Cerpen Anak Anak Modern

Dimuat di analisa-anak Edisi Sunday, 04 December 2016
Oleh - Dibaca: 68 kali -   No comments


Arini adalah anak yang suka memamerkan apa yang ia miliki, ia memamerkan semuanya dengan kata-kata yang membuat teman-temannya tak suka dengan tabiatnya. Seperti Hari Raya kemarin, Arini mengenakan semua yang ia punya bahkan tak tertinggal satupun dan melenggak-lenggokkan pinggangnya penuh kesombongan.

Tabiat yang ia miliki membuat teman-temannya menjauh kecuali Ina dan Dea, Ina adalah teman setabiatnya sedangkan Dea hanya seseorang yang sederhana dengan kekurangan. Seharusnya Hari Raya kemarin adalah Raya sebagai kemenangan bagi mereka yang mengubah sifatnya jadi lebih baik tapi tidak untuk Arini dan Ina.

Bahkan sifatnya itu mengikutinya di Sekolah, Arini dan Ina mengenakan pakaian rapi lagi mencolok. Baju, sepatu, tas, bahkan perhiasan mereka melekat di badan mereka. Teman-teman mereka melihat mereka, ada yang pergi, ada yang menggosip bahkan ada yang memuji-muji mereka.

“Arini, Ina, ini lingkungan sekolah bukan lingkungan rumah kalian. Jadi kalian harus mengenakan pakaian dengan sederhana. Karena kita sama di sini, sama-sama menuntut ilmu.”

“Hem… hey Dea, gak usah kamu ngajarkan aku. biar mereka tahu orangtuaku kaya dan kamu irikan dengan kemewahan yang mereka beri untukku.” Ucap Arini

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Harus Ada yang Pertama

“Tidak. Aku sama sekali tidak iri karena aku ini temanmu dan sewajarnya aku mengingatkanmu.” Balas Dea

“Teman kamu bilang? Arini bukan temanmu. Dia adalah temanku dan kamu tak pantas berteman dengannya.” Sambung Ina yang memperkeruh suasana.

Dea tak membalas, ia menjauh dan duduk di bangkunya. Dea tak menyangka, Arini telah berubah. Dea tak tahu lagi, apa yang akan terjadi dengan temannya kalau ia tak secepat menyadarkannya.

Sempat ia memikirkan solusi dan ibu guru terlanjur datang untuk memberikan ilmunya.

“Pagi anak-anak.”

“Pagi bu.” Serentak kami

“Baiklah, hari ini adalah hari kedelapan setelah masuk sekolah. Anak-anak, bagaimana tugas kalian, apakah sudah selesai?”

Mereka berbondong-bondong mengumpulkan tugas mereka kecuali Arini dan Ina. Mereka bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara ibu guru memeriksa tugas mereka satu persatu. Tak lama kemudian ibu guru memanggil Arini dan Ina yang tak mengumpulkan tugasnya.

“Ari, Ina, kenapa kalian tidak mengumpulkan tugas?”

“Maaf bu, kami lupa.”

“Bu guru, mereka lebih mementingkan penampilan, kemewahan yang mereka miliki sampai-sampai mereka lupa belajar. Lihatlah bu guru, seragam sekolah, tas, sepatu dan perlengkapan yang dibawa mereka. Semua begitu mewah dan mencolok.” Kata Rian yang tak suka melihat kesombongan mereka.”

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Pohon Mangga yang Seram

“Sekarang kalian kembali kebangku kalian.” Suruh bu guru dengan nada marah

“Anak-anak, ibu ingatkan bahwa kemewahan yang dimiliki oleh orangtua kalian, sebagai modal untuk kalian menuntut ilmu. Jadi kalian harus memanfaatkan semua itu untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.kalian sudah kelas 6 dan kalian akan menghadap Ujian Nasional nanti.” Tutur guru yang berdiri menyampaikan pada anak-anak didiknya

“Bu, kalau kemewahan mereka dapatkan. Bagaimana dengan anak-anak yang tak mewah seperti mereka.” Tanya Rian lagi

“Kemewahan bukan jaminan untuk keberhasilan karena keberhasilan akan datang jika kalian bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan meluangkan waktu kalian walaupun sedikit untuk mencari ilmu bahkan membaca akan menambah wawasan kalian.” Tutur bu guru lagi

Ibu Guru menasehati mereka agar mereka sadar bahwa sekolah bukan tempat memamerkan kemewahan tetapi wadah untuk bersaing mendapatkan ilmu yang kelak akan berguna di masa depan.

“Sekarang kalian sudah mengerti?” tutur ibu guru yang bertanya

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Si Kicau

“Bu, bukankah wajar, kalau masuk sekolah itu serba baru.” Tanya Ina

“Maksud Ina, pakaian baru, tas baru, sepatu baru bahkan peralatan sekolah baru dan tabiat serba baru?” Tanya ibu guru

“Ia bu.”

“Kenapa harus serba baru kalau semua yang ada masih layak untuk dipakai dan kalau rusak maka diganti jika tidak tetapi diganti maka dikatakan pemborosan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan kita untuk berubah tabiat kita menjadi yang lebih baik bukan sebaliknya dan akan mencapai kemenangan di Hari yang Fitri.” Ucap guru yang terkahir kalinya menasehati mereka.

Setelah menasehati mereka, ibu guru langsung memulai pelajarannya. Hingga jam pelajaranpun diganti dengan jam istirahat. Saat itulah, Arini dan Ina sadar akan perilakunya. Mereka berdua kedepan dan meminta maaf pada teman-temannya termasuk pada Dea. Mereka berjanji tidak akan sombong akan kemewahan orang tua mereka.

“ Hore… sekarang Arini telah kembali seperti dulu dan sekarangpun Ina telah mengikuti tabiat Arini dulu.” Ucap Rian dengan senang

Mereka semuapun tertawa dan mereka pun ditraktir oleh Arini untuk mengembalikan kebersamaan mereka.

***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Anak Anak Modern oleh yang terbit pada Sunday, 04 December 2016 di analisa-anak. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Anak Modern

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Anak Modern

×