Nagabumi III #6 Guru dalam Kegelapan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Friday, 06 June 2014
Oleh - Dibaca: 36 kali -


APAKAH remaja tanpa nama itu juga ingin menjadi seorang pendekar? Sama sekali tidak. Namun Sepasang Naga dari Celah Kledung tetap mewariskan Ilmu Pedang Naga Kembar kepadanya, Kitab Jurus Penjerat Naga, dan banyak sekali kitab di dalam sebuah peti kayu, yang seluruh isinya telah terpindahkan semua ke dalam otaknya.

Pada awal pengembaraannya di Desa Balingawan, remaja tanpa nama yang masih berumur 15 tahun itu pun bentrok dengan murid-murid Naga Hitam, sampai bertarung melawan Kera Gila, murid utama Naga Hitam, pemimpin kaum perompak sungai yang sangat ditakuti.

Dalam Kitab Nagabumi yang dibacakan para penjaja dongeng dari desa ke desa, dikisahkan betapa remaja tanpa nama ini menjual tenaganya sebagai pendorong gerobak, dalam rombongan mabhasana atau penjual pakaian yang sedang membawa benda-benda upacara peresmian prasasti pembebasan pajak ke Ratawun.

Setelah membela seorang pelacur yang akan dihukum mati, remaja tanpa nama bersama para mabhasana yang mengangkat gerobaknya ke atas rakit besar, telah diserang para perompak sungai yang mampu berenang seperti ikan lumba-lumba.

Dalam pertarungan melawan Kera Gila, remaja tanpa nama ini berhasil membunuhnya, tetapi lantas pingsan karena racun gigitan candala itu di lehernya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #262 Antara Kecantikan dan Pengetahuan

Bertarung di dalam air pada malam hari, ia terpisah dari rakit yang telah menghilir dengan cepat dalam arus deras pada malam yang berhujan bagaikan tiada akan pernah mereda. Remaja tanpa nama itu terapung pingsan di atas kayu, dan ketika tersadar kembali sudah berada di tepi sebuah sungai kecil.

Hari sudah terang tanah, ketika dilihatnya tulisan tergurat dengan jari pada batu di balik permukaan sungai yang jernih:

Latih dirimu sepuluh tahun

Sebelum menantang Naga Hitam

Remaja tanpa nama ini telah mendengar, betapa Naga Hitam dipastikan akan mencari siapa pun yang telah membunuh muridnya. Apalagi remaja tanpa nama yang bahkan tidak berminat menjadi pendekar ini telah menerbangkan nyawa lebih dari satu muridnya. Alih-alih bersikap waswas, remaja ini sebaliknya menyimpan kehendak mencari Naga Hitam itu.

Sampai saat catatan ini dibuat, belum bisa diketahui siapa yang mengguratkan tulisan tersebut, yang telah mendorongnya masuk ke dalam gua penuh lorong berliku, memasuki lapis ketenangan abadi dalam dhyana tertinggi, dalam pembayangan ilmu silat yang diarahkan pemahaman ruang dan waktu, tempat matra bumi berhasil dilepaskan dari peng-alam-an tubuh dan jiwanya, menjelma keberadaan itu sendiri.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #311 63: Pengembaraan Mencari Kematian

Sepuluh tahun lamanya ia mendalami ilmu silat sebagai olah penyempurnaan jiwa maupun raga. Sendiri saja dalam gua tanpa berbicara dan tanpa bersua siapa pun jua, melalui suatu peng-alam-an ruang-waktu dalam penghayatan pikiran, sehingga sepuluh tahun berlalu bagaikan sekejap sahaja.

Tentang peristiwa ini ia mencatat:

Demikianlah aku belajar ilmu silat dengan cara yang aneh, yang kutemukan secara tak sengaja ketika tak sadarkan diri di tepi sungai itu. Ataukah seseorang telah sengaja memberikannya untukku? Jika dia seorang guru, jasanya terlalu besar untukku; dan jika dia seorang guru, bagaimana caraku mengucapkan terima kasih kepadanya? Karena agaknya dia telah mengikuti perjalananku. Bahkan tanpa kuketahui mungkin sering menyelamatkanku. Pertanyaanku tentu: Mengapa dia berbuat begitu?

Masalahnya, apakah masih penting ditanyakan kenapa? Jika harus selalu ada sebab dari perbuatan baik seseorang, apakah masih ada tempat bagi kebaikan itu sendiri? Betapapun, siapa pun dia, aku harus menghormatinya. Tentang guru, kuingat dari bacaan:

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #200 Selamat Tinggal, Mantyasih...

di tempat tanpa guru

satu kali pun nama Buddha

takkan terdengar

para Buddha dari ribuan tahun

Pencapaian Kebuddhaan

tergantung kepada guru

Seorang murid harus mengabdi kepada guru. Aku juga ingin mengabdi kepada hidup yang telah memberi banyak pelajaran bagiku. Namun kini seseorang jelas telah mengarahkan aku, bukan sekadar agar selamat dari ancaman Naga Hitam, melainkan juga memberi pencerahan. Apakah yang bisa lebih mencerahkan ketimbang kemampuan untuk mengatasi ruang waktu? Tubuhku memang tidak mungkin berada di luarnya, tetapi pengolahan nafasku telah membuat pikiranku terbebaskan dari ruang waktu itu Рukuran ruang dan waktu mana pun tak berlaku lagi bagiku. Luas sempit lama sebentar hanyalah kupahami sebagai kesepakatan orang banyak, tapi tidak untuk diriku. Sepuluh tahun memang tetap sepuluh tahun waktu bumi, tetapi dalam samadhi aku tak terikat waktu bumi tersebut. Ruang berada dalam diriku, bukan aku berada dalam ruang; dan dengan keberadaan ruang dalam diriku maka aku pun memiliki waktuku seperti yang kumau. (bersambung) 

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #6 Guru dalam Kegelapan oleh yang terbit pada Friday, 06 June 2014 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #6 Guru dalam Kegelapan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #6 Guru dalam Kegelapan

×