Nagabumi III #317 Orang Kebiri Merasa Terancam

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Saturday, 16 May 2015
Oleh - Dibaca: 19 kali -


AKU tidak tahu perwakilan kelompok apa saja yang berada di meja itu, tetapi bahwa terdapat gagasan agar Harimau Perang bersekutu dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu saja sudah membuatku sangat penasaran. Bukankah Harimau Perang sengaja dipanggil dari Daerah Perlindungan An Nam terutama untuk melumpuhkan jaringan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang?

Apakah pertemuan ini sepengetahuan maharaja? Sejauh yang kami alami, Taman Terlarang ini merupakan wilayah yang keamanannya ditangani oleh Pasukan Hutan Bersayap, pasukan orang-orang kebiri yang tugas utamanya adalah melindungi keselamatan maharaja. Jika mengingat apa yang terjadi dengan peti-peti uang emas itu, maka letak Taman Terlarang yang berada di luar tembok Chang’an, bahkan tidak berbatas apa pun dengan keluasan padang di wilayah utara, keterlarangannya justru menutupi segala persekongkolan orang-orang kebiri dengan pihak mana pun.

Pasukan Siasat Langit memang telah menggagalkan penyelundupan yang dilakukan Pasukan Hutan Bersayap, tetapi selain terdapat berbagai kelompok di kalangan orang-orang kebiri, pengukuhan kembali telah didapatkan setelah peristiwa bentrokan antara pasukan Pangeran Song dengan para petugas Dewan Peradilan Kerajaan di bekas Taman An Lushan. Namun yang sedang berlangsung sekarang ini adalah perselisihan antara Harimau Perang dengan utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang tampaknya sulit diselesaikan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #269 54: Ledakan dan Cahaya di Atas Kota

Terdengar suara yang lain. Suara seorang laki-laki yang halus sekali.

”Mohon Saudaraku berdua menahan diri sejenak, kepentingan persekutuan sekarang ini jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok, apalagi kepentingan pribadi,” ujarnya. ”Mohon duduklah Saudaraku berdua dengan tenang.”

Terdengar dengusan napas jengkel dari utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang. Agaknya ia mengambil kembali kursi yang dijatuhkannya, meletakkannya kembali dengan setengah membantingnya, yang agaknya mengundang kemarahan pula.

Suara laki-laki terdengar memperingatkannya.

”Saudaraku berhadapan dengan Pangeran Tong! Bersikap sopanlah sedikit!”

Pangeran Tong? Aku terhenyak. Pastilah ini pertemuan yang sangat penting. Pangeran Tong, adik tiri Pangeran Song, lahir bukan Permaisuri Wang yang sudah meninggal tahun 786. Segera aku teringat apa yang pernah disampaikan jaringan mata-mata tentara bahwa Putra Mahkota Li Song atau Pangeran Song tidak pernah terlalu suka dengan pengaruh orang-orang kebiri, baik di Istana Daming, pemerintahan Wangsa Tang, dan juga di dalam jenjang ketentaraan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #110 Menjadi Tahanan Harimau Perang

Sebaliknya Maharaja Dezong disebut semakin mempercayai orang kebiri ini. Daripada Menteri Utama Zheng Yuqing, maharaja terbukti lebih percaya kepada Dou Wenchang dan Huo Xianming, yang juga menjadi para panglima Pasukan Siasat Langit.

Mozi berkata:

Pembelajaran

itu berguna.

Alasannya

diberikan

oleh mereka

yang melawannya.1

Utusan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang itu tidak bersuara lagi. Mungkinkah Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang sendiri telah membisikkan sesuatu ke telinganya?

Terdengar suara itu melanjutkan.

”Sudah lama sekali orang-orang kebiri mengabdi kepada Negeri Atap Langit, baik sepanjang masa pemerintahan Wangsa Tang maupun semenjak masa wangsa-wangsa sebelumnya. Selama itu jejak jasa-jasanya tercatat dengan jelas, baik dari penyebarannya dalam jabatan pemerintahan, ketentaraan, maupun begitu banyak bidang pengab­dian yang sudah tidak bisa disebutkan satu per satu. Untuk itu semua, seorang kebiri masih harus mengawalinya dengan sebuah pengorbanan, tetapi siapakah yang menghargainya?

”Sepanjang sejarah hanyalah hinaan dan umpatan yang diterimanya, meski mereka yang tahu menghargainya tidaklah berkurang, terutama di antara bangsawan, bahkan pengakuan terhadap kemampuannya masih terus dilakukan.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 10 #193 Mahaguru Kupu-Kupu

Ia berhenti sejenak, memperhatikan apakah kata-katanya cukup memiliki arti.

”Namun sekarang kita melihat bahwa bukan saja penghinaan masih terus dilakukan terhadap orang-orang kebiri, tetapi juga keberadaannya di Istana Daming sangat terancam, karena kemungkinannya yang sangat besar untuk dipunahkan.”

Kukira arah perbincangan dan pertemuan ini jelas. Putra Mahkota Li Song yang akan menggantikan Maharaja Dezong, tidak menyukai terdapatnya jaringan orang-orang kebiri. Ketika untuk pertama kalinya Maharaja Dezong berbicara empat mata dengan Pangeran Song, tanpa seorang kebiri pun di ruang tertutup di salah satu ruangan di Istana Daming, maka untuk pertama kalinya pula orang-orang kebiri itu menangkap gelagat, betapa kedudukan istimewa mereka terancam berakhir.

”Apakah yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?”

Jika Pangeran Tong ternyata berada di sini, apakah itu berarti ia telah menempatkan diri dalam kedudukan untuk melawan kakaknya? (bersambung)

1. Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 126.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #317 Orang Kebiri Merasa Terancam oleh yang terbit pada Saturday, 16 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #317 Orang Kebiri Merasa Terancam

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #317 Orang Kebiri Merasa Terancam

×