Budayawan Jakob Sumardjo Raih Nabil Award 2015

Dimuat di berita Edisi Monday, 16 November 2015
Oleh - Dibaca: 13 kali -


Jacob Sumardjo (Dok. Harris S)

Budayawan dan kritikus sastra Jakob Sumardjo meraih Nabil (Nation Building) Award 2015 dari Yayasan Nabil yang didirikan mantan Ketua Umum Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Eddie Lembong pada 2006. Panitia menilai penulis cerita pendek dan ahli filsafat itu banyak berperan dalam memperkuat kebhinekaan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia melalui berbagai karya tulisnya.

“Penghargaan kepada Pak Jakob akan kami serahkan Rabu (18/11),” kata Didi Kwartanada, Asisten GM Yayasan Nabil kepada detik.com, Senin (16/11).

Salah satu kajian Jakob yang cukup fenomenal, menurut Didi, adalah tentang kesusastraan Indonesia Modern dan Melayu Tionghoa. Begitupun dengan kajiannya tentang sastra lisan Sunda ditinjau dari perspektif penyerbukan silang antarbudaya dinilai telah ikut memperkuat ikatan kebhinekaan.

Menarik juga dibaca:   Sirajatunda

Tulisan-tulisan Jakob mengenai kesusasteraan Melayu Tionghoa sejak akhir 1970-an, juga telah membantu diterimanya genre sastra ini ke dalam narasi besar sejarah sastra Indonesia modern. Padahal sejak Indonesia merdeka jenis kesusastraan yang telah menghasilkan lebih dari 3.000 karya itu dianggap karya sastra “asing”.

“Sedari 1980-an Pak Jakob menyebutkan, sastra ciptaan Kwee Tek Hoay, misalnya, mutunya jauh melampaui karya-karya Balai Pustaka pada umumnya. Temuan ini ikut membuka pintu pada pengakuan resmi atas sastra Melayu Tionghoa,” papar Didi.

Menarik juga dibaca:   Bilik Sederhana JAKOB SUMARDJO

Nama Kwee Tek Hoay yang disebut Didi, menerima Bintang Parama Dharma, anugerah bintang budaya tertinggi dari Pemerintah RI pada 8 November 2011. Selain itu, Jakob juga banyak meneliti sastra Lisan Sunda, dan menyumbangkan pemikirannya pada masalah “nation building” dengan sentilan-sentilannya mengenai karakter manusia Indonesia dewasa ini.

Jakob Sumardjo lahir di Jombor-Danguran, Klaten, 26 Agustus 1939. Ia menamatkan pendidikan sarjana sejarah di IKIP Bandung. Mengawali karier sebagai guru di SMA Santa Angela, Bandung, namanya kemudian identik dengan institusi utamanya, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kini bernama Institut Seni Budaya (ISBI) Bandung. Ia juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pasundan.

Menarik juga dibaca:   Mengenang Cerpenis Danarto: Jantung Hati

Sepanjang kariernya, Jakob sudah menghasilkan hampir 50 buku dan ratusan artikel, yang semuanya lahir dari mesin tik Royal 200 yang dibelinya pada 1970. Sebelumnya, mereka yang pernah menerima Nabil Award antara lain Dr. Claudine Salmon (2007), Prof Saparinah Sadli (2011), Siti Musdah Mulia dan Yudi Latif (2012), serta Yayasan Bumi Khatulistiwa (2014). ***

Sumber

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Budayawan Jakob Sumardjo Raih Nabil Award 2015 oleh yang terbit pada Monday, 16 November 2015 di berita. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Budayawan Jakob Sumardjo Raih Nabil Award 2015

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Budayawan Jakob Sumardjo Raih Nabil Award 2015

×