Nagabumi III #316 64: Persekutuan dan Kepercayaan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Friday, 15 May 2015
Oleh - Dibaca: 16 kali -


SEPERTI semua orang di meja itu, kami pun menunggu. Kami tidak mengira betapa perkara keutuhan Harimau Perang itu ternyata juga menjadi masalah semua orang. Bukan hanya lawan, tetapi juga kawan. Benarkah Harimau Perang adalah sebuah nama bagi banyak orang? Atau sebaliknya mungkinkah satu manusia hadir di banyak tempat seketika dengan satu nama, seperti yang selalu diceritakan banyak orang dari kedai ke kedai?

Dari tempat persembunyian, kami dengar helaan napas panjang.

”Saudara-saudaraku yang baik, mengapa kita tidak bisa mulai dengan saling percaya? Aku bukan seorang terdakwa di sini, dan kita berkumpul di sini bukan karena diriku yang menjadi masalah…”

Semua terdiam. Lalu, salah seorang berbicara.

”Ada banyak masalah, dan saudaraku Harimau Perang adalah salah satunya.”

Sepi kembali.

Aku berpikir keras. Pertemuan apakah ini? Istana Terlarang adalah tempat peristirahatan maharaja. Apakah ini berarti maharaja mengetahui dan mengizinkan pertemuan, yang dihadiri musuh resmi pemerintah seperti Harimau Perang?

”Saudara-saudaraku mempermasalahkan keberadaanku, sementara aku jelas berada di hadapan kalian,” ujar Harimau Perang, ”Tapi bagaimana dengan sekutu yang saudaraku sebut Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu? Dia itu dulu musuh kita, mengepung kota ini, menjatuhkan banyak korban! Mengapa tidak dipersoalkan selama ini hanya mengirimkan utusan tanpa pernah menunjukkan batang hidungnya? Untuk pertemuan sepenting ini, mengapa itu tidak ditafsirkan sebagai penghinaan? Rasanya aku lebih suka menjadi musuh yang memburunya daripada bersekutu dengannya!”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #208 Komplotan Pembunuh Maharaja

”Huh!”

Lantas kami dengar suara kursi jatuh dan seseorang berdiri.

”Siapa menghina siapa?! Betapapun Tuanku yang Mulia Paduka Bayang-Bayang tidak berada di ruangan ini dan melakukan penghinaan!”

Tentu inilah suara utusan yang menggantikan kehadiran Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang. Tetapi suara Harimau Perang tetap tenang, tentunya ia bicara sambil tetap duduk.

”Saudaraku yang menjadi utusan, tenanglah, tidak ada sesuatu pun yang akan bisa menghalangimu, jika memang ingin mati bagi tuanmu Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang,” katanya. ”Tetapi jika memang kematian semacam itulah yang Saudaraku inginkan untuk memberi makna hidupmu sendiri, ketahuilah terlebih dahulu siapa Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu sebenarnya.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #188 Dua Buronan Diumumkan

”Aku mengerti siapa Tuanku!”

”Tidak. Saudaraku tidak mengerti. Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang memiliki Ilmu Pemecah Suara, sehingga Saudaraku dan kita semua tak dapat mengetahui sumber suaranya ketika tuanmu itu berbicara, dan pada saat yang sama juga memiliki Ilmu Pemisah Suara, yakni suaranya bisa berada di suatu tempat sementara tuanmu berada di tempat lain.”

”Kami tahu tuanku memiliki ilmu-ilmu tak terbayangkan. Itulah yang membuat kami percaya kepadanya!”

”Hohohohohohoho! Percaya saja tidak cukup Saudaraku, percaya saja tidaklah cukup,” ujar Harimau Perang, ”Apakah Saudaraku pernah melihat tuanmu yang terpercaya itu?”

”Kami tidak perlu melihatnya untuk percaya.”

”Itulah soalnya sekarang bagi kita Saudara-saudaraku,” Harimau Perang sekarang jelas mengarahkan kata-katanya kepada orang-orang lain di meja itu. ”Bagaimana caranya kita percaya kepada sesuatu tanpa memiliki atau menguasai cara-cara pengujiannya. Hal itu mungkin berlaku dalam kepercayaan beragama, tetapi tidak perlu berlaku dalam urusan dunia, apalagi urusan kita, tempat segala sesuatu harus bisa dihitung, dijabarkan, dipertimbangkan, dan terhadapnya dilakukan penalaran dengan rinci, berkali-kali, sampai keraguannya tiada lagi.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #352 Siapa Menggerakkan Bayangan?

Aku tertegun. Dengan perbincangan seperti itu Harimau Perang bisa mengubah sikap pengikut Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang agar meninggalkannya.

”Dengan ilmu-ilmu yang sama, tidakkah Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang bisa saja berada di dekat-dekat kita, tetapi pada saat yang sama memberikan kepada kita suatu kesan betapa dirinya seolah-olah jauh sekali, dan karena itu sungguh-sungguh sakti?”

Kesenyapan yang menegangkan kembali mencekam. Kukutuk diriku sendiri karena tidak bisa berada dalam kedudukan yang memungkinkan kami untuk melihat siapa saja yang berada di sekitar meja itu. Panah Wangi memberi tanda bahwa sebaiknya kami merayap ke atas dengan gabungan ilmu cicak, ilmu bunglon, dan ilmu halimunan, tetapi kuberi tanda betapa melakukannya sekarang adalah sangat berbahaya.

Utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu berbicara, ”Jika demikian pendapat Saudaraku Harimau Perang, barangkali pertemuan ini lebih baik dibubarkan dan persekutuan dilupakan,” katanya, ”Bukankah di antara kita sudah tidak ada saling percaya?” (bersambung) 

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #316 64: Persekutuan dan Kepercayaan oleh yang terbit pada Friday, 15 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #316 64: Persekutuan dan Kepercayaan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #316 64: Persekutuan dan Kepercayaan

×