Nagabumi III #322 Tentang Mengisi Ruang Kosong

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Thursday, 21 May 2015
Oleh - Dibaca: 43 kali -


TANGAN gadis yang bergerak melukis itu apalah bedanya dengan tangan seorang pendekar dalam dunia persilatan? Kematangan titik dan garis yang disapukannya setara belaka dengan kematangan gerak pedang yang menusuk sebagaimana membuat titik, lantas menarik garis yang membelah kulit, daging, dan jika perlu tubuh berikut tulang-tulangnya. Bagaimanakah caranya Harimau Perang belajar dari gadis bisu tuli ini? Jika dari titik dan garisnya dapat dipelajari kematangan sebuah gerakan, sangat mungkin Harimau Perang mempelajarinya untuk diterapkan ke dalam ilmu silat. Apalagi yang bisa lebih hebat dari kenyataan, betapa kematangan bisa dipelajari dari bagaimana titik menjadi garis saja?

Namun Anggrek Putih melukis tiap hari dengan tiada habisnya. Seperti ini pulakah Harimau Perang telah meman­faatkannya? Bagi Anggrek Putih sendiri melukis tentu merupakan pengganti kebisuannya, dalam suatu dunia tempat dirinya tidak mendengarkan apa pun, sehingga yang tergambarkan melalui lukisan bukanlah sesuatu untuk dipandang, melainkan untuk didengarnya. Demikianlah Anggrek Putih sebenarnya dengan melukis itu berbicara kepada dirinya sendiri. Bagaimanakah seseorang akan bisa masuk ke dalam dunianya?

”Anggrek Putih tidak menyukai bahkan takut dengan Harimau Perang,” ujar Panah Wangi, ”Jadi terhadapnya ia tidak ingin mengungkap apa pun.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #112 Dibebaskan!

Jika ia seorang tawanan, siapakah Anggrek Putih ini? Apakah hubungannya dengan Harimau Perang dan bagaimana dirinya bisa berada di Chang’an? Sementara kami tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami terus memperhatikan lukisan-lukisannya. Sangatlah rumit dan nyaris membuat putus asa usaha memecahkan rahasia lukisan-lukisan Anggrek Putih, tetapi lambat laun akhirnya kami mengerti juga.

Panah Wangi menjajarkan lukisan-lukisan tinta hitam di atas kain putih di sepanjang tembok Kuil Muhu. Semula segenap noktah, bercak, garis, serta sapuan itu tampak sekadar sebagai tinta yang mencoreng atau bahkan tumpah tanpa sengaja sehingga jika tidak seperti tanpa makna apa pun, sebaliknya juga seperti bisa berarti gambar apa pun.

Suatu ketika, bayangan tubuhku ketika jendela dibuka menimpa salah satu lukisan yang terbentang berjajar pada tembok kuil itu, mengisi ruang kosong antara noktah, bercak, garis, serta sapuan yang seolah bertebaran tiada beraturan tersebut.

Apabila noktah, bercak, garis, dan sapuan itu semuanya dihubungkan, maka akan terbentuklah gambaran suatu sosok yang memperagakan jurus tertentu. Sedangkan jika seluruh lukisan yang dibentangkan berjajar-jajar itu diikuti terus jurus-jurusnya, maka semua itu tersusun bagaikan suatu kitab ilmu silat.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #28 Kelicikan dan Kerahasiaan

Lukisan-lukisan itu harus dilihat dengan tiga cara berbeda. Pertama, dilihat tinta hitamnya; kedua, dilihat kain putihnya; ketiga, ruang kosong antara noktah, bercak, garis, dan sapuan, harus diisi sendiri oleh pemandangnya. Begitu sang pemandang dapat mengisi sendiri ruang-ruang kosong itu, maka ia akan dapat melihat gerakan-gerakan orang bersilat.

Ketika aku dan Panah Wangi mulai memperagakannya, ternyatalah bahwa jurus-jurus itu tiada bisa diingkari lagi sangatlah indah. Di dalam bangsal Kuil Muhu yang luas, ketika kami tanpa sengaja terus-menerus memperagakan dan mengujinya, kami telah terbang melayang dengan ringan dan riang, seperti bukan bersilat, bahkan seperti kanak-kanak bermain, tetapi yang jika dibacok langsung berputar masuk menembus kelemahan lawan dan menewaskannya.

Harimau Perang telah menemukan rahasia kematangan gerak dari titik menjadi garis, tetapi ia belum mengetahui bagaimana noktah, bercak, garis, dan sapuan itu bisa menjadi jurus, lantas bagaimana jurus demi jurus tersusun sebagai suatu bangunan ilmu silat. Harimau Perang sudah lama menjadikan Anggrek Putih sebagai tawanan, tetapi belum pernah berhasil menemukan kunci rahasia ilmu silat di balik lukisan, bukan karena dirinya kurang cerdas, melainkan karena Anggrek Putih telah menutupi atau bahkan menyesatkannya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #298 Sang Pengadu Domba

Dalam Chung Yung dituliskan:

untuk tidak

memiliki perasaan

senang atau marah

sedih atau gembira

adalah suatu mala:

ini disebut

keadaan chung.

memiliki rasa mala

tetapi secara imbang:

ini disebut

keadaan ho

atau selaras.1

Siapakah kiranya Anggrek Putih itu sebenarnya? Mungkinkah gadis kecil bisu tuli itu memang tidak menguasai apa yang digambarkannya?

”Serahkan saja kepada kami,” kata seorang padri, ”pasti akan kami dapatkan nanti asal-usulnya.”

Saat itu kami belum menyadari betapa terbongkarnya asal-usul Anggrek Putih itu nanti akan mengubah jalan cerita sama sekali. (bersambung) 

1 Istilah chung dapat dibandingkan dengan pengertian Aristotelian ”pembidangan emas” (golden section atau golden mean) dalam Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 172-3.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #322 Tentang Mengisi Ruang Kosong oleh yang terbit pada Thursday, 21 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #322 Tentang Mengisi Ruang Kosong

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #322 Tentang Mengisi Ruang Kosong

×