Cerpen Anak Menunggu Pelangi

Dimuat di analisa-anak Edisi Sunday, 06 November 2016
Oleh - Dibaca: 85 kali -   No comments


SUDAH beberapa hari hari ini, Raisya menunggu pelangi. Ia duduk di teras rumahnya berharap pelangi terlihat olehnya. Namun, tidak ada pelangi, yang ada hanya panas membuat dahaganya kering. Melihat hal itu, ibu menghampiri Raisya dan bertanya sedang apa ia. Raisya jujur pada ibu namun ibu malah tertawa dengan cerita konyolnya itu.

“Raisya, pelangi itu ada setelah hujan. Lagi pula akhir-akhir ini kan bumi kita dilanda musim kemarau.” Kata ibu

“Tapi ibu, teman-teman Raisya mengatakan kalau pelangi itu ada di siang hari mana ada di malam hari. Begitu katanya.”

“Terus apa lagi yang dikatakan temanmu, apa mereka tidak mengatakan hal yang sama dengan ibu katakan.”

“Tidak kok. Mereka mengatakan itu saja pada Raisya.”

“Pelangi itu akan ada setelah hujan. Ia akan menghiasi langit ketika hujan reda. Dulu, ketika ibu kecil, ibu dan teman-teman ibu sangat senang ketika hujan turun. Kenapa? Karena kami ingin sekali pelangi terbangun setelah hujan. Kami pun bergembira. Tapi, zaman sekarang, pelangi seperti enggan bangun setelah hujan. Artinya, pelangi jarang hadir setelah hujan.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Bermain Bunga Api

“Pelangi kok absen bu. Padahal kan, itu tugasnya. Membuat anak-anak bahagia dengan kehadirannya.”

“Mungkin perkembangan zaman yang membuat pelangi tidak selalu hadir setelah hujan atau hal lainnya. Entahlah, ibu saja tidak tahu sebabnya.”

Raisya bertanya dan terus bertanya mengenai pelangi. Ibu juga menjelaskan pada Raisya hingga ia benar-benar paham dan tak lagi menunggu pelangi. Ternyata Raisya salah paham terhadap pelangi yang hadir di siang hari. Raisya juga bertanya, kenapa bumi ini panas.

“Ibu, panasnya bumi karena apa, bu?”

“Salah satu penyebab bumi panas, karena pohon ditebang besar-besaran hingga tidak adalah lagi pohon yang akan menyejukkan bumi.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Tuyul yang Cantik

“Terus bu, apa yang harus dilakukan bu?”

“ Kita harus menanam pohon disekitar rumah. Itu akan membantu memulihkan semuanya. Kalau bumi panas maka penduduk bumi akan panas bahkan air akan surut. Hujan tidak akan jatuh dan pelangi juga tidak mau lagi menyapa dunia.”

Raisya semakin paham dan ibu senang karena ada rasa ingin tahu Raisya untuk mempelajari sesuatu. Tak lama kemudian, anak petir berbunyi. Raisya masih saja tidak takut. Kemudian induk petir pun berbunyi. Raisya menjerit dan berlari masuk. Ada rasa senang di hati Raisya karena sebentar lagi hujan akan turun. Makhluk bumi pasti bersorak hore.

“Ibu… ibu… air dari langit telah jatuh bu.” Teriak Raisya penuh bahagia

“Kita harus bersyukur karena hujan itu adalah berkah. Raisya juga harus tahu, kalau hujan turun sebaiknya kita berdoa. Karena berdoa ketika hujan, apa yang kita inginkan didengar oleh Allah. Nah, itulah salah satu keutamaan hujan.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Cube Permohonan

Raisya mengangkat kedua tangannya dan berdoa pada Allah agar setelah hujan, pelangi akan terbangun dan tidak akan absen lagi.

Sejam kemudian, hujan berhenti dan Raisya segera berlari keluar untuk melihat apakah pelangi menghiasi langit atau tidak. Sudah beberapa menit Raisya menunggu dan pelangi tidak keluar. Raisya terlihat kecewa, ibu pun segera keluar dan melihat langit.

“Raisya lihat sini! Pelangi ingin melihat keceriaan Raisya.”

“Ibu pasti berbohong. Bagaimana bisa pelangi punya mata.”

“Raisya, maksud ibu. Pelangi itu ada. Lihatlah! Warnanya sangat indah dan beragam.”

“Yang benar bu.” Raisya berbalik arah dan melihat keindahan pelangi yang selama ini ia tunggu. Raisya sangat senang begitupun dengan pelangi yang menyaksikan kebahagiaan Raisya.***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Anak Menunggu Pelangi oleh yang terbit pada Sunday, 06 November 2016 di analisa-anak. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Menunggu Pelangi

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Menunggu Pelangi

×