Cerpen Bintang Maratur Tak Bertuan

Dimuat di analisa Edisi Sunday, 20 May 2018
Oleh - Dibaca: 43 kali -


Perempuan itu terus ter­se­du-sedan di kamar. Dia meme­luk guling, sembari berdoa agar pria itu menerima keadaan de­ngan lapang dada. Menerimanya kembali saat pertama kali dia me­minta pada orangtuanya. Ha­tinya diremas kuat oleh ucapan perempuan separuh baya itu.

Bukan cinta jika menerima se­seorang dari kelebihan, itu na­manya kagum. Cintai seseorang karena kekurangannya, agar me­ngetahui betapa indah sebagai pe­lengkap baginya. Sayangnya, kekurangan itu tidak berlaku pa­da keluarganya. Dia harus melu­askan hatinya. Dia menyadari ke­salahan ini memang ada pa­danya, tapi ini bukan keinginan­nya.

Dia menatap kain itu terkibas oleh angin, semakin kuat isak­nya. Perlahan, dia memaksa tu­buhnya berjalan menuju jendela. Meraih kain dan memeluknya. Se­rasa baru semalam dia merasa­kan kehangatan, pemberian ulos itu dari keluarga sang suami. Ulos yang mengartikan akan di­berikan keselamatan pada jabang bayi dan akan diberikan anak se­lanjutnya.

Ulos bintang maratur. Ulos yang diberikan oleh mertua saat Tiur mengandung janin tujuh bulan. Senyum dan bahagia itu terasa amat segar menari di pi­kirannya. Penantian si jabang ba­yi sangat di tunggu oleh keluarga, terlebih lagi suami Tiur merupa­kan anak tunggal. Orang tuama­na yang tidak bahagia jika diha­diahkan seorang cucu? Keluarga itu akan menjadi lengkap dengan kehadiran sang cucu.

Sejak usia hamilnya memasu­ki bulan ketujuh, Tiur diajak mer­tua, untuk menetap di rumahnya. Selama satu atap pada mertua, Tiur dilarang keras melakukan semua pekerjaan rumah. Mertua­nya menumpahkan semua kasih sayangnya pada Tiur. Tidak he­ran jika segala permintaan Tiur dipenuhi sang mertua.

Ternyata kebahagiaan Tiur tidak berlangsung lama. Perihal itu, membuat Tiur kehilangan ke­dudukan. Dia harus belajar ikh­las menerima semuanya saat dia melihat darah mengalir di lan­tai.

Segera dia menelepon suami­nya, Tiur mengabarkan, dia terjatuh di kamar mandi. Tidak ada siapapun di rumah. Mertua­nya pergi ke kampung, karena ada saudara yang meninggal du­nia dan sang suami baru saja per­gi kerja.

Sang suami mendapati Tiur di lantai dengan tidak sadarkan diri. Sigap dia membawa Tiur ke rumah sakit. Syukur Tiur masih bisa diselamatkan, namun kese­lamatan hanya berpihak pada Tiur. Mereka harus merelakan satu nyawa, kehilangan jabang bayi.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Luka Asa di Pohon Beringin

Saat Tiur sadar, sang suami memberitahukan, harapan men­ja­di orang tua harus pupus sela­manya. Selain kehilangan jabang bayi, rahim Tiur harus diangkat karena ada kista yang menempel dan sudah membesar. Dokter harus mengangkat rahim Tiur, karena sudah banyak kista yang menempel di rahimnya, bahkan sebagian kista tersebut sudah mem­besar.

“Aku bisa apa, Bang?” isak Tiur.

Si suami menutup mulutnya, dia tidak tahan lagi membendung tangisnya. Dia memeluk istrinya yang terbaring lemah.

Tiur ter­se­dan di pelukan suaminya. Kali ini dia benar-benar terpukul atas kejadian yang menindih dirinya. Dia akan kehilangan sosok ibu pada dirinya, bahkan dia tidak bi­sa membuat suami dan mertua­nya bahagia.

“Apakah kau akan mencerai­kanku?” tanya Tiur sembari mem­balas pelukan hangat sang suami.

Lelaki yang amat dicintai Tiur menggelengkan kepala. Dia su­dah berjanji pada Tiur tidak akan meninggalkannya dalam keada­an apa pun. Bukan kehendak me­reka menginginkan kejadian ini. Hanya dengan satu kekurangan, si suami beralasan meninggalkan Tiur. Masih ada solusi lain untuk menggapai kebahagiaan keluar­ga.

Perlahan, keseharian menga­lir begitu saja. Sang suami sudah menjelaskan pada orang tuanya, Tiur dan suami berniat menga­dopsi anak. Sepasang insan itu selalu berdoa agar terjadi mukji­zat diberikan keturunan.

Mulanya mertua Tiur ragu pa­da penjelasan sang suami untuk mengadopsi anak dengan alasan sebagai anak pancingan. Bagai­mana bisa seorang perempuan me­miliki anak, jika rahimnya su­dah tidak ada di dalam tubuhnya?

Akhirnya, sang mertua mem­be­rikan kesempatan pada sepa­sang insan itu, namun mertua me­larang mereka untuk menga­dopsi anak. Kedua mertuanya me­nginginkan keturunan asli da­ri mereka. Mereka hanya diberi waktu.

Tiur masih tersedan memeluk ulos bintang maratur, terdengar keributan hebat dari luar kamar. Hatinya hancur berkeping-ke­ping saat mendengar ucapan sang mertua. Ucapan yang mem­porak-porandakan keluarga yang sudah di tata dengan rapi dari su­ka dan duka. Dua tahun hidup berdua dalam satu atap, tidak di­jadikan masalah bagi Tiur dan suami.

Senja masih bertengger di ufuk barat, keemasannya menyi­laukan ruang kamar. Tiur meng­ambil kain ulos yang dijemurnya di depan jendela kamar, kain itu selalu menemaninya tidur. Dia berharap kain itu akan menda­tangkan keturunan pada kelur­ganya.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Dua Kekasih

Perempuan beralis tebal itu ber­jalan menuju meja rias sem­bari memeluk ulos. Lamat dia me­natap wajahnya di cermin. Dia me­nemukan sosok yang sama dengan dirinya di cermin, tatapannya se­makin tajam. Tiur tertawa melihat sosok itu.

“Dasar perempuan tidak ber­guna. Perempuan yang tidak bisa memberikan kebahagiaan pada keluarganya.” Bisik Tiur

Tawanya menjelma tangis, Tiur melipat kedua tangan dan menin­dihnya dengan wajah. Kembali lagi dia terisak. Dia menyalahkan di­rinya. Serasa dunia akan berhenti berputar. Tiur pupus menjadi seo­rang perempuan yang diidamkan para lelaki.

Dia memiringkan kepalanya, menyeka pipinya dengan ulos, se­raya berkata.

“Nak. Kembalilah ke pelukan ibu. Ulos ini, pemberian Ompung­mu agar ibu bisa menggendongmu. Pulanglah,Nak!”

Peperangan antara mertua dan sang suami terus berlanjut dari luar kamar. Sesekali terdengar kata adopsi, penerus keturunan, ulos bintang maratur harus bisa dija­dikan kain gendong, sabar dan ba­nyak kata yang terlontar. Kata yang memekikan telinga Tiur dan mem­buatnya semakin tertekan.

Tiur tidak tahan dengan keri­butan yang terjadi antara suaminya dan mer­tua. Dia juga tidak berani keluar ka­mar karena keributan akan se­makin runyam dengan kehadiran Tiur. Suaminya menyu­ruh Tiur ma­suk ke kamar sejak orang tuanya datang ke rumah. Ja­uh sebelum­nya, sang suami me­ngetahui bahwa orang tuanya akan datang ke rumah. Akan berbicara pada Tiur agar mengijinkan sua­minya mencari rahim. Ya, mencari rahim untuk mengalirkan darah keluarganya.

Sang suami terus ditelepon oleh mamaknya untuk menanyakan perkembangan keluarga mereka. Apakah sudah ada tanda memiliki anak? Apakah masih tahan hidup tanpa jeritan anak kecil di rumah? Mamaknya terus mendesak anak­nya agar meminta izin pada Tiur untuk mencari rahim. Sang suami menghiraukan semua ucapan ma­maknya, dia tidak sanggup berpa­ling dan meninggalkan Tiur dengan kondisi yang memukul Tiur.

Akhirnya, kesabaran sang mer­tua mulai terkikis habis. Usianya mulai senja, dia tidak ingin me­minta apa pun pada Tiur dan suami. Sang mertua hanya ingin meng­habiskan waktu senjanya bersama cucunya. Dia ingin menimang cu­cunya dengan ulos bintang maratur yang diberikan oleh mertuanya jua.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Koeli

Sang mertua berkunjung ke ru­mah Tiur, cepat sang suami me­nyuruh Tiur masuk ke dalam ka­mar. Awalnya Tiur tidak mau, namun sang suami membentaknya. Tiur berjalan ke kamar dengan me­nundukkan kepala.

Bukan maksud sang suami ber­laku kasar pada Tiur. Dia tidak ingin Tiur merasa sakit hati dengan kedatangan orangtuanya. Karena sang suami tahu tujuan orangtua­nya datang ke rumah, tidak lain menuntut keturunan, penerus ke­luarga.

“Aku sudah menua, kita tidak tahu kapan akan mati.” Ujar mertua perempuan.

Sang suami tetap menegak­kan lehernya, menatap ma­mak­nya dengan tajam.

“Kami, hanya ingin meni­mang dan bermain dengan cu­cu. Sebelum kami mati, biar­kan kami melihat cucu kami. Cucu asli yang terlahir dari da­rah dagingmu.” Timpal mer­tua laki-laki.

Kedua orang tua itu sengaja mengeraskan suara agar Tiur da­pat mendengarnya. Mereka tahu bahwa Tiur tidak sedang tidur, anaknya tidak bisa ber­sandiwara menutupi keberada­an Tiur. Mereka sengaja me­muntahkan kalimat pedas agar Tiur menyadari kesalahannya pada mereka.

“Ulos bintang maratur itu, harus bisa dijadikan kain gen­dong untuk cucuku.” Kata ma­mak mertua.

Tiur terpaku memandang cermin. menatap wajahnya. Se­perti ada tinju yang meng­hantam hatinya hingga legam. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, terlalu perih ucapan yang didengarnya. Dia meng­genggam ulos itu dengan kuat sebagai pelampias rasa sakit yang menyerang perasaannya.

Tangan kirinya sibuk mem­buka laci dan meraba, mencari sebuah benda. Pikirannya ber­gejolak. Dia ada di persim­pangan. Bingung memilih ja­lan.

Harus mengakhiri atau mengikhlaskan suatu keadaan. Dia terus memandang wajah­nya di cermin, mengolok diri­nya sendiri.

Peperangan semakin me­run­cing di luar kamar, pun si sua­mi berada pada kebimba­ngan.

Tuntutan orang tua men­jadi sebuah tekanan padanya.

“Kami tidak mau tahu. Kau harus memberikan cucu, atau kau tidak usah melihat kami sampai mati.” Kata mertua perempuan Tiur.

Lengkap sudah. Tiur harus memilih keputusan. Dia tidak boleh berlama-lama di persim­pa­ngan. Akhirnya, ulos bin­tang maratur dikoyak dan me­ngalir darah untuk kedua ka­linya di lantai. Tiur menyayat pergelangan tangannya, tepat di atas ulos bintang maratur.***

Penulis: Mahasiswi Pendidikan Matematika semester delapan UIN SU sekaligus penggiat KSI Medan.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Bintang Maratur Tak Bertuan oleh yang terbit pada Sunday, 20 May 2018 di analisa. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Bintang Maratur Tak Bertuan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Bintang Maratur Tak Bertuan

×