Nagabumi III #310 Sambaran Pedang di Kiri dan Kanan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Saturday, 09 May 2015
Oleh - Dibaca: 41 kali -


SEPERTI yang sempat kuduga, ia tidak ada hubungannya dengan semua urusan ini kecuali satu hal, yakni menguji kesempurnaan ilmunya dengan menantangku bertarung. Dalam dunia persilatan, di mana pun tempatnya, kapan pun saatnya, bagaimana pun keadaannya, suatu tantangan bertarung harus dilayani, sebab jika tidak beritanya akan disebarkan angin dari kedai ke kedai, dan nama siapa pun yang menolak bertarung akan disebut di sungai telaga dengan nada melecehkan.

Kupejamkan mataku dan kurapal ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Melalui suara angin yang terbelah, tergambar dalam keterpejaman mataku sebuah sosok dengan dua tangan terpentang memegang pedang jian, yang ternyata juga membelakangiku!

Baru kusadari diriku tidak membawa senjata, kecuali jika uang tail emas dan perak bisa dianggap senjata karena sebetulnya memang aku sedang berada dalam penyamaran. Aku sungguh harus berhati-hati, bukan karena tidak membawa senjata, melainkan karena dalam kedudukan membelakangi seperti itu kepekaannya akan menjadi berlipat ganda. Sangat mungkin dia juga memejamkan mata.

Kukutuk dia dalam hatiku karena menantangku bertarung di tengah jalanan di dalam kota seperti ini, ketika orang berlalu-lalang tanpa bisa diketahui akan melintasi wilayah pertarungan atau tidak. Pertarungan seperti ini adalah pertarungan tersulit karena seorang pendekar sejati tidak akan menumpahkan darah siapa pun yang tidak bersalah. Berbeda dengan pertarungan di tengah medan pertempuran, tempat hampir semua pembunuhan adalah sahih, sehingga ketika angin pukulan seorang pendekar tanpa sengaja membunuh banyak orang tidak akan disalahkan. Pertarungan di tengah kota memiliki hukum lain.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #347 Rahasia di Ujung Mulut

Dalam pertarungan di tengah kota yang merupakan dunia awam, para pendekar wajib untuk memisahkan dunia persilatan dari dunia awam itu karena sebenarnya dunia persilatan merupakan dunia yang lain. Dalam dunia persilatan para pendekar berkelebat tak terlihat, melayang dengan ilmu meringankan tubuh, menotok dari jarak jauh, menepuk batu menjadi tepung, dan membelah rambut, bukan memotong, menjadi tujuh dengan pedang mestika, jelas tidak untuk menjadi bagian dari dunia awam, melainkan sebaliknya untuk melepaskan dan membebaskan diri dari dunia awam itu.

Kong Fuzi berkata:

ia tidak memamerkan

nilai akhlaknya

betapapun 

semua pangeran

mengikuti langkahnya 1)

Aku membelakanginya dan ia membelakangiku dengan dua pedang jian terpentang ke arah bawah, ciri Ilmu Pedang Wilayah Timur yang sangat ternama. Berarti dia sudah datang dari tempat yang jauh untuk menantangku. Mungkin saja selama ini ia telah mengembara dan mengalahkan banyak pendekar. Barangkali ia yang menantang, barangkali ia yang ditantang, tetapi dapat kubayangkan dia melangkah dari tahun ke tahun dari wilayah timur, mengalahkan lawan satu demi satu sampai kemari.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #341 69: Jurus Baru Panah Wangi

Orang-orang mengalir dari depan dan belakang. Untuk sesaat, sesaat saja, mereka akan melihat kami, tetapi kami segera lenyap dalam pertarungan silat tingkat tinggi yang begitu cepat, sangat amat cepat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih cepat, sehingga tiada seorang awam pun bisa melihatnya. Orang-orang yang berlalu-lalang ini kemudian memang tidak mengetahui betapa di sekitarnya kami telah bertarung dengan kecepatan yang tidak terlihat itu. Mungkin terasakan kesiur angin dan kelebat bayangan sepintas, tetapi yang tidak akan pernah disadari betapa di sekitarnya berlangsung pertarungan antara hidup dan mati.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #11 Tugas Mencuri Pedang

Dalam waktu terlalu singkat, telah kuhindari 500 sambaran pedang di tangan kanan maupun 500 sambaran pedang di tangan kiri yang silih berganti dalam paduan indah Ilmu Pedang Wilayah Timur yang sulit dibedakan dengan tarian, meski tentu saja bukan sekadar tarian melainkan tarian dua pedang dengan ancaman kematian dalam jarak setipis benang untuk menamatkan kehidupan. Beberapa kali pendekar yang tidak menyebutkan namanya itu berjungkir balik di atas kepalaku sembari menggunting, yang tanpa kewaspadaan tinggi terhadapnya tentu kepalaku ini tiada lagi.

Maka dengan segala hormat kugunakan Ilmu Bayangan Cermin untuk menyerap segenap jurus Ilmu Pedang Wilayah Timur yang ternama itu untuk kukembalikan kepadanya sebagai jurus tangan kosong dalam pembalikan cermin yang membingungkannya. Ia membuka mata dan dengan begitu justru kepekaan inderanya semakin berkurang, karena hanya tipu dayalah yang terlihat oleh matanya itu.

Demikianlah ia berkelebat menghindar, tetapi aku tidak membiarkannya. (bersambung) 

1. Lin Yutang, The Wisdom of Confucius (1938), h. 133.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #310 Sambaran Pedang di Kiri dan Kanan oleh yang terbit pada Saturday, 09 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #310 Sambaran Pedang di Kiri dan Kanan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #310 Sambaran Pedang di Kiri dan Kanan

×