Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta

Dimuat di suarapembaruan Edisi Sunday, 08 January 2006
Oleh - Dibaca: 20 kali -


Hanya nestapa. Malam Minggu. Langit merah. Matahari diseret ke dasar samudera oleh beribu–ribu budak dengan tali raksasa. Bagaikan menarik batu–batu pembangun piramida. Lelaki–lelaki itu terseok–seok, peluh berlelehan mengharumkan tubuh mereka. Sekuntum mawar merah kusembunyikan di balik jumper. Hadiah istimewa untuk dewiku.

Mobil berjalan pelan memasuki jalan dengan deretan kafe–kafe di sebelah kananku. Seorang lelaki memberi petunjuk agar aku bergerak terus ke tempat parkir di ujung selatan kompleks itu. Sebetulnya tak perlu. Aku tahu ke mana harus pergi. Entah berapa puluh kali aku memasuki wilayah itu. Sendiri. Kali ini malam istimewa sebab aku mengajaknya pergi. Setelah enam bulan aku berusaha mendekat. Setelah lebih dari dua tahun aku melupakan.

Yang pergi harus pergi dan aku harus berjalan terus. Tak boleh berhenti dan mengurai air mata. Untuk apa? Mulanya aku mengurung diriku dari siapa saja yang mencoba menghiburku. Teman–temanku membawa simpati mereka.

Lalu mencoba menarik keluar duka cita yang telanjur tertanam dalam urat dan dagingku. Berlama–lama aku menjadi manusia yang tidak tertawa. Tenggelam dalam kenangan. Terseret oleh harapan yang putus. Mimpi yang tak terwujud.

Meninggalkan mobil kami berjalan sendiri–sendiri. Tidak kugandeng tangannya. Tidak juga dia berusaha bergayut di lenganku. Angin laut sudah terasa deras.

“Yang mana?”

“Terserah.”

“Aku tahu yang terbaik.”

“Baiklah.”

Lalu, kami memasuki kafe yang kuanggap paling baik. Pelayannya cantik–cantik dan ramah. Menyenangkan pelanggan. Di pintu masuk kami sudah disambut dengan senyum lebar. Sebetulnya bukan pintu. Tak ada pintu.

Di bangunan yang beratap itu ada jalan masuk selebar hampir dua meter. Di kiriku kotak–kotak pendingin berisi ikan laut, kotak berisi cumi, kotak berisi udang. Di sebelah kananku deretan kursi dan meja makan. Dimulai dengan meja kasir.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Rindu Sekali Dinda dengan Ayah

“Pilih yang mana?” tanya gadis berseragam kain endek itu.

“Pilih yang mana?” tanyaku.

“Terserah.”

“Jangan terserah. Malam ini Dian yang menentukan.”

“Aku? Yang mana, ya? Semua bagus.”

Kutunggu dia mengambil keputusan. Tak kunjung keluar kata dari mulutnya. Jari–jarinya yang lentik menunjuk ke seekor ikan. Lentik bagaikan saat digerakkan menari di panggung.

Baru saja dia lulus ujian. Pentas karya sendiri. Sebuah karya tari. Dan dia menari bukan hanya dengan jari tapi dengan hati. Aku beruntung boleh menyaksikan pementasannya. Dian luar biasa. Di panggung, Dian bukan lagi Dian.

Dia menjadi penerangku. Jari jemarinya cekatan bermain tanda. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah tak terikat apapun. Tangannya, bagikan kepak kupu–kupu terbang, lembut menghembuskan kedamaian.

Aku harus mengambil keputusan. Dian adalah penerangku. Pelita hatiku. Engkaulah kandil kemerlap. Pelita di malam gelap. Hatiku kini mulai ditelusupi penerangan dari jiwa Dian.

Aku mengerti. Kepada pelayan aku katakan:

“Yang ini.”

“Mau squid?”

“Cumi?”

“Tidak”

“Udang?”

“Udang? Ya. Seperempat kilo saja.”

Sekarang baru kugandeng tangannya melalui meja–meja dan kursi di bangunan terbuka yang beratap itu. Lalu kami menuruni tangga dan sampai di lantai berpasir. Beberapa meja berderet jauh sampai ke jilatan ombak. Hampir seluruhnya penuh.

“Di sini?”

“Baik.”

Pramusaji menarik kursi untuk kami. Menyalakan lilin di meja. Aku memilih menghadap ke laut memandang wajah Dian. Dari tempatku duduk dapat kulihat sesekali ada pesawat terbang turun atau naik. Laut hanya berupa debur. Tak kulihat ombaknya. Di deretan sebelah kami wilayh café lain.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Klik!

“Minum apa?”

“Apa?”

“Teh botol aja.”

“Teh botol aja.”

Meja di sebelah kiriku dipenuhi empat orang turis. Mungkin dua pasang suami istri. Mungkin dua pasang pecinta. Meja di depanku hanya diduduki oleh lelaki entah dari mana asalnya. Mengenakan topi yang menutup sebagian wajahnya.

Penerangan lilin tak menolongku mengenalnya. Tapi mengenalnya untuk apa? Di meja terletak ransel yang sebelumnya mungkin dibawanya di punggung. Sendiri. Mungkin menunggu pacar. Di meja sebelahnya malah berkerumun enam orang turis.

Angin laut menerpa muka. Ada beberapa lampu nelayan. Apa mereka melaut? Atau sengaja disewa untuk berada di laut? Menyenangkan hatiku? Hati Dian? Hati turis?

Tidak tahu. Tapi hatiku senang.

“Lalu, apa rencanamu setelah lulus ini?”

“Kerja.”

“Di mana?”

“Jadi guru tari?”

“Ada pengangkatan?”

“Belum ada.”

“Kenapa tak menari di hotel?”

“Capek.” Menggeleng dan tersenyum dengan matanya.

“Apa nggak terus kawin?”

“Kawin?” senyum dengan matanya.

“Ya.”

“Dengan siapa?”

Lalu dari balik jumper kukeluarkan sekuntum mawar merah terbungkus kertas kado bening.

“Maukah kau menerimaku?”

“Apa?”

“Aku melamarmu.”

Dia hanya tersenyum dengan mata.

“Mau bukan?”

Tak ada jawab.

“Secepat itu?” bisiknya.

Kenapa aku harus menunggu? Aku sudah menemukan penerangku. Aku sudah mempunyai rumah sendiri. Punya mobil. Punya pekerjaan yang bagus dalam bisnis pariwisata. Tak bolehkah aku berharap diterangi?

Dan senyum adalah harapan. Dan adalah jawaban. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Tapi aku masih orang Bali. Harus menahan diri. Turis di meja ujung sana boleh saja berciuman. Tapi kami?

Ikan bakar menjadi sangat lezat. Teh botol menyegarkan. Udang bakar memberi semangat. Santap malam berakhir, di bawah gemintang, ditingkah suara ombak, dihias lampu pesawat terbang yang naik turun. Aku ingin segera pulang. Mengantar Dian pulang dan menciumnya untuk pertama kali.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura

“Mau tambah lagi?”

“Cukup.”

“Baik. Tunggu di sini. Aku bayar dulu.”

Kutinggalkan penerangku di meja yang lilinnya masih menyala. Bergegas aku menuju meja kasir. Sengaja. Padahal aku bisa membayar di mejaku sendiri.

Dua lembar uang ratusan ribu berpindah tangan. Lilin masih menyala. Tapi, lilin yang lebih besar menyala. Suaranya menyobek gendang telinga. Aku terjatuh ke lantai. Terdengar teriakan.

Kobaran api. Tak terpikir apa. Kompor meledak? Mustahil demikian dahsyat. Lalu teriakan histeris. Dan Dian tadi masih disana. Aku bangkit, tapi jiwaku tak mungkin bangkit lagi. Luluh lantak seperti café ini. Aku berlari kembali ke meja dan tak menemukan Dian di sana.

Bagaimana aku bisa bangkit? Hampir tiga tahun lalu aku ajak Komang jalan–jalan ke pantai Kuta. Kami berboncengan motor. Supaya lebih mesra. Menikmati ombak pantai Kuta yang terkenal. Saling mengelus tangan. Lalu, pulangnya kami melintasi jalan itu. Meninggalkan jalan itu cukup jauh dari kafe.

Dan aku meninggalkan Komang sendirian untuk membeli rokok. Dan tiba–tiba bola api itu merenggutnya. Orang kemudian bilang Bali blast. Mengapa bisa terjadi? Aku telah belajar keluar dari kegelapan dan mulai melihat cahaya. Tetapi, sekarang gelap lagi. Kenapa Komang dan Dian harus musnah dengan cara yang serupa?

Hari ini tidak ada cinta. Tanganku bercelup darah. Hanya nestapa. Lorong gelap itu terbuka kembali bagiku. Lalu, aku ingat Komachi. Komachiku telah berlumuran darah. Aku sangat mencintainya. Tapi, hari ini, 1 Oktober 2005, tidak ada cinta. Hanya nestapa. ***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta oleh yang terbit pada Sunday, 08 January 2006 di suarapembaruan. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Hari Ini Tidak Ada Cinta

×