Cerpen Menjelang Bebas

Dimuat di kompas Edisi Sunday, 11 March 2018
Oleh - Dibaca: 14 kali -


Ilustrasi Karya I Komang Mertha Sedana

Dengan debar jantung seorang penderita aritmia, Hendar terus menatap ke luar jendela dari lantai dua rumahnya. Cemas menghantuinya sejak sebulan lalu. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hari tuanya setelah ia pensiun akan terganggu seperti ini.

”Ayah tidak boleh terus-menerus ketakutan seperti itu. Putusan yang ayah jatuhkan benar-benar   berdasarkan hati nurani dan sesuai dengan ketentuan undang-undang,” ujar putranya Hamonangan.

Hendar tampaknya  tidak mendengar kata-kata anaknya itu. Atau pura-pura tidak mendengarnya. Ia terus menatap ke luar jendela. Kelihatannya ia menunggu sesuatu atau seseorang yang entah kapan munculnya.

”Ia tidak sejahat seperti yang ayah katakan. Ayah adalah temannya sejak sekolah dasar. Walaupun ia bekas kepala preman dan dikenal dengan sebutan Preman Besar, aku yakin ia tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Kebebasan yang akan  diperolehnya tidak akan membuatnya gegabah. Percayalah, Ayah,” Hamongan melanjutkan.

Hendar mengalihkan tatapannya ke wajah anaknya. Namun, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tetap yakin, Gorga akan datang menemuinya dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Itu yang tak pernah terpikirkan olehnya selama lima tahun terakhir, selama Gorga disekap,  sejak ia menjatuhkan putusannya. Karena keputusan itu pula banyak pujian yang dilontarkan kepadanya, termasuk dari berbagai media arus utama. Hendar dianggap berani, karena tokoh yang  dihadapinya adalah orang yang terkenal berdarah dingin dan berani berbuat apa saja untuk kepentingannya.

Karena ayahnya tidak mengindahkan sarannya, Hamonangan meninggalkan orangtuanya seorang diri di lantai dua itu. Hamonangan merasa ia harus mengucapkan kata-kata yang sama keesokan harinya, keesokannya lagi dan hari-hari seterusnya.

Gorga bukan hanya sekali diajukan ke pengadilan. Tetapi ia senantiasa lolos, karena para hakim yang mengadilinya tetap mengeluarkan keputusan bebas murni. Desas-desus pun tak terelakkan. Keputusan bebas murni itu diberikan karena para hakim takut pada orang yang mereka adili. Hanya Hendar yang berani menjatuhkan putusan lima tahun penjara kepada Gorga, temannya sejak sekolah dasar itu.

Sebelum putusan mengejutkan itu diucapkan, Gorga sudah merasa Hendar akan berani mengambil keputusan  sesuai dengan tuntutan jaksa. Gorga merasa seperti itu karena  Hendar bukan orang mudah melumpuhkan hati nuraninya. Hati nurani itu tidak mengenal kompromi, teman, famili, atau ancaman. Apalagi ia sadar, putusan yang dijatuhkan bukanlah putusan yang diambilnya seorang diri, tetapi keputusan bersama dengan empat hakim anggota lainnya. Karena itu Gorga tidak berharap kali ini ia akan bebas  dari hukuman. Ia akan menerima hukuman tersebut dan tidak akan berupaya untuk mengajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Pemesan Batik

Hendar sendiri pun yakin, Gorga akan menerima hukuman seperti yang dijatuhkan kepadanya. Karena itu ia tidak pernah sedikit pun merasa takut untuk mengucapkan putusan yang telah disepakati bersama itu. Hendar sadar, ia dan Gorga  berteman sejak sekolah dasar. Tetapi perjalanan hidup telah membuat mereka berada pada kutub yang berbeda dan tidak saling berkomunikasi selama bertahun-tahun. Tidak berkomunikasi bukanlah berarti mereka saling melupakan apalagi  berseteru.  Hendar tahu bahwa Gorga adalah raja dunia hitam yang ditakuti di kota mereka. Begitu pula Gorga. Ia tahu Hendar adalah penegak hukum  yang tegas dan tidak jarang membuat terdakwa yang diadilinya gentar walaupun mereka didampingi penasihat hukum yang punya nama besar yang selalu memenangkan kliennya.

”Masih Gorga juga yang ditunggu?” tanya istrinya.

Hendar yang menghadapkan kursinya ke jendela rumahnya di lantai dua itu tidak merasa perlu menjawab pertanyaan istrinya. Ia merasa anaknya, Hamonangan, dan istrinya,  Lumongga, hanya berupaya mengusir, paling tidak mengurangi rasa takutnya. Bisa saja mereka juga takut, tapi itu tidak mereka perlihatkan.

”Bapak dan teman-teman hakim pernah menjatuhkan hukuman  yang sama beratnya kepada seorang tokoh politik, pemimpin partai dan pejabat penting. Tapi Bapak tenang-tenang saja sampai bekas pejabat penting itu dibebaskan. Apa bedanya dengan Gorga? Mengapa Gorga begitu  menyiksa pikiran Bapak?”

Lalu lintas di jalan raya masih ramai dengan kekurangajaran pengguna jalan itu. Masing-masing saling mendahului, saling serobot dan saling menyalib. Hendar menyaksikan semua itu tanpa reaksi, karena hal itu memang telah menjadi kebiasaan pengguna jalan. Tidak ada yang perlu dirisaukan karena lalu lintas yang semrawut itu.

”Mengapa Bapak tidak menemui keempat hakim  teman Bapak ketika menjatuhkan hukuman itu untuk  mengetahui apakah mereka juga gusar  dan takut karena Gorga akan bebas bulan depan? Bapak  tidak perlu menanggung beban ini seorang diri,” tutur istrinya lagi.

Pemikiran yang baik, ujar Hendar kepada dirinya. Bisa saja teman-temannya yang menjatuhkan hukuman itu tidak merasa ada yang mengkhawatirkan yang akan terjadi. Apalagi mereka adalah hakim-hakim yang baik, jujur dan terpuji integritasnya. Tetapi mereka semua bukan teman Gorga sejak sekolah dasar. Bahkan, mereka tidak mengenal Gorga secara pribadi. Perlukah aku menemui mereka? Hendar bertanya kepada dirinya. Ah, tidak. Kerisauanku ini tidak perlu diketahui orang lain, selain istri dan anakku.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang

Hari pembebasan Gorga semakin mendekat. Kegalauan Hendar juga meningkat. Terkadang tengah malam ia membuka gorden jendela dan menatap jauh ke ujung jalan. Waktu tidurnya semakin berkurang dan tubuhnya semakin kurus. Tanpa ada yang menganjurkan akhirnya ia memutuskan untuk langsung menemui Gorga di penjara dan menghentikan aktivitasnya menunggu di depan jendela di lantai dua rumahnya.

”Aku akan ke penjara menemui Gorga,” katanya kepada istrinya setelah selesai sarapan pagi.

Istrinya yang tidak percaya pada pendengarannya itu, berpaling dan bertanya.

”Menemui Gorga di penjara?”

”Ya.”

”Untuk apa?”

”Untuk meminta maaf.”

”Bapak tidak bersalah. Bapak telah mengambil putusan yang benar.”

”Ada wartawan yang mengatakan, Gorga menjadi korban peradilan sesat. Yang bersalah sebenarnya bukan Gorga, tetapi orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Orang  itulah yang membunuh hakim pemberani itu. Gorga hanya menjadi korban  dari orang yang akan menggantikannya.”

”Orang yang akan menggantikannya?”

”Ya, orang yang akan menggantikannya sebagai pelindung dan penyelamat orang-orang penting di kota itu. Sebelum ini mereka membutuhkan Gorga, belakangan mereka berpaling dari Gorga karena Preman Besar ini telah melanggar janji dan bersekutu dengan aparat.”

”Aku harap setelah menemui Gorga dan meminta maaf  Bapak akan merasa lebih tenang.”

”Tidak jadi membesuk Gorga,  Ayah?” tanya Hamonangan.

Hendar diam. Ia menunda kunjungan menemui Gorga diambilnya satu jam sebelumnya. Ia tidak yakin Gorga disekap di penjara yang akan dikunjunginya  itu. Jangan-jangan Gorga telah dipindahkan entah ke mana, atau telah dilenyapkan. Kata kerja pasif ”dilenyapkan”  tiba-tiba seakan memberikan kekuatan kepadanya. Mudah-mudahan Gorga memang telah dilenyapkan. Dengan demikian sebuah dendam juga  tak terbalaskan. Hendar kelihatan tenang. Ia telah menemukan jalan keluar. Mulai besok ia tidak akan duduk menunggu lagi di depan jendela di lantai dua itu karena Gorga telah tiada. Yang pernah ada telah menjadi tiada. Yang ditakutkan tidak pernah akan datang menyergapnya.

”Kan Ibu sudah lama mengatakan kepada Ayah, Gorga yang sering Ayah sebut itu tidak pernah dijatuhi hukuman dan tidak pernah disekap dalam bui. Ia teman Ayah, teman sejak sekolah dasar. Teman baik yang selalu datang bersilaturahim.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Bunga dari Ibu

”Kau yakin Gorga tidak pernah di penjara?”

”Sangat yakin. Lihat itu siapa yang datang.”

Hendar berpaling dan melihat ke halaman depan rumahnya.

”Gorga, ya Gorga.”

”Ayah dihantui pemikiran yang bukan-bukan setelah pensiun. Padahal Ayah tidak pernah menjadi hakim seumur hidup Ayah. Ayah hanya bekerja di Kementerian Kehakiman sebagai pegawai tata usaha.”

Hendar berupaya keras memanggil  kembali ingatannya yang bersembunyi entah ke mana. Begitu ingatan itu kembali ke tempatnya, Hendar langsung bertanya, ”Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Mendengar pertanyaan Ayahnya itu  Hamonangan dengan tenang berkata:

”Berbagai pemikiran dan khayalan sering kali timbul setelah seseorang pensiun. Banyak yang seperti itu. Terutama buat orang yang tidak menjaga kejernihannya berpikir. Mengurus bunga-bunga di halaman yang luasnya tidak seberapa hanya dapat menolong sedikit. Kerja-kerja sepele juga tidak membantu banyak. Mengobrol setiap hari dengan tetangga juga membosankan. Pensiun bukanlah momok. Ini merupakan momen yang sangat baik untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya terlupakan, misalnya membaca. Ayah penggemar buku, tapi Ayah jarang sekali membaca karena rutinitas di kantor. Aku lihat Ayah terlalu banyak membuang waktu untuk menjelajah dunia khayalan yang begitu liar dan menakutkan. Temuilah Gorga, ia sudah duduk di ruang tamu.”

Tanpa membantah ia memasuki  ruang tamu menemui temannya sejak sekolah dasar itu.

Gorga adalah satu-satunya temannya yang paling tidak seminggu sekali datang menemuinya. Di luar waktu satu kali seminggu itulah Hendar berselancar dengan khayalan-khayalan yang mengantarkannya kepada perilaku yang tidak biasa itu. Termasuk duduk  di depan jendela di lantai dua rumahnya setiap hari. Dan, semua kata-kata anak dan istrinya yang menyusup ke telinganya  adalah ciptaannya sendiri.

 

Sori Siregar lebih dikenal sebagai penulis cerpen, walaupun ia juga menulis novel dan sejumlah tulisan di rubrik kolom berbagai media. Ia pernah dua kali mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta untuk novel-novelnya. Beberapa cerpennya juga terpilih dalam kumpulan cerita pendek Pilihan Kompas. Kini ia menetap di Jakarta. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke  dalam bahasa Inggris.

——————-

I Komang Mertha Sedana, biasa disapa Mang Gen, lahir di Tabanan, Bali. Ia menjadi salah satu penggagas Komunitas Djamur, sekelompok seniman street art di Denpasar. Ia pernah menjadi juara I Lomba Mural Kutabek 2007, juga menjadi juara I Lomba T-Shirt Panting Kutabek.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Menjelang Bebas oleh yang terbit pada Sunday, 11 March 2018 di kompas. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Menjelang Bebas

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Menjelang Bebas

×