Cerpen Negeri Debu

Dimuat di korantempo Edisi Sunday, 11 March 2007
Oleh - Dibaca: 12 kali -


Selamat datang di Negeri Debu. Negeri tempat makhluk tak bertubuh dan tak berupa. Di sini kamu bersahabat dengan siapa saja. Hidup berdentam penuh gairah. Ada keriangan yang meluap-luap tanpa tepi. Lupakan segala yang ada di atasmu, turunlah kemari, dan jadilah bagian dari komunitas ini. Di sini waktu bukanlah sang penguasa. Begitu juga ruang. Kamu akan selamanya menjadi muda pada malam, siang, dan senja. Mari, jangan ragu. Selipkan kakimu. Dorong tubuhmu perlahan-lahan. Hati-hati kepalamu, Sayang. Jangan sampai terbentur.”

Lucinda hafal ucapan selamat datang yang selalu dibisikan oleh sahabatnya, Polo. Kalau dia berbaring sendirian di ranjang besar, mulut Lucinda berkomat-komit dalam kegelapan, merapal deretan kata-kata sulit itu sambil tertawa sesekali. Bibirnya dimonyong-monyongkan lucu. Rambut ikalnya yang besar-besar dipelintir dengan jari telunjuk. Dulu dia sering bertanya kepada Polo apa artinya penguasa. Apa artinya berdentang. Apa artinya komunitas. Apa artinya ruang. Polo menerangkan Lucinda panjang lebar sampai anak perempuan itu menjadi bingung. Polo bilang jangan kuatir, Lucinda pasti akan bisa mengerti sendiri. Ya, Polo memang benar. Keajaiban bahasa menjadi nyata. Seperti disentuh dengan tongkat sihir, kalimat-kalimat itu kini menjadi penghuni tetap di sudut berwarna kelabu pada brankas memori Lucinda. Deretan kata yang pada awalnya sulit itu akhirnya menjadi mudah dikunyah, lembut, dan kenyal rasanya.

Sebelum berangkat ke Negeri Debu, Lucinda selalu berbaring meringkuk menunggu Ibu, meleleh di balik selimut tanpa melakukan apa-apa. Dia mengharapkan Ibu menyelusup di balik ketiaknya yang kecil lalu menciumi pipinya yang mungil. Dia ingin Ibu melarangnya pergi karena Ibu ingin ditemani memamah malam bersama Lucinda.

Tapi malam menua dalam diam. Tak ada ibu. Tak ada buaiannya yang lembut. Lucinda mengkhayal Ibu datang ketika dia jatuh tertidur. Lengannya yang lembut bersisian dengan lengan Lucinda yang kurus mungil. Lalu Lucinda dapat menyenderkan kepalanya di lengan itu. Berbaring penuh kehangatan sampai pagi menjemput malam.

Usia Lucinda enam tahun ketika dia berkenalan dengan Polo. Dia ingin mengabaikan Polo karena Ibu selalu berkata untuk berhati-hati dengan orang asing. Tapi Polo bukan orang, apalagi asing. Dia tampak bagai makhluk yang baik dan sangat dikenal oleh Lucinda. Entah kapan Lucinda merasa pernah berkenalan dengan Polo, tapi sudah pasti kehadiran Polo memberikan sensasi familier di hati Lucinda.

Polo mengajak Lucinda pergi ke negeri tempatnya berasal. Negeri itu tidak jauh-jauh amat, hanya sejurus langkah mungil Lucinda. Di mana? tanya Lucinda. Matanya membulat ingin tahu. Polo mengajak Lucinda turun dari ranjang dan membungkuk. Di sana, kata Polo sambil menuding. Di sini? tanya Lucinda menatap lubang besar yang ada di hadapannya. Polo mengangguk. Lucinda memantapkan hati lalu bergerak berjalan bersama Polo.

Menarik juga dibaca:   Malim Pesong

Negeri Debu ternyata sangat menyenangkan. Di sana penuh dengan makhluk-makhluk halus berwarna-warni. Mereka senang menenun debu menjadi deretan benang-benang halus berwarna keperakan yang jatuh memancarkan kilat cahaya. Debu-debu itu dijadikan alat untuk bermain-main, dijadikan alat untuk bermusik, dan dijadikan alat untuk berayun-ayun malas. Belum pernah Lucinda melihat debu seindah debu di Negeri Debu. Ibu selalu membenci debu. Di mana-mana debu selalu diberantas. Debu membuat alerginya kambuh, kata Ibu dulu. Debu juga akan membuat sinus Lucinda semakin parah dan akhirnya harus mengunjungi dokter. Dokter spesialis anak mahal. Ibu tidak sanggup membawa Lucinda berkonsultasi tentang kondisi medisnya ke dokter spesialis anak.

Tapi ini sungguh mengherankan. Di Negeri Debu, sinus Lucinda tidak pernah kumat. Di sana, tidak sekali pun Lucinda bersin atau batuk. Dia malah tertawa-tawa gembira, berdekapan erat dengan debu-debu halus berwarna keperakan itu. Memain-mainkannya bagai gelembung-gelembung rapuh yang beterbangan di udara. Di sisinya, selalu ada Polo yang tak pernah mengabaikan Lucinda. Dia selalu mendampingi anak perempuan itu.

Dulu Lucinda pergi ke Negeri Debu ketika Ibu yang dinantinya tak kunjung datang. Di Negeri Debu, Lucinda mendapatkan ibu baru. Bunda Debu, demikian Lucinda memanggilnya. Ibu yang bercahaya tembus pandang, tatapannya sungguh menawan. Rambut Bunda Debu sangat halus, terbuat dari lelehan debu berwarna kelabu tua. Matanya memancarkan cahaya cinta untuk Lucinda seorang. Lucinda ingin ditimang-timang oleh Ibu, tapi Ibu selalu protes Lucinda sudah terlalu besar dan terlalu berat untuk ditimang-timang. Ajaib, Bunda Debu sanggup menggendong Lucinda dan membuainya dengan jaring-jaring debu yang halus bagai sutra.

Mulanya Lucinda hanya pergi sebentar-sebentar ke Negeri Debu. Tapi lama-lama Lucinda semakin betah berada di sana. Dia nyaris mengabaikan saat-saat pulang. Hanya kerinduannya pada Ibu memaksanya mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh penghuni Negeri Debu dan berjanji kepada mereka untuk segera kembali.

Malam itu, Lucinda kembali ke Negeri Debu. Wajahnya tampak pias dan kakinya gemetaran. Polo bertanya apa yang terjadi? Lucinda bilang dia ingin tinggal di Negeri Debu selama-lamanya, tidak ingin kembali lagi. Bagaimana dengan ibumu, tanya Polo. Lucinda tidak menjawab. Dia hanya menangis terisak. Tangisan anak perempuan berusia delapan setengah tahun. Air mata Lucinda berhamburan, menetes di setiap ujung debu yang berwarna keperakan, membuat debu-debu itu berkerlip murung. Polo merangkul Lucinda erat-erat.

***

Memang Lucinda hanya bocah cilik yang ingusnya masih berlelehan di hidung akibat penyakit sinus yang dideritanya. Sinus yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik oleh Ibu agar tidak kambuh. Sinus yang seharusnya ditangani oleh dokter spesialis anak yang kompeten, bukan oleh tabib tak jelas yang berpraktik di ujung gang kampung yang rumahnya tergenang air saat hujan. Sinus yang seharusnya dapat sembuh jika saja debu-debu di rumah reyot milik Ibu dapat diberantas.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Bengkel Las Bu Ijah

Sejak usia enam tahun, Lucinda telah tahu sesuatu tentang ibunya. Tiap malam Ibu keluar rumah. Katanya mencari uang untuk makan dan sekolah Lucinda, walaupun Lucinda sudah sebulan tidak sekolah karena Ibu belum sanggup melunasi utang biaya seragam dan buku. Lucinda menunggu Ibu dengan sabar di ranjang besar reot mereka. Tengah malam Ibu terkadang pulang. Jika Ibu pulang, Lucinda berpura-pura tidur, mengkhayal Ibu akan memeluknya dan membisikkan kata-kata penuh kejutan. Tapi boro-boro sentuhan sayang, Ibu hanya menggeser Lucinda ke samping, membopongnya turun dari ranjang. Lucinda diletakkan di bawah ranjang sementara Ibu memanjat ranjang milik mereka berdua bersama seseorang lagi yang sosoknya selalu berbeda-beda tiap malam.

Dari bawah ranjang, Lucinda dapat mendengar deretan dengusan dan gabungan tarikan napas Ibu dan orang asing itu. Lucinda heran, Ibu selalu mengingatkannya untuk berhati-hati dengan orang asing yang tak dikenal Lucinda. Tapi Ibu malah melanggarnya setiap malam. Lucinda tidak ingin menjadi orang dewasa. Orang dewasa selalu melanggar aturan yang dibuat mereka sendiri. Aneh sekali.

Lucinda bertanya pada Polo apa yang Ibu lakukan di atas ranjang. Kata Polo, ibunya pelacur. Lucinda tidak mengerti apa arti kata pelacur. Polo mencoba menerangkan arti kata itu panjang lebar sehingga membuat Lucinda pusing tujuh keliling. Akhirnya Lucinda membiarkan dirinya diselimuti awan kebingungan karena dia percaya suatu hari dia pasti akan mengerti arti kata itu. Keajaiban bahasa akan selalu hadir dalam diri seorang anak.

Dua tahun sudah berlalu sejak Lucinda mengenal Negeri Debu sebagai taman bermainnya. Sejak setahun lalu, Lucinda tidak pernah lagi menunggu Ibu pulang. Diam-diam dia menyelinap turun dari ranjang. Bersama Polo, mereka menuntaskan malam di Negeri Debu tanpa Ibu tahu. Lucinda senang. Lucinda bahagia. Hanya saja Lucinda tidak pernah tahu apa yang dia lakukan akan mengubah hidupnya selama-lamanya.

***

Lucinda menggeliat-geliat marah ketika seorang polisi memaksanya keluar dari kolong ranjang milik mereka berdua. Dia tidak suka gerombolan orang-orang yang tiba-tiba memenuhi kamar tidur bobrok Lucinda. Bau anyir darah mengepung seluruh kamar. Lucinda memejamkan mata erat-erat ketika sepasang tangan lelaki yang kuat berhasil menariknya keluar.

“Hanya anak perempuan kecil.”

“Anaknya, bukan?”

“Ya, anaknya.”

“Apakah dia terluka?”

“Tidak ada luka sedikit pun. Untung saja. Rupanya tidak ada yang tahu ada anak kecil di bawah ranjang. Persembunyian yang tepat.”

Menarik juga dibaca:   Malim Pesong

“Siapa namamu, Nak?”

Lucinda menggeleng kepalanya kuat-kuat. Matanya masih tertutup rapat.

“Namanya Lucinda. Itu kata tetangganya.”

“Lucinda? Nama yang janggal untuk anak kampung. Mari, ikut Bapak. Mau permen nggak, Nak? Jangan takut, Bapak punya permen yang enak. Nah, nah… Jangan meronta-ronta, nanti kamu jatuh.”

Lucinda menyedot ingusnya. Sinusnya kambuh lagi jika dia tidak berada di Negeri Debu. Tapi entah apakah ini ingus karena penyakitnya ataukah karena tangisan Lucinda. Air matanya perlahan-lahan meleleh tanpa bisa dikendalikan lagi.

“Nak, dengarkan kata Pak Polisi ini. Yuk, ikut kami. Tempat ini tidak baik untukmu. Kami punya beberapa pertanyaan dan kamu bisa bercerita untuk kami sambil makan permen dan cokelat.”

Lucinda ingin memanggil Polo. Ingin berteriak memohon Bunda Debu menimang-nimangnya. Matanya membuka lebar-lebar. Lucinda takut. Bau anyir darah semakin menusuk. Ranjang kesayangan tempat Lucinda dan Ibu membagi napas telah penuh darah. Di sana, tampak sesosok tubuh yang tergolek. Tubuh Ibu, yang kemarin masih hangat menyentuh pipinya, memintanya menghabiskan sepotong ubi kukus manis untuk makan paginya. Lucinda menyesal telah mengabaikan Ibu. Tidak menunggu Ibu ketika beliau pulang malam, malah pergi menghabiskan waktu di Negeri Debu.

Seseorang membolak-balik tubuh Ibu seperti membolak-balik kerupuk di dalam wajan. Rambut hitam Ibu disibak. Tangannya diangkat. Bahunya ditekan. Matanya disorot senter. Lalu datang beberapa orang lagi, membawa kantong mayat. Ibu dimasukkan ke dalam sana.

Lucinda meronta lagi. Dia tidak tahan melihat Ibu diperlakukan tak manusiawi. Dia ingin kabur saja, kabur dari ruangan ini, pergi bertemu dengan sahabat-sahabat yang mengerti dirinya. Polo berdiri di sana, mengajaknya masuk ke lubang, gerbang Negeri Debu. Lucinda menggeliat dari tangan Pak Polisi dan berlari sekencang-kencangnya. Kembali ke kamar Ibu.

“Sialan! Tuh anak kabur lagi!”

“Dasar anak idiot! Ke mana perginya?”

“Masuk ke kamar.”

“Ke kamar lagi?! Di mana sih?”

“Di sana. Kolong ranjang. Tempat kita menemukannya tadi.”

“Suruh dia keluar!”

“Dia nggak mau keluar, Pak.”

“Paksa dong.”

“Sudah, Pak. Dia nggak mau.”

“Tarik aja kakinya!”

Lucinda berbaring diam-diam di kolong ranjang. Hatinya tenang. Polo mendampinginya. Di sebelahnya Bunda Debu mulai menimang-nimangnya. Lagu indah mengalun merdu dari mulut Bunda. Lucinda menutup mata, membiarkan dirinya terangguk-angguk dalam gelombang cinta. Mulutnya berkomat-kamit merapal ucapan selamat datang yang selalu dikatakan oleh Polo. Tangannya memilin-milin rambut ikalnya. Bibirnya tertawa-tawa gembira. Dia ingin bertanya kepada Polo, apa artinya pembunuhan. Apa artinya mati. Apa artinya yatim piatu. Tapi nanti saja, Lucinda masih ingin bermain-main. Di kamar, beberapa orang memindahkan mayat Ibu. Bapak Polisi yang berkumis lebat itu mulai menarik-narik kakinya.***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Negeri Debu oleh yang terbit pada Sunday, 11 March 2007 di korantempo. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Negeri Debu

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Negeri Debu

×