Teknik Penceritaan Cerpen “Tikus dan Manusia” karya Jakob Sumardjo (Kajian Formalisme Rusia)

Dimuat di pelajaran Edisi Sunday, 11 December 2016
Oleh - Dibaca: 32 kali -


TEKNIK PENCERITAAN DALAM CERPEN

TIKUS DAN MANUSIA

(KAJIAN FORMALISME RUSIA)

 

NAMA : VINI RAMADHANI
NIM : 1514015019
KELAS : SASTRA INDONESIA “A”

 

Cerpen Tikus dan Manusia karya Jakob Sumardjo merupakan cerpen yang menceritakan tentang sekumpulan tikus yang menjadi pengganggu manusia. Dia masuk kerumah tokoh utama dan menyebabkan perang besar di dalam keluarga ini. Istri dari tokoh utama adalah seseorang yang takut dengan tikus, cerewet dan panik. Tokoh utama dan istri pun mencari cara untuk membunuh tikus-tikus itu. Sang istri meminta tolong kepada Mang Maman untuk membunuh dan membuang bayi-bayi tikus itu. Namun Mang tidak ingin membuangnya melainkan ingin membawa pulang bayi-bayi tikus itu untuk dijadikan obat kuat.

Dalam cerpen ini teknik penceritaan yang dilakukan oleh pengarang adalah sudut pandang orang pertama sebagai pencerita. Yaitu, tokoh utama sendiri yang bercerita tentang apa yang dialaminya.

Penggunaan teknik penceritaan sangat erat kaitannya dengan Formalisme Rusia. Secara singkat, konsep defamiliarisasi dalam Formalisme Rusia merupakan teknik yang dilakukan pengarang untuk mengolah fabula menjadi sederet sjuzet. Defamiliarisasi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu untuk mengolah fabula sehingga memunculkan efek tertentu pada pembaca.

Analisis menggunakan kajian Formalisme Rusia ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan objektif sehingga dapat menemukan teknik penceritaan yang digunakan oleh pengarang untuk mengembangkan cerita sehingga memunculkan efek tertentu untuk pembaca. Analisis ini menggunakan teknik-teknik penceritaan yang digunakan pengarang dan efek yang ditimbulkan olehnya.

Teknik Penceritaan dalam Cerpen

Ada beberapa teknik penceritaan yang digunakan pengarang dalam cerpen ini. Teknik penceritaan orang pertama adalah sebagai tokoh utama dalam cerpen ini. Pengarang menghadirkan suami sebagai tokoh utama yang menceritakan masalah yang sedang dialaminya didalam kehidupan rumah tangganya. Pada teknik penceritaan orang pertama ini, pengarang juga memanfaatkan teknik analitik. Teknik penokohan analitik disini digunakan sebagai penggambaran kepada tokoh utama yang menceritakan secara langsung melalui uraian, deskripsi atau penjelasan oleh sang pengarang. Tokohnya dihadirkan ke pembaca dengan tidak berbelit-belit. Dengan ini sang pembaca akan lebih memerhatikan kepada cerita dan plot.

Cerpen ini merupakan kisah rumah tangga sepasang suami-istri yang tinggal ditengah kebun. Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh utama yang pertama kalinya menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang dan yang tak diinginkan itu. Sang suami menceritakan asal mula kehadiran tikus-tikus pada saat ia sedang menonton film The End of the Affair. Tiba-tiba kakinya diterjang benda dingin yang meluncur kearah televisi dan ia lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di rak buku.

Cerita dilanjutkan dengan pemaparan mengenai munculnya kemarahan dan dendam oleh sang suami yang ingin membunuh tikus itu dengan mencari keberadaan tikus dibalik rak buku. Namun ia tidak menceritakan keberadaan tikus itu kepada sang istri, sebab istrinya sangat membenci tikus.

Cerita dilanjutkan dengan pemaparan mengenai peristiwa koruptor. Pemaparan ini dilakukan dengan cara pengandaian oleh pembaca setelah membaca cerpen ini. Cerpen ini menyinggung tentang seorang koruptor yang fakta yang didapatkan dari peristiwa ini. Cerita dilanjutkan dengan sang suami yang menceritakan kepada sang istri bahwa ada keberadaan tikus itu didapur. Sang istri pun lalu meminta suaminya untuk menangkap tikus tersebut dengan menggunakan lem fox. Dibagian pertengahan cerita pada saat tikus itu berhasil ditangkap dan dibuang ditempat sampah. Namun, tikus itu melarikan diri ke kebun yang ada dismping rumah dengan cara meloncar dari tempat sampah pada saat Mang Maman menuangkan sampah dari tempat sampah ke gerobaknya. Berhari-hari pun mereka memsang jebakan tikus dengan lem fox dan memberi umpan ditengan lem itu. Agar tikus yang lepas itu masuk kedalam perangkap itu. Setelah itu ada tikus lain lagi yang memasuki rumahnya dan sang istri pun memberi tahu kepada suaminya bahwa tikusnya kena jebakan yang mereka buat. Namun, setelah diamati itu bukan tikus yang lepas itu melainkan ada tikus lain dan mungkin itu istrinya.

Beberapa hari kemudian tikus yang mereka cari pun terperangkap didalam jebakan lem tikus itu dan kemudian dipukul oleh sang suami agar tikus itu tidak bisa kabur lagi. Lalu bangkainya dibuang Bi Nyai ditempat sampah. Beberapa hari setelah itu istrinya pun mendengar sayup-sayup suara bayi tikus dan mereka harus menemukan sarangnya. Kalau tidak rumah mereka menjadi rumah tikus.

Di akhir cerita mereka melakukan pencarian besar-besaran hingga mencari ke para-para. Mang Maman pun yang disuruh untuk naik ke para-para untuk mencari bayi-bayi tikus tersebut. Tidak lama kemudian Mang Maman menemukan bayi-bayi tikus itu dan membawanya keluar dengan kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga. Lalu sang istri memintanya untuk membunuh dan membuangnya ke tempat sampah. Namun, Mang Maman tidak ingin membuangnya melainkan ingin membawanya pulang untuk dijadikan sebagai obat kuat.

Dari bagian-bagian sjuzet cerpen ini, dari rangkaian cerita, penggunaan lokasi dalam cerita dapat diketahui terdapat pengandaian yang mendasari fabula dalam cerpen ini. Fabula yang digunakan adalah kejadian pada sebuah kota ada seorang koruptor yang sudah diketahui oleh komisi pemberantas korupsi. Lalu para KPK mencari cara untuk memberantas para koruptor tersebut. Ketika sudah ditangkap maka ada koruptor-koruptor lainnya yang berkembang.

Tiba-tiba kaki saya diterjan benda dingin yang meluncur kearah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis kedua kaki saya angkat keatas.

Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku. Tangan saya pun amat kebelet memukul habis itu tikus. Namun, tak saya lihat wujud benda apa pun di sana. Mungkin begejil item telah masuk rak bagian bawah di mana terdapat lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi.

Pada kutipan diatas, terlihat adanya pernyataan dari tokoh utama yaitu suami yang berperan sebagai anggota komisi pemberantasan korupsi. Pada saat itu koruptor mulai mencurigai bahwa keberadaannya mulai diketahui sehingga ia lari ke suatu tempat untuk bersembunyi. Namun, pada saat pelariannya itu para aparat pemberantas korupsi ini pun tahu akan keberadaannya dan ia meminta tolong kepada pihak berwajib untuk sama-sama melakukan penangkapan. Akan tetapi pada saat tempat itu di datangi oleh para aparat dan kepolisian, para koruptor ini tidak ada di tempat yang dituju itu. Mungkin ia melarikan diri ke tempat lain, karena keberadaannya ditempat itu sudah diketahui. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang melandasi fabula cerpen ini adalah peristiwa pengejaran antara koruptor dengan aparat pemberantas korupsi.

Teknik penceritaan orang pertama disini menggunakan teknik penokohan analitik yang menunjukkan bahwa kejadian itu benar-benar dialami oleh tokoh utama. Seorang koruptor yang keberadaanya mulai diketahui pihak aparat dan kepolisian sehingga melarikan diri dan terjadilah kejar-kejaran antara pihak kepolisian komisi pemberantas korupsi dengan seorang koruptor.

Tidak ada pengongkretan fakta yang digunakan dalam cerpen ini. Karena banyak pengandaian yang terjadi tentang tikus dan manusia. Jadi disini ceritanya seolah-olah tikus sebagai koruptor dan manusia sebagai komisi pemberantasan korupsi dan pihak kepolisian yang ingin menangkap para koruptor yang merajalela.

Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem. Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.

Pada kutipan di atas, terlihat konflik yang dialami oleh suami atas usahanya menangkap tikus itu. Hal ini terjadi karena tikus itu sebagai penggangu di dalam rumah tangganya.

Selain itu teknik pengamatan juga dilakukan untuk mengamati kejadian yang ada disekeliling tokoh utama. Yaitu pada saat tokoh utama berhasil menangkap tikus itu ia pun mengamati tikus itu bawa tikus itu tidak berbulu dan sorot matanya yang memelas seolah minta ampun. Disini beranggapan bahwa aparat dan kepolisian telah menangkap koruptor itu dengan jebakan yang sudah direncanakan dan pada saat tertangkap sang koruptor ini mempunyai banyak alasan bahwa ia bukan koruptor agar tidak dihukum.

“Tadi terdengar didapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar setengah jam kemudian Mang Maman berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga.

“Ini Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas. Lihat, napas mereka sudah tersengal-sengal.”

“Bunuh dan buang ke tempat sampah Mang” kata istri saya.

“Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.”

“Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran

“Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis.

Kutipan diatas menunjukkan pemecahan konflik yang dialami suami-istri karena terganggu di rumahnya dan segera ingin membunuh tikus-tikus itu agar rumahnya aman dari tikus. Hal ini terjadi setelah ia tahu bahwa ada keberadaan tikus di dalam rumahnya dan tikus-tikus itu tidak akan pernah habis walaupun sudah dibunuh satu melainkan masih ada bayi-bayinya. Maka kejadiannya sang istri disini berperan sebagai masyarakat yang sangat tidak suka akan keberadaan koruptor di negaranya dan ia meminta tolong kepada aparat yang bertugas di komisi pemberantasan korupsi untuk segera menangkap para koruptor. Tetapi sudah tertangkap satu masih ada bibit-bibit koruptor yang baru dan pada saat ditangkap oleh orang yang bukan dalam bidangnya. Maka, koruptor-koruptor baru itu pun dibebaskannya dengan alasan bisa di nasehatin dan diberi masukan agar tidak melakukan hal tersebut dan digunakan untuk membantunya hingga pembahasanya disebur sebagai obat kuat.

Simpulan

Analisis menggunakan teori Formalisme Rusia pada cerpen ini dapat menunjukkan teknik-teknik yang digunakan pengarang dalam mendefamiliarisasikan fabula menjadi sjuzet. Teknik yang digunakan adalah teknik penceritaan orang pertama, teknik penokohan analitik, dan teknik pengamatan. Dari analisis ini pula diketahui bahwa kejadian yang mendasari fabula dalam cerpen ini adalah kejadian seorang koruptor yang sudah diketahui oleh komisi pemberantas korupsi. Lalu para KPK mencari cara untuk memberantas para koruptor tersebut. Ketika sudah ditangkap maka ada koruptor-koruptor lainnya yang berkembang.

Sumber

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Teknik Penceritaan Cerpen “Tikus dan Manusia” karya Jakob Sumardjo (Kajian Formalisme Rusia) oleh yang terbit pada Sunday, 11 December 2016 di pelajaran. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Teknik Penceritaan Cerpen “Tikus dan Manusia” karya Jakob Sumardjo (Kajian Formalisme Rusia)

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Teknik Penceritaan Cerpen “Tikus dan Manusia” karya Jakob Sumardjo (Kajian Formalisme Rusia)

×