Tikus dan Manusia

Dimuat di esai Edisi Tuesday, 23 February 2016
Oleh - Dibaca: 31 kali -


Dalam dunia literasi, banyak kita temukan novel atau cerpen menceritakan tentang Tikus dan Manusia. Tikus (rumah) dan manusia, sesungguhnya, hidup dalam habitat yang sama. Manusia tingggal di rumah dan tikus juga mendompleng dalam rumah manusia. Persoalannya, tikus bukan sahabat yang baik bagi manusia karena tikus sering menganggu dan mendatangkan banyak permasalahan bagi manusia.

Salah satu novel yang berkaitan dengan binatang ini adalah novel Sampar atau La Peste karya Albert Camus. Novel ini sangat fenomenal dan mengantarkan Camus meraih hadiah Nobel Kesusasteraan. Dalam novel ini diceritakan bagaimana penyakit sampar atau pes menyerang manusia tanpa diketahui sebab pastinya. Sampar atau pes adalah penyakit menular yang dapat menulari manusia maupun hewan yang disebabkan oleh tikus. Penyakit sampar sangat merepotkan penduduk seisi kota Oran dan sampai menyebabkan orang yang terjangkit penyakit ini harus disingkirkan dan kucilkan untuk menghindari wabah penyakit ini semakin meluas.

Wabah sampar tidak hanya mengakibatkan seisi kota menjadi lumpuh tetapi wabah ini juga membuat dokter tidak lagi menjadi penyembuh penyakit. Tetapi, dokter hanya bisa mendiagnosa dan memutuskan pengucilan orang yang terjangkit sampar. Dalam konteks cerita ini, Camus hendak menggambarkan suasana Perancis pada masa Nazi seperti wabah penyakit sampar.

Di dalam literasi lokal, Jakob Sumardjo dalam cerpennya yang berjudul “Tikus dan Manusia” juga menceritakan interaksi Tikus dengan Manusia. Tikus dalam cerpen ini digambarkan secara gamblang sebagai penganggu manusia. Dia masuk ke rumah tokoh utama dan menyebabkan “perang besar” dalam keluarga ini. Istri dari tokoh utama adalah seorang pembenci tikus. Namun, ketika tokoh utama dan istrinya berhasil memerangkap tikus ini beserta dengan bayi-bayi tikus dan hendak membunuh mereka maka sekonyong-konyong datang “penyelamatan” dari Mang Maman, pembantu yang bekerja pada tokoh utama dan istrinya. Ternyata bayi-bayi tikus berguna untuk dijadikan obat kuat.

Tikus dan Koruptor

Tikus adalah binatang pengerat dan sangat mudah dijumpai di rumah-rumah (yang kotor). Ia adalah binatang yang sering membuat manusia kesal karena tingkah laku dan tindak tanduknya yang suka mencuri. Apa pun benda atau barang yang terdapat di rumah, akan digigitnya sehingga membuat benda atau barang itu menjadi rusak. Di samping itu, urinenya bau pesing sehingga membuat aroma rumah menjadi tidak sedap.

Menarik juga dibaca:   Membaca Cerpen Jakob Soemardjo

Di kotaku, di jalan-jalan kecil atau gang-gang sering dijumpai bangkai-bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Kebiasaan membuang bangkai tikus di tengah jalan sudah merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Namun, apa sesungguhnya yang hendak disampaikan atau pesan apa yang hendak diberitakan dari kebiasaan ini?

Tikus tidak seperti kucing, meskipun kucing juga suka mencuri ikan goreng di dapur, tetapi kekesalan manusia terhadap kucing tidak seperti kekesalan manusia terhadap tikus. Kucing yang mencuri ikan goreng, paling-paling dikejar dan ditimpuk ibu-ibu dengan sandal jepit tetapi tidak pernah kucing itu dibunuh dan bangkainya di buang di tengah jalan.

Sebaliknya, kekesalan manusia terhadap tikus sangat besar, karena apapun benda atau barang akan digigit oleh tikus sehingga mengakibatkan barang-barang itu menjadi rusak. Jadi, tikus dapat menjadi “teror” terhadap seisi rumah. Misalanya, ia mengigit kabel laptop si Ayah, membuang kotoran di dapur dan lemari makan si Ibu, menggigit buku-buku dan tas sekolah si Anak.

Perbuatan si tikus menyebabkan seisi rumah menderita kerugiaan. Jenis kerugiaan yang ditimbulkan oleh ulah si tikus ini akan menimbulkan efek yang panjang. Laptop si ayah tidak dapat digunakan, data-data yang tersimpan di dalamnya tidak dapat diakses sehingga menganggu pekerjaan si Ayah di kantor. Si Ibu terpaksa harus bekerja keras membersihkan piring-piring dan alat peralatan dapur karena berbau pesing. Akibatnya si Ibu tidak memiliki “mood” lagi untuk memasak makanan yang enak dan lezat. Buku-buku si Anak menjadi bau dan baunya tidak dapat hilang sehingga si anak terpaksa harus menyalin kembali seluruh buku-buku catatan.

Contoh-contoh di atas, sesungguhnya, hendak menggambarkan betapa panjang dan merusaknya efek yang ditimbulkan oleh ulah tikus. Sedangkan efek yang ditimbulkan oleh kucing itu tidak sepanjang dan serumit yang ditimbulkan oleh ulah si tikus.

Menarik juga dibaca:   Sukab dan Corynebacterium diphtheriae

Jadi, sangatlah benar manusia mengasosiasikan koruptor seperti tikus. Koruptor diumpamakan seperti tikus karena sifat, karakteristik dan ciri-ciri dari apa yang dilakukan oleh seorang koruptor itu mirip dan setali tiga uang dengan tikus. Perbuatan korupsi juga didefinisikan oleh konstitusi sebagai suatu tindak kejahatan luar biasa. Kucing yang mencuri ikan goreng itu melakukan kejahatan biasa karena efek dari kejahatan tidak sedalam dan seluas dari efek kejahatan yang ditimbulkan oleh si tikus.

Tikus dan Indonesia

Namun di republik ini, sanksi atau hukuman yang diberikan kepada seorang koruptor tidak “luar biasa” seperti definisi konstitusi yang melukiskan sebagai kejahatan luar biasa. Sanksi yang diberikan kepada koruptor cenderung ringan bahkan bisa jauh lebih ringan dari sanksi yang diberikan kepada kejahatan biasa.

Memang, tidak “berperikemanusiaan” apabila kita hendak menyamakan hukuman yang diterima oleh si tikus dan koruptor. Sebab, tikus adalah binatang tidak berakal budi, sedangkan manusia memilikinya. Tetapi, manusia yang berakal budi bukannya mempergunakan akal budinya demi kemaslahatan umat manusia tetapi memperkaya diri sendiri dengan cara curang. Jadi, sesungguhnya koruptor derajatnya lebih rendah dari tikus.

Barangkali dengan alasan ini, ada beberapa negara yang memperlakukan koruptor seperti tikus. Tikus yang melakukan kejahatan luar biasa itu dihukum mati dan bangkainya di buang di jalan-jalan. Koruptor yang melakukan korupsi di hukum mati dan diumumkan kepada rakyatnya. Tetapi, adalah jauh lebih tidak berperikemanusiaan apabila hukum itu dibeli dan diperdagangkan.

Sanksi dan hukuman yang tertulis dalam konstitusi yang memberikan hukuman yang cukup berat bagi seorang koruptor patut diapresiasi. Namun, sanksi itu tidak cukup hanya tercatat di dalam lembaran kertas. Sanksi itu patut dan harus direalisasikan dalam putusan atau vonis hakim di republik ini.

Vonis atau putusan hakim tidak boleh ditawar-tawar dengan imbalan uang. Penegakan hukum tidak boleh bersifat tebang pilih. Penegakan hukum harus adil dan semua orang harus sama di depan hukum. Dengan penegakan hukum yang adil, maka hukum itu baru berwibawa. Tidak seperti sekarang di republik ini, hukum itu sering ditamsilkan seperti pisau yang tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Hukum melayani yang sanggup membayar dan mengabaikan yang tidak berduit.

Menarik juga dibaca:   Malam Seorang Maling - Jakob Sumardjo

Nasib rakyat jelata yang mencari keadilan seperti nyamuk betina yang mengadu nyawa untuk mempertahankan keturunannya. Demi untuk meneruskan keturunan, nyamuk betina mengisap darah manusia. Darah manusia diisap karena diperlukan untuk mematangkan telurnya. Nyamuk betina memerlukan gizi yang baik untuk mematangkan telurnya dan darah manusia diperlukan dalam hal ini. Dalam usahanya untuk mengisap darah manusia, nyamuk menerima ancaman kematian dari manusia. Demikian pula dengan rakyat jelata, dalam perjuangan mendapat keadilan, mereka dipermainkan dan seperti nyamuk betina yang mengadu nyawa.

Padahal, hukum harus memberikan kepastian. Hukum harus memberikan rasa nyaman kepada pencari keadilan. Hukum tidak boleh mempermainkan rasa keadilan dan membela yang sanggup membayar. Alih-alih kita mendengar, hukum di republik ini bertambah wibawanya, malah kita melihat bagaimana hukum dipermainkan oleh oknum-oknum tertentu. Sang penegak hukum, hakim terakhir pemegang palu, justru sering memperdagangkan hukum. Meskipun, sebagian telah berhasil tertangkap tangan dan dibui. Namun, tidak memberikan efek jera kepada oknum penegak hukum itu sendiri.

Indonesia dapat menjadi Kota Oran dalam novel Sampar. Republik ini dapat menjadi lumpuh diserang wabah korupsi. Hakim-hakim tidak dapat lagi menjatuhkan vonis lagi karena sudah terlalu banyak koruptor. Persoalan korupsi itu sudah seperti gurita yang melilit ke mana-mana. Tidak tahu lagi dari mana hendak menguraikan benang kusut ini.

Sebelum kita menuju ke keadaan seperti Kota Oran – atau republik ini sudah dalam keadaan seperti itu – adalah lebih bijaksana kita memperkuat lembaga independen pemberantasan korupsi. Lembaga independen ini tidak boleh dilemahkan karena dengan lemahnya lembaga independen ini maka habislah republik ini. Bayi tikus masih berguna sebagai obat kuat dalam cerpen Jakob Sumardjo. Namun, apakah koruptor masih berguna di republik ini sehingga masih diberikan ruang gerak? ***

Penulis sedang studi lanjut di Program Pasca Sarjana STT Abdi Sabda.

Sumber

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Tikus dan Manusia oleh yang terbit pada Tuesday, 23 February 2016 di esai. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Tikus dan Manusia

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Tikus dan Manusia

×