika saatnya tiba, ia menjemput istri yang pulang dari bekerja.

***

Mahasiswa bertampang manis, berbodi atletis menyeringai puas. Lalu buru-buru mengenakan pakaian, mengambil dompet pada saku jaket, dan menyerahkan lembaran uang pada seorang perempuan yang setengah telanjang di ranjang.

“Besok ke sini lagi ya, Mas.”

Tak menjawab karena merasa puas, si lelaki belia yang sudah tidak perjaka, keluar dari bilik. Si perempuan ke kamar kecil. Membasuh keperempuanannya. Kemudian berdandan sebentar di depan cermin. Ia menebarkan bedak, menebalkan lipstik, menyemprotkan parfum, dan mematut diri di depan cermin. Kemudian menjajakan dagangan lagi.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Apakah Ia Harus Mengunci Pintu?

Hari-hari bernafas dalam pekat lumpur dilalui oleh Lome. Bertahun-tahun. Pada usia remaja ia ternoda. Keperawanannya direnggut oleh pacar yang juga kawan sekolah.

Lalu ia terjun menjadi pelacur. Prostitusi. Dari germo ke muncikari. Dari pangkalan ke lokalisasi. Dari satu lelaki ke ratusan laki!

Satu hari, ia bertemu seorang pemuda bernama Terlalu. Seorang sarjana seni tapi pengangguran. Bercita-cita jadi pelukis tenar. Tapi sampai hari ini baru satu lukisannya yang terjual!

Suami yang didambanya akan mengangkat dari lembah nista. Tapi nyatanya, hanya dua bulan lelaki tampan itu memberi makan dengan duit halal, setelah itu atas izinnya, Lome menekuni pekerjaan dulu: mbegenggek!

***

Hari ini entah mengapa dia ingin pulang sore-sore. Padahal tamu hari ini lumayan banyak. Sembilan lelaki, sembilan persetubuhan. Tubuh capek, tapi uang yang didapat membuat dompetnya tebal.

Lome memeluk erat suaminya. Kadang orang berpikir jika begenggek adalah pekerjaan yang mudah. Tahukah jika sesungguhnya ia jijay bila bertemu lelaki yang jelek dan jorok.

Betapa ia selalu membayangkan bercinta dengan suaminya nan tampan, bila ia melayani lelaki yang tak menarik. Ia tersenyum hanya demi uang. Ia tertawa di antara tangis dan lara hati. Ia hidup bersandiwara, pada dunia selangkangan, dan semunya kenikmatan dunia.

Sungguh, ia pernah juga jenuh dengan pekerjaannya. Seandainya ada peluang, mungkin ia akan berhenti. Tapi setidaknya bukan hari ini. Ia masih ingin memiliki uang banyak. Untuk sekolah Tiwi. Untuk makan. Untuk beli rumah. Untuk modal kerja setelah ia peyot.

Lome tak mau di serambi makan kue cucur, di dapur makan kari. Ketika muda profesi pelacur, setelah tua terjun jadi muncikari!

Sungguh…ia tak ingin selamanya berkubang dalam lumpur api, bergelimang karat maksiat!

Menarik juga dibaca:   Cerpen Via Dolorosa sang Bhikkhu

“Hati-hati, Mas!”

“Biar cepat sampai!”

“Jangan ngebut, Mas!”

“Jangan takut!”

“Nanti celaka!”

“Hahahaha…”

“Aku belum ingin mati, Mas. Aku masih ingin merawat Tiwi sampai tua. Melihatnya menikah, kita ngemong cucu. Alangkah indahnya!”

“Sama, Dik. Percaya kita takkan mati muda. Kita hidup 100 tahun lagi. Hahahaha…!”

Lome semakin melekat erat memeluk suami tersayang. Motor melaju semakin kencang, pada jalanan tepi hutan jati yang sunyi lengang. Mumpung jalanan sepi, ia menambah kecepatan lagi motor. Anak kera berjumlah 3 ekor tiba-tiba ke luar dari hutan dan cuek melintasi jalanan aspal.

Kakekane! Bangsat! Si jantan sempat mengumpat, reflek mencoba menghindar, tapi malah motor menabrak pohon, mereka terpental dan jatuh menghunjam di dalam jurang pekat di pinggir hutan lebat!

Jeritan membahana menusuk buana.

Gerimis mengundang hujan. Senja mengusap semesta.

***

Indah Pertiwi terjaga. Apakah ini mimpi? Ia mengucek mata. Ia bangkit dari ranjang, menemukan ayah dan ibunya berdiri di dekat jendela. Malam merembang, sepotong bulan digeluti mega mendung. Binatang malam menguar, menguluk salam.

“Ibu, Ayah….”

Pintu tak terbuka, mengapa mereka masuk lewat jendela. Si pipi gembil tersenyum-gemilang membalas senyum kedua orang yang sangat disayanginya-, lalu ia menguap merasa mengantuk dan ingin tidur lagi. Berharap ketika pagi ia terbangun seperti hari kemarin menemukan ayah-ibu mengurusnya.

Ibu yang memandikan dan menyisiri rambutnya. Ayah yang mengantar-jemput ke sekolah, membelikan ayam goreng, dan selalu menemaninya makan siang. Seperti hari lalu, dan lalu….

Kota Ukir, Kuwasharjo, 25 Juli 2016-12 Maret 2018

Catatan:

Begenggek: sebutan PSK dalam bahasa masyarakat pesisir gunung Muria, Jepara, Kudus, Pati, dan sekitarnya.

———–

Kartika Catur Pelita lahir pada 11 Januari 1970. Karya prosa dan puisi dimuat di media cetak dan elektronik. Buku fiksinya yang sudah terbit berjudul Perjaka dan Balada Orang-Orang Tercinta. Saat ini ia bermukim di Jepara dan bergiat di Komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ).

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Lumpur Api (Begenggek) oleh yang terbit pada Sunday, 29 April 2018 di mediaindonesia. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email sastracerpen@gmail.com untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Lumpur Api (Begenggek)

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Lumpur Api (Begenggek)

×