Cerpen Anak Hikmah Sebuah Kejujuran

Dimuat di analisa-anak Edisi Sunday, 11 December 2016
Oleh - Dibaca: 69 kali -   No comments


“Ingat ya anak-anak jangan pernah berbohong. Sekali saja kita berbohong, Maka tak akan ada lagi yang percaya dengan ucapan kita,” nasihat Pak Sofyan menutup pelajaran agama Islam siang itu.

“Andi,” bisik sebagian siswa hampir bersamaan seraya melirik ke arah bocah berkulit langsat itu. Andi adalah siswa yang paling terkenal dengan sikap pembohong. Ia acap kali melakukan tindak kecurangan saat memeriksa jawaban tugas sekolah. Demi mendapatkan nilai yang bagus. Andi tak akan ragu untuk menghapus jawabannya. Kemudian menggantinya dengan jawaban yang benar.

Bel sekolah berdering nyaring sebanyak tiga kali. Para siswa tersentak kemudian bersorak riuh.

“Pulang!”

Siang itu terasa sangat gerah. Mentari bersinar terik. Ayam pun nampak uring-uringan mengais makanan. Sebagian terlihat bergumul dengan pasir. Katanya itu adalah cara mandi ayam.

Dari kejauhan terlihat seorang pemuda paruh baya berseragam rapih berwarna kuning. Ia adalah pegawai sebuah pabrik yang memproduksi es krim dengan berbagai rasa, berbentuk batangan dan bertangkai. Di iklan TV es krim itu sangat sering muncul karena menawarkan berbagai macam hadiah. Seperti sepeda, playstation dan PSP. Jika pembeli beruntung pada tangkai es krim akan didapati tulisan berupa hadiah yang akan diterima oleh konsumen. Selain berburu hadiah, anak-anak juga sangat menyukai es krim tersebut karena rasanya yang manis dan lembut. Ditambah lagi memiliki warna yang cerah serta warna-warni.

Tak perlu menunggu waktu lama. Para siswa pun berkerumun mengelilingi pria berseragam itu guna membeli es krim atau hanya sekadar melihat-lihat saja. Kemudian mereka berlomba menghabiskan es krim miliknya. Siapa tahu dapat hadiah.

Andi menelan ludah. Meski tenggorokan terasa sangat kering. Ia tak bisa berbuat banyak. Es krim itu mahal. Andi hanya bisa membelinya jika ia mampu menyimpan uang jajannya selama lima hari. Pasti akan sangat sulit melakukannya.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Gara-gara Kolak Ubi

“Andi, ayok naik!” panggil Rani agak berteriak.

Andi termangu melihat kakaknya yang tampak begitu tergesa-gesa.

“Cepat sini, Dik,” perintah Rani. Ia seperti bisa membaca pikiran adiknya. Ia memberi botol minuman miliknya.

“Nah! Minum.”

Walau rasanya hambar tidak seperti es krim di seberang sana. Tapi air putih pemberian Rani cukup untuk mengatasi rasa haus Andi.

“Ndi, main kelereng yok!”

“Aku gak bisa, Jo. Emak nyuruh aku jagain padi ini,” jawab Andi lesu.

“Kita main di sekitaran sini saja,” sambar Riki. Andi pun mengangguk. Daripada hanya duduk melamun menjaga padi dari ancaman ayam dan burung. Membosankan. Mending disambil dengan bermain kelereng, pikirnya.

Saat mereka tengah asik bermain kelereng seseorang terdengar memanggil bocah cilik itu, “Andi!”

Andi segera beranjak menuju sumber suara. Sepertinya ia telah tahu maksud dari panggilan itu. Benar saja, Bu Rima menyuruh Andi untuk membeli kelapa. Andi memang sering disuruh tetangga untuk sekedar membeli bumbu dapur. Apalagi kalau siang-siang begini.

“Kelapanya jangan terlalu tua ya, Nak Andi. Nanti bilang sama tukang kukurnya, kukur kelapanya sebagian aja. Bagian putihnya saja, yang bagian hitamnya jangan diikutkan,” perintah Bu Rima.

Entah mengapa Jojo tersenyum riang setelah mengetahui Andi dapat tugas dari Bu Rima. Keluarga kaya di Desa Limau. Dan satu-satunya keluarga yang memiliki mobil dan rumah tingkat.

“Ndi, ayok!” Jojo bersiap mengayuh sepeda.

“Ki, kamu jagain bentar padinya. Kami mau beli kelapa dulu,” ucap Andi.

Akhir-akhir ini kelapa sangat langka. Sudah dua kedai mereka kunjungi. Namun stok kelapa sedang kosong. Mereka pikir, kedai Pak Umar akan menjadi yang terakhir mereka kunjungi. Beruntung, ada tersisa beberapa butir kelapa. Tapi terlalu tua. Tidak seperti pesanan Bu Rima.

Jojo dan Andi tidak kehilangan akal. Bermodal sepeda, mereka menuju desa seberang. Mengayuh sepeda di jalan berbatu memang cukup melelahkan. Jojo dan Andi pun saling bergantian mengayuh. Akhirnya, mereka berhasil juga mendapati kelapa seperti pesanan Bu Rima. Mungkin itu adalah kedai ke tujuh yang telah mereka kunjungi.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Si Kicau

“Berapa, Pak?”

“Tiga ribu.”

Andi memberikan uang tukaran lima ribu. Sembari menunggu Pemilik kedai mengambil kembalian. Mata Andi tertuju pada lemari pendingin. Ia kembali menelan ludah. Memandangi es krim yang belum pernah ia rasakan kenikmatannya. Ingatannya kembali memutar kejadian tadi siang di sekolah. Saat sebagian temannya menikmati manisnya es krim. Andi hanya meneguk air putih pemberian kakaknya.

“Ayok, Jo!” ajak Andi tergesa-gesa, Ayok naik, Jo,” teriak Andi mengulangi.

“Bentar, Ndi,” jawab Jojo menghiraukan ajakan Andi.

“Yaudah, aku duluan ya,” gertak Andi. Ia berlagak akan mengayuh pedal sepeda.

“Woi!” teriak Jojo mengejar.

“Kenapa sih harus buru-buru, Ndi?” tanya Jojo heran. Andi hanya diam dan terus mengayuh dengan kencang. Jojo curiga dengan sikap Andi. Apalagi saat melihat Andi terlihat buru-buru meremas uang kembalian dan langsung mengantonginya.

“Ndi!” Jojo menepuk bahu temannya itu.

Andi menghentikan laju sepeda. Kemudian ia mengeluarkan uang dari saku celananya sebesar tujuh ribu rupiah.

“Salah kembalian ya?” tanya Jojo menerka-nerka. Andi mengangguk pelan.

“Nah, ini rezeki, Ndi. Ayok kita beli es krim. Uang segitu bisa dapat dua.”

“Ta-tapi,” ucap Andi terbata. Ia memang suka berbohong terhadap teman-teman sekolahnya. Tapi jika sudah mengenai uang Andi tak berani.

Jojo terus menggoda agar uang tersebut dibelikan ke es krim. Kebetulan mereka juga sudah lelah mencari kelapa sampai ke desa seberang. Dan yang terpenting, siapa tahu akan dapat hadiah berupa sepeda atau playstation dari membeli es krim tersebut.

Mereka sepakat untuk kembali ke kedai tadi. Sekalian membuktikan bahwa pemilik kedai tidak ingat telah salah memberi uang kembalian. Jauh di lubuk hati, mereka berharap pemilik kedai tak mengingatnya. Kebetulan pemilik kedai itu pun usianya cukup tua.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Anak Elang Jadi Relawan

“Mau beli apa, Nak?” tanya pemilik kedai.

“Kami mau beli es krim itu, Wak.” Jojo menunjuk ke arah lemari pendingin, “ Bahkan ia tak ingat kalau kita tadi membeli kelapa di sini, Ndi.” Jojo bergegas membuka pintu lemari pendingin. Ia memilih es krim berwarna hijau campur kuning.

“Kamu pilih yang mana, Ndi?”

Andi tersentak, “E-ee aku,” ucapnya terbata, “yang coklat, Jo.”

Es sudah dalam genggaman. Jojo bersiap akan membuka bungkus es krim, “mudah-mudahan dapat playstation, Ndi,” ujar Jojo penuh harap.

Tiba-tiba Andi merampas es krim milik Jojo, “ini bukan milik kita. Masih ingat kata Pak Guru kan, Jo?” tanya Andi. Jojo termangu.

Andi bergegas mengembalikan es krim ke lemari pendingin sebelum mencair. Ia pun menemui pemilik toko dan menjelaskan seluruhnya. Pemilik toko tersenyum bangga dan mengusap-usap kepala Andi.

Sepanjang perjalanan pulang Jojo tak henti menyalahkan sikap Andi. Seharusnya hari ini kita bisa makan es krim itu, pikir Jojo.

“Ini, Bu.” Andi menyodorkan plastik berwarna hitam serta uang kembalian.

“Oh iya, makasih ya, Nak Andi. Tunggu sebentar ya.”

Tak lama Bu Rima kembali.

“Pasti kalian haus. Ini es krim yang Ibu beli kemarin. Ini untuk kalian.” ujar Bu Rima.

Andi dan Jojo saling lempar pandang. Es krim yang gagal mereka beli tadi kini bisa dinikmati. Alhamdulillah.

Dua bocah itu serentak mengucapkan terima kasih dan bergegas berlari menghampiri Riki. Tiba-tiba Andi berteriak sambil menggenggam tangkai es krim, “Hah! Sepeda! Jo, Ki.”

Alhamdulillah, akhirnya Andi punya sepeda. Jadi gak akan merepotkan kakak lagi, pikirnya. ***

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Cerpen Anak Hikmah Sebuah Kejujuran oleh yang terbit pada Sunday, 11 December 2016 di analisa-anak. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Hikmah Sebuah Kejujuran

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Cerpen Anak Hikmah Sebuah Kejujuran

×