Cerpen Semalam di Kereta Tua

Dimuat di analisa Edisi Sunday, 13 May 2018
Oleh - Dibaca: 51 kali -


SUDAH pasti aku akan ter­tinggal menaiki kereta terakhir ini, jika saja aku tak nekat mene­robos derasnya hujan. Tempat ker­ja setelah aku pensiun, me­mang tak jauh dari stasiun kereta api. Biasanya seorang rekan lama akan bersedia mengantarku cu­ma-cuma dengan sepeda motor­nya menuju stasiun. Tidak de­ngan hari ini. Dia pulang lebih awal.

Akhirnya aku tiba lima menit sebelum kereta berangkat. Mem­beli tiket dan masuk ke dalam gerbong. Membantingkan bo­kong­ku di kursi kosong bagian sudut gerbong kereta.

Huh! Aku memang hampir tak pernah bisa berdamai dengan waktu. Selalu saja kalah berkela­hi dengannya. Kerap kali dia men­cekikku. Bahkan saat senga­ja kutinggalkan dia di perbatasan jarum jam. Terus-terusan dia mengejar, hingga malam ini. Malam penghujung Februari yang damai. Di sudut gerbong kereta tua yang setahun belaka­ng­an ini setia membawaku me­nuju rumah.

Istriku pasti sudah duduk can­tik dengan gaun putih yang se­warna dengan rambutnya di sofa hadiah direktur perusahaan beton ternama. Bibir istriku sudah ke­riput. Selalu kubelikan gincu me­rah mawar yang mahal untuk me­nutupinya. Pun pipinya sudah mengendur, kubelikan pula krim penutup lubang pori-pori untuk­nya. Jangankan penutup pori-pori, untuk membeli tenaga kon­traktor yang menutup seluruh lu­bang di jalanan kotaku ini saja sudah pernah kulakukan. Terka­dang aku menyuruhnya meng­ganti wajah saja. Toh, membeli wajah bukan hal yang baru lagi. Penjualnya juga sudah menja­mur.

Seluruh pakaianku basah ku­yup. Kulap wajahku dengan meng­gunakan kedua telapak ta­ngan. Selesai mengelap, tanpa se­ngaja mataku bertemu dengan dua bola mata seorang tua. Du­duk tepat di seberang kanan kiri kursiku. Kutaksir usianya sama de­nganku. Tatapannya aneh, se­aneh pakaiannya. Awalnya kuki­ra dia mengenakan jas hujan. Se­telah kucermati, itu lebih se­perti jubah hitam.

Tubuhku menggigil. Dingin ber­campur cemas. Dia masih me­natapku. Kulihat sorot mata me­rahnya masih berpendar. Ti­dak, tidak, ini bukan sepasang bola mata seperti dalam lagu sen­du.

Mata itu mendekat. Pemilik­nya duduk tepat di bangku ko­song di hadapanku.

“Hari ini aku ingin berbin­cang. Jangan takut. Santai saja.” Ujar­nya santai. Diambilnya se­ba­tang rokok dari bungkusnya yang baru saja dia buka. Menya­lakan pemantik dan menyerah­kan keduanya kepadaku setelah dia selesai. Kuangkat tangan per­lahan sebagai tanda penolakan. Lelaki tua itu tersenyum sinis. Bu­kannya tak mau. Kulakukan demi kepatuhanku pada dokter yang melarangku merokok sete­lah dia memvonis paru-paruku bermasalah. Aku menelan ludah.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Cara Buruk Menulis Kisah Cinta

“Kau lupa, kita selalu berada di kereta yang sama,” sambung­nya.

“Tidak. Aku tidak ingat. Siapa kau?” Jawabku gemetar.

“Aku ingin kita berbincang, berlama-lama bertatap di balik jen­dela berembun ini.” Jari-jari­nya menunjuk kearah jendela di si­si kami. Kuku runcing dengan ujung menghitam meninggalkan jejak goresan pada kaca tebal.

Aku bergidik. Dia tersenyum. Senyumnya dingin, sedingin es ku­tub yang mulai dicairkan oleh gas rumah kaca buatan manusia. Bunyi klakson kreta api, bak alu­nan lagu nostalgia menggema da­ri gerbang depan kereta.

“Aku tak sendiri.” Ujarnya ti­ba-tiba. Dia menoleh kebela­kang. Seorang anak kecil muncul dari salah satu kursi penumpang. Berlari ke arahku kemudian naik ke pangkuanku. Memeluk tubuh­ku erat-erat, seolah akulah ayah­nya. Tak lama kemudian muncul juga seorang ibu yang membawa bakul penuh berisi beras. Disusul dengan pemuda yang membawa map berisi kertas-kertas usang. Ma­nuskrip tua, katanya.

“Mereka kubawa dari masa lalu.” Lanjutnya.

Seorang ibu pembawa bakul itu duduk di sebelah orang tua itu. Diletakkannya bakul itu di ba­wah, dekat kakiku. Bisa kuli­hat dengan jelas isinya. Beras yang warnanya sudah mulai mem­busuk. Kutu-kutu berganti­an keluar-masuk di antara celah-celahnya.

Seperti dapat membaca piki­ranku. Tanpa kutanya, dia mulai menjelaskan.

“Beras ini akan aku tanam.” Aku mengernyitkan dahi. Terhe­ran.

“Bagaimana mungkin beras yang hampir membusuk bisa di­tanam,” gumamku. Perempuan itu tersenyum. Katanya beras itu sisa panen terakhir sebelum sa­wah di desanya habis diratakan buldozer.

“Padi yang kutanam di tanah desaku bisa menumbuhkan gedung-gedung beton menju­lang. Jika aku menanam beras ini di gedung-gedung kota, ba­rangkali gedung itu akan berubah menjadi sawah. Cukup untuk me­ngisi perut penduduk kota,” jelasnya. Aku tersenyum.

“Guyonan macam apa itu?” pikirku.

Lelucon demi lelucon, cerita demi cerita mengalir lencar be­gitu saja dari mulut-mulut kami. Tak lupa aku juga menceritakan masa mudaku yang gemilang. Bahkan dengan bangganya ku­ka­takan, untuk mendapatkan goresan tanda tanganku saja orang-orang rela mengeluarka uangnya berapa pun kuminta. Setiap kata-kataku akan disam­but dengan riuh pujian. Aku ter­senyum mengenangnya. Gurat-gu­rat kebanggaan tergambar jelas di wajahku.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Kembalikan Air Mataku

“Apakah Bapak mau membu­buh­kan tanda tangan Bapak pada ker­tas-kertas ini?” Ucap pemuda ta­di yang kini duduk tepat di samping kiriku. Disodorkannya lembaran-lembaran kertas yang te­piannya sudah digerogoti rayap. Kuamati lekat-lekat kertas itu. Ah!

“Nak, kertas ini bukti kelulusan pendidikanmu. Tentu tanda ta­ngan­ku tidak berguna di kertas itu.” Jawabku.

“Mengapa tidak bisa? Aku ha­nya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak,” sambungnya.

“Ah! Jika begitu, kau tak perlu tanda tanganku. Cukup sebut na­maku di perusahaan tempat kau ingin bekerja.”

“Ah! Betapa bodohnya aku yang menghabiskan harta, tenaga dan usaha demi kertas-kertas ini. Jika sedari dulu aku bisa mendapat pekerjaan hanya dengan menyebut namamu,” ujar pemuda itu sambil tertawa terpingkal-pingkal. Aku ikut tertawa mendengarnya. Begitu juga dengan lelaki tua dan perem­puan paruh baya itu.

Aku beringsut di sandaran kursi. Anak tadi masih sibuk bermain di pangkuanku. Mengoceh tak karu­an. Bahkan tak sungkan-sungkan dia memanjat tubuhku, hingga sam­pai di puncak kepala. Ah, dia sama seperti kedua anakku saat seusianya.

Anak-anakku tak kalah bijaksa­nanya denganku. Itu karena mereka menuntut ilmu di negeri Paman Sam yang tentu lebih jauh dari ne­ge­ri Cina. Kini negeri itu su­dah jadi rumah mereka. Membiarkan aku dan ibunya terkatung-katung da­lam kesepian. Anak-anakku te­tap bijaksana. Mereka menyapa kami dari kejauhan untuk setahun sekali melalui telepon yang kini su­dah jauh lebih pintar.

Entah kenapa, basa-basi dengan mereka tak serasa basi. Ah, kepa­rat! Mengapa baru sekarang aku bi­sa bersenda gurau dengan orang-orang seperti mereka. Malam kian matang dan membusuk. Berceng­ke­rama dengan mereka membuat­ku lupa jika aku tak sampai-sampai di stasiun tempatku seharusnya singgah.

* * *

Kereta tak kunjung berhenti, hingga aku lelah mengobrol. Baju basahku telah kering di badan. Aku mulai kedingan. Kecemasan kem­bali menyergapku. Kulemparkan pandanganku keluar jendela. Kere­ta yang melaju cepat membuat se­lu­ruhnya seolah berlarian.

Apakah aku menaiki kereta yang salah? Ah, tidak, ini tidak sa­lah, aku tak mungkin salah mem­beli tiket. Lagi pula ini adalah kere­ta yang saban hari kutumpangi. Kecemasan akhirnya menjelma ke­ta­kutan.

“Apakah aku menaiki kereta yang salah?” tanyaku memastikan. Lelaki tua itu menjawabnya dengan tawa menggelegar.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Sinabung-Sibayak

“Tidak. Kau tidak salah. Ini me­mang kereta yang seharusnya kau naiki,” jawabannya tak mengura­ngi ketakutanku sedikitpun. Mere­ka bertiga tertawa terbahak-bahak di hadapanku. Tawanya semakin ke­ras, hingga mengangalah mulut-mulutnya. Mulut-mulut itu makin melebar terkoyak, hingga nyaris menyentuh daun telinganya.

Keringat sebesar biji jagung membanjiri tubuhku. Ini lebih basah dari guyuran hujan. Tu­buhku menggigil. Orang-orang di sekelilingku berubah satu persatu. Anak kecil itu mu­lai berubah menyeramkan. Lebih seperti hantu anak ba­jang. Dari mulutnya kudengar ocehan-ocehan sumpah-sera­pah yang ditujukan padaku. Samar-samar kudengar dia me­ngatakan aku menelantar­kan­nya di bawah flyover yang kuresmikan. Liurnya yang ber­bau busuk menetes di kemeja­ku.

Orang-orang berwajah da­tar berlalu lalang, satu persatu menghilang di balik pintu ger­bong belakang. Tidak ada yang memperdulikanku. Anak ba­jang itu bermain-main dengan jempol kakiku. Mencabuti ku­ku jemari kakiku satu demi sa­tu. Darah segar meluncur da­ri sudut-sudut mulutnya yang bergigi susu berwarna kehita­m­an. Tawanya memekakkan telinga tuaku. Lelehan nanah keluar dari sana. Kuingat bau­nya sama seperti sampah da­lam genangan parit yang per­nah kukuasai pembuatannya. Ibunya yang menggendong ba­kul cekikikan melihat anaknya.

Aku terjerembab jatuh ter­katung-katung. Kutu-kutu dari beras jatuh satu persatu-satu da­ri dalam bakul. Berkerumun menggerogoti borok-borok ke­palaku yang semakin membu­suk. Kepalaku gerowong. Uang-uang berhamburan kelu­ar dari sana.

“Hahaha… Aku adalah Waktu. Oh… Tidak. Lebih te­patnya akulah penunggu jarum jam milikmu. Bukankah kau menganggap aku musuhmu?” Pria tua berjubah hitam, gelak. Dari balik jubahnya dikeluar­kannya sebilah pedang yang sa­ngat mirip jarum jam. Merah meruncing. Semerah matanya.

“Aku hanya bisa menatap­nya. Mulutku terkatup bak di­kunci ribuan gembok.

Kereta terus melaju. Entah kemana dia akan membawaku. Derit-derit besi tua sambungan gerbongnya berlomba dengan lengkingan tawa manusia-ma­nu­sia dari masa lalu yang men­ja­dikanku tontonan menghi­bur.

Kulihat sang waktu menye­ri­ngai dengan sebilah pedang mengkilap diterpa cahaya lampu dari langit-langit ger­bong. Sial! Harusnya tak ku­lingkarkan dia di pergelangan ta­nganku. Kurapal segala man­tra, kode-kode juga ajian peng­usir setan. Hantu jarum jam itu masih memutar-mutar ex­calibur miliknya.

“Kemana kereta ini mem­ba­waku?” Tanyaku pada wak­tu. Matanya makin kian me­nya­la. Bahkan dia menjelma se­tan rambut api. Dengan seri­ngai yang menyayat dia men­jawab. “Masa depan!!!”

Medan, April 2018

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Semalam di Kereta Tua oleh yang terbit pada Sunday, 13 May 2018 di analisa. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Semalam di Kereta Tua

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Semalam di Kereta Tua

×