Cerpen Rakai

Dimuat di radarkediri Edisi Sunday, 18 March 2018
Oleh - Dibaca: 17 kali -


Di Pantai Kuta, ombak seperti seekor ular: selalu mengawasi dari kejauhan dan mendesis tajam, terutama ketika ia menemukan mangsa yang siap untuk diterkam seperti halnya seekor tikus yang mencicit di hamparan lapang yang luas.

Ular itu tidak akan menghancurkan si tikus karena memang ular tak memiliki gigi, tapi ia akan melahap utuh tikus malang secara bulat bulat. Sayup-sayup nyiur hijau berbisik meniupkan sebuah pertanyaan yang tidak mungkin dijawab atau mungkin sengaja untuk dilupakan yang berawal dari suatu luka yang mendalam. Ombak masih mengawasi tajam bersiap untuk berperang.

*

Senja ketika bocah-bocah bermain, berlarian dan saling melempar pasir di tepi pantai, seorang lelaki datang merangkak lemah hampir sekarat sebelum akhirnya ia benar-benar tergeletak tak berdaya dengan lambaian tangannya.

Awalanya bocah-bocah hanya mengacuhkan lelaki itu ketika masih terlihat kejauhan, karena mereka berpikir ia adalah seekor anjing milik penjaga pantai yang sedang berjaga. Akan tetapi ketika salah satu bocah yang penasaran dengan lelaki yang serupa anjing memanggil nama “Woli!” tetapi yang dipanggil tidak segera menuju suara itu ia segera berlari ke arah lelaki tersebut bersama teman-temannya dan mendapati seorang lelaki sekarat yang mirip dengan seekor anjing.

Penduduk berdatangan ke tempat tersebut setelah salah satu bocah pantai memberitahu. Dengan wajah bertanya-tanya, mereka bergerombol untuk memastikan bahwa yang mereka temukan benar-benar seorang manusia sekarat, bukannya seekor anjing yang meskipun oleh bocah tersebut diberitahu bahwa mereka menemukan seorang manusia sekarat.

Awalnya mereka menjaga jarak beberapa meter dengan mengamati dan memperhatikan gerak gerik yang mirip anjing itu. Terutama ketika lelaki itu menggaruk wajahnya dengan tangan yang sudah tidak bisa disebut tangan itu karena banyak luka borok di seluruh tangan dan kakinya hingga berwarna cokelat hitam dan memperlihatkan bagian putih dagingnya di tengahnya.

Belum lagi, angin kencang sore yang meniupkan bau busuk membuat sebagian orang muntah dan mundur beberapa langkah untuk menyaksikan dari kejauhan. Tetapi akhirnya lelaki itu melambaikan tangannya sekali lagi dan dengan usaha terakhir dan terberatnya untuk mengeluarkan sisa-sisa tenaganya agar bisa berkata “tolong”, ia perlu menarik napasnya dalam-dalam sebelum berkata dengan suaranya yang bahkan sudah tidak bisa ia dengar lagi.

Tidak sampai di situ saja, keheranan dan ketakjuban penduduk yang masih saja bergerombol mengantarkan dan menemani lelaki itu untuk dibawa ke seorang mantri satu-satunya di desa itu. Usai diberikan obat dan vitamin untuk menyadarkan lelaki itu, penduduk yang masih mengintip di balik jendela kaca sekali lagi terperangah dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang asing itu.

“Pak, obat apa yang biasa digunakan untuk…” ujarnya lemah.

Si mantri yang tidak tega melihat kondisi pasiennya yang tidak serupa dengan manusia itu terpaksa memotong kalimatnya.

“Anda akan aman dan sembuh. Tenang saja, tidak usah kau pikirkan nama obat karena itu semua adalah pekerjaanku sebagai seorang mantri. Anda harus rileks dan tidak tegang karena ini akan berpengaruh terhadap…”

“Tapi pak, saya tidak ingin…”

“Sudah, Anda tenang saja. Saya tahu Anda pasti tidak memiliki banyak uang maka tenang saja karena saya yang akan menggratiskan biayanya. Yang terpenting sekarang Anda tidak sekarat karena infeksi ini.”

“Pak, saya tidak ingin sembuh!.” Teriaknya. Si mantri yang awalnya sibuk menyiapkan peralatan dan obat tiba-tiba saja tertegun, begitu pula dengan orang-orang berkerumun yang menemukan lelaki yang hampir sekarat itu di tepi pantai.

“Jangan bercanda. Anda memiliki luka yang serius.”

“Kalau begitu berikan saya obat yang dapat membuat luka-luka ini bertahan dan awet!”

Begitulah lelaki yang dikira anjing ini ditemukan karena ia sangat keras kepala tidak mau disembuhkan padahal beribu ribu orang meminta dokter untuk menyembuhkan luka dan penyakitnya. Lihat saja penampilannya yang sering dijadikan bahan pembicaraan di desa. Kulitnya yang kecoklatan karena ia tak pernah memakai baju kontras dengan kulit di bawah yang tertutup oleh celana hitam kumal itu, dengan jalannya yang merangkak karena luka borok di tubuhnya. Bahunya yang bidang serta tubuhnya yang kekar masih bisa terlihat meski sebagian tubunya tertutup oleh borok-borok yang membuat orang muntah ketika berada di dekatnya.

Orang desa tentu saja tak dapat berbuat banyak untuk lelaki yang mengaku bernama Rakai itu karena ia berencana meninggalkan desa kami segera ketika apa yang dicarinya tak juga muncul. Banyak orang desa yang melihat Rakai sedang melamun di tepi pantai seolah menunggu kekasihnya yang tiada kunjung muncul sembari sesekali menyayat sendiri luka borok di kedua kaki tangannya yang bahkan tidak kunjung sembuh itu. Pandangannya berpendar ketika ia mencoba mengingat-ingat luka pertamanya di lengan sebelah kanan.

*

Laut seperti halnya seorang ibu baginya, karena ia menemani serta membimbingnya selalu ketika ia sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku yang selalu dibawakan oleh ayahnya sepulang dari bekerja yakni koleksi lengkap novel Pramoedya Ananta Toer. Tidak lupa, ketika ia juga sambil sembunyi-sembunyi untuk menyisakan uang sakunya yang akan dibelikan novel-novel picisan yang cenderung berbau porno ketika ia menginjak remaja. Alunan lembut ombak di siang hari dan juga amukannya ketika malam hari menjelang pasang sudah mengakar dalam jiwanya yang mengajarkannya sebagai seorang pemburu.

Pemburu yang tidak akan pernah berhenti sebelum ia menemukan apa yang ia mau. Laut seperti halnya seorang ibu yang selalu membelai tubuhnya ketika ia merasa berada dalam sebuah ketakutan dan keputusasaan seorang anak yang usai dimarahi oleh sang ayah dan ia mengadu pada sang ibu yang menasehati lembut.

Ia jatuh cinta pada kehangatan ibu yang dirindukannya, terbukti dengan pilihannya yang ia jatuhkan menjadi seorang penjaga pantai ketika ia menginjak dewasa meski ayahnya sempat untuk melarangnya.  Di samping itu, ia juga bekerja freelance untuk menemani wisatawan-wisatawan yang akan menyelam atau sekedar bersenorkeling menikmati pemandangan elok bawah laut.

Ketika ia menikmati sisa terakhir rokoknya yang ia hembuskan membentuk bola-bola asap di tepi senja, ia terkejut mendapati seorang gadis yang berjalan dari arah laut dan menuju padanya. Seorang gadis yang bisa dibilang dengan dandanan yang sama sekali tidak biasa itu tersenyum ganjil ke arahnya sebelum akhirnya mendekatinya sambil menodongkan sebuah pelampung yang entah dari mana ia mendapatkannya.

Matanya yang tajam menusuk ulu hatinya untuk menuruti apa yang ia inginkan, sementara tubuhnya yang ringkih di balik baju hitamnya itu hampir saja terhempas oleh hembusan angin senja. “Hari sudah sore dan hampir gelap, maaf saya sudah tidak bisa untuk menemanimu. Barang kali besok siang saja karena siang-siang itu kamu bisa leluasa menikmati terumbu karang.”

Si wanita menatapnya laksa sebilah pisau tepat di bola mata Rakai disertai dengan senyum biru di wajahnya yang pucat. Kalung hitam bergigi taring binatang di leher si wanita melayang-layang dihembus angin senja kencang yang tidak biasa itu seolah merayu-rayu memanja dan berbisik di telinga lelaki yang akhirnya menuruti perintahnya.

Lelaki yang masih tertegun dengan aura yang tidak biasa dari pelanggannya yang dari awal pertemuan tidak bersuara sedikitpun itu merasa kikuk, terutama ketika ia mencoba melayangkan pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ‘dari mana’ atau ‘namanya siapa’ yang tidak pernah dijawab.

Akhirnya Rakai memutuskan untuk lebih aktif dengan cara bercerita, baik itu cerita-cerita tentang pelanggan-pelanggannya atau kisah hidupnya. Namun, seperti biasa wanita itu hanya tersenyum lantas diam. Rakai benar-benar dibuatnya lebih terperanjat dalam hati ketika ia memasangkan pelampung itu di tubuh si wanita dan mencium bau bunga kamboja. Awalnya ia berpikir bahwa mungkin hanyalah parfum biasa, namun ketika menyelam bersama ia masih mencium bau bunga itu. Bahkan ketika mereka selepas menyelam, bau itu masih juga bergelayut lebih wangi di tubuhnya.

Ketika mereka menikmati pemandangan bawah laut yang hampir saja tidak terlihat apa-apa jika rakai tidak membawa lampu tahan air, lelaki itu meraskan sebuah pesona yang luar biasa terlebih ketika tangan mereka bertemu, lalu Rakai membimbingnya menunjukkan ratusan terumbu karang yang sangat indah. Senyumnya begitu meluluhkan hatinya yang tidak berkedip sedikitpun memerhatikan pundak yang ramping itu, sehingga ia bahkan tak merasakan perih ketika usai menyelam mendapati lengannya terluka dan berdarah akibat menyentuh terumbu karang.

Tak terasa hari sudah menunjukkan hampir tengah malam, padahal ia merasa sebentar menyelam dengan wanita itu. Masih dalam senyumannya yang biru, wanita itu kemudian membelai dan menyentuh lembut lengan berdarah Rakai.

Antara sadar dan tidak sadar, lelaki itu tiba-tiba terkesiap karena ia melihat sebuah bayangan ketika masih kecil di malam purnama, bulan kelahirannya, tatkala larung sesaji siap dipersembahkan kepada sang penguasa laut.

Lidah ombak menjilat-jilat seperti halnnya seekor singa sirkus kelaparan yang mencium aroma daging di tangan sang majikan. Sementara kabut dingin mengepul dan berkumpul tepat di tengah-tengah laut meneriakkan kebebasan, kemerdekaan. Di antara kerumunan beberapa penduduk desa itu, Rakai adalah peserta larung terkecil yang bersembunyi di balik tubuh sang ayah sebagai pemimpin perayaan larung tahun ini.

Samar-samar Rakai masih mendengar suara samar dari beberapa wisatawan yang berbahagia dan menikmati pantai. Suara tawa, canda. Akan tetapi dari hati kecil Rakai, ia mendengar gelak mencurigakan, sebuah bayangan hitam berbisa yang semakin mendesis dan mendekat.

Rakai sempat tergagap, tetapi tangan itu semakin lembut membelai luka Rakai yang masih berdarah-darah. Sekali lagi lelaki itu melihat dirinya yang kecil masih dengan ombak-ombak yang semakin menggonggong di tengah kepulan kabut dan di bawah sang rembulan yang mulai ketakutan di balik mendung yang gemetar. Rakai kecil berada dalam genggaman erat sang ayah yang tak usai-usainya berkomat-kamit sembari memercikkan pematik dari balik kantong celana hitamnya. Angin berhembus lebih kencang, sehingga berkali-kali pematik itu mati di tangan ayah Rakai. Api itu akhirnya bersemayam dalam teplok kecil yang disuguhkan di antara beberapa nasi kuning, kepala sapi, serta beberapa persembahan berupa hasil bumi. Persembahan larung sesaji itu seolah diterima dan langsung dilahap oleh ombak laut tak henti-hentinya berteriak lebih kencang berkejaran melahap dengan segala umpat. Kabut-kabut semakin menebal menelingkupi hampir seluruh permukaan laut, sementara tangan Rakai kecil dingin gemetar di balik saku jas milik ayahnya.

“Allohuakbar!!! Allohu akbar!!! Allohuakbar!!!”

“Aaarrgghhh!!

“Tolong!!!”

“Pyaarrr!!!”

Lelaki itu lagi-lagi hampir tergagap riuh-riuh ia mendengar suara-suara ribut seperti halnya ada sebuah ancaman. Samar-samar ia mendengar seorang gadis cilik menangis, berteriak mencari ibunya. Percikan panas api menghangat, tapi lelaki itu masih kabur. Ia sungguh tak bisa membuka matanya, karena untuk kali pertama akhirnya wanita itu bersuara. Seperti halnya suara dari surga yang baru pertama kalinya ia dengar.

“Tenang, kau selalu berada di sisiku, sayangku.”

Bayangan kabur mengerikan itu tiba-tiba menjadi gelap. Ia merasakan pelukan hangat, bahkan pelukan terhangat yang pernah ia rasakan dari seorang wanita. Wanita itu mencium bibirnya dengan lembut sebelum akhirnya memberikan pelukan selamat tinggal lembut sebagaimana belaian terhadap lukanya yang belum kunjung pulih.

“Arrgghh!”

Betapa terkejutnya lelaki itu, karena tiba-tiba ia berada di hampir tengah laut, sedangkan ia terkejut karena ia melihat percikan api yang besar, sebuah klub di seberang hangus sementara ia melihat banyak korban berjatuhan, entah itu mati atau sekarat. Sementara orang-orang menangis kebingungan berlarian menyelamatkan nyawa mereka. Mobil-mobil ambulan dan polisi tiba sekitar 15 menit kemudian lengkap dengan pemadam kebakaran. Rakai takjub sebentar, lantas ia berenang menepi ketika ia merasakan sebuah tanganmenarik tubuhnya. Sial! Tangan wanita itu lagi! Pikirnya. Ia lantas meronta dengan segala kekuatan yang ia punya, tetapi tarikan itu terasa kuat dan semakin kuat seolah tak ingin rakai meninggalkannya. Tiba-tiba sebuah dentuman kedua menyusul. Lelaki itu tak mendengar apapun, karena hampir seluruh tubuhnya  tenggelam mengikuti tangan itu. Ia hanya bisa melihat ada sebuah nyala api di balik beningnya laut hingga dentuman ketiga yang berada dari tempat yang agak jauh yang hanya ia dengar suarnya. Tangan lembut yang membuatnya terlena itu perlahan melepaskan genggamannya. Tetapi ia tak sempat lagi untuk mencari wanita itu dan segera ingin menepi.

Dengan langkah gontai, lelaki itu berjalan. Ia melihat darah, organ dan bagian tubuh yang hancur, terpisah-pisah bertebaran seperti halnya pasir putih di tepi pantai. Dalam hati ia mengumpat wanita yang menyelipkan kalung gigi taring yang ia berikan di saku celananya sewaktu ia menariknya di laut. Rakai berlari, menginjak bagian-bagian tubuh itu dengan harapannya yang tertinggi untuk bertemu ayah.

“Ayah!”

“Ayah! Di mana kau berada?!”

Pikirannya kalap, lelaki itu membongkar dan mengacak puluhan bagian-bagian tubuh yang terpisah dari bagian lainnya itu demi menemukan jasad ayahnya. Darah dan daging tumpah mengenai hampir seluruh bagian tubuhnya ia acuhkan begitu saja seperti halnya orang kesurupan.  Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kaki di balik celana hitam favorit ayahnya seperti yang ia pakai ketika larung sesaji dilakukan. Tatapan Rakai tak lagi seperti seseorang yang kalap. Kini tatapan itu kosong sekosong perasaanya ketika ia didongengi sebuah kisah dewa Siwa atau Krisna yang setiap hari ayah ulangi agar Rakai tumbuh menjadi seorang yang benar-benar kosong. Karena ia hanya memiliki seorang ayah ketika ibunya memilih untuk meninggalkannya jauh ke luar negeri dan tak pernah kembali. Jiwanya benar-benar kosong, sekosong Rakai kecil yang menatap ayah dan ibunya saling mencaci dan membanting piring ketika ibunya sering pulang larut malam dan Rakai hanya bertanya “apa yang orang dewasa lakukan?”. Tatapan itu masih kosong ketika ia mendapat sebuah kecupan selamat tinggal dari seorang wanita yang melahirkannya dan hanya menitipkan sebuah pesan yang sangat singkat.“Jaga diri dan ayahmu baik-baik ya nak.”. Tatapan itu masih kosong, sekosong ia terbius oleh aroma kamboja, tangan lembut yang membelai luka lengannya, serta kecupan di dalam laut yang mesra.

Digenggamnya erat-erat celana hitam itu seperti Rakai kecil yang menenggelamkan tangannya di dalam celana itu tatkala perayaan larung dengan ayahnya. Sayup-sayup terdengar berita bahwa sekelmpok teroris mengebom Bali dengan cara menggunakan bom bunuh diri, tapi pemuda itu sama sekali tak tertarik untuk mengikuti berita tersebut. Pantang baginya untuk menangis karena sekarang yang hinggap di kepalanya hanyalah wanita beraroma kamboja yang menyisakan luka di lengannya itu. Dengan celana hitam milik ayahnya itu, ia susul ke manapun arah yang ingin ia tuju. Dan sudah pasti ia memilih laut sebagai tempat tujuan ia berlabuh, sebagaimana ketika ia menumpahkan kesedihannya untuk mengadu pada seorang ibu atau kekasih pujaan hatinya. Karena dengan membawa luka yang setiap hari ia sayat sendiri menggunakan kalung taring milik wanita itu persis seperti ia dapatkan luka itu pertama kalinya, ia masih berharap tangan itu kembali lagi untuk membelai dan mengelusnya lebih lembut daripada biasanya.

Hingga sekarang, Rakai masih menyayat luka di lengan dan kakinya hingga membusuk dan membekas nanah. Meski perih karena asinnya air laut menghunus luka-luka itu setiap saatnya, ia rela berjalan seperti halnya seekor anjing di tepi pantai yang membawa luka-luka itu menerjang dari laut satu ke laut lainnya untuk menahan luka di hatinya yang jauh lebih perih daripada sekedar luka borok itu.

In memories Bali Oktober 2002

Malang, 4 Oktober 2015

*Penulis dari Wlingi, Kabupaten Blitar

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Rakai oleh yang terbit pada Sunday, 18 March 2018 di radarkediri. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Rakai

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Rakai

×