Nagabumi III #325 Antara Sulap dan Sihir

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Sunday, 24 May 2015
Oleh - Dibaca: 34 kali -


MEMPELAJARI Ilmu Silat Aliran Shannan artinya mempelajari suatu bangunan ilmu yang selalu berubah, karena Guru Besar Ilmu Silat Aliran Shannan sendiri, jika mempertimbangkan pemeriksaan atas urutan jurus-jurusnya, selalu mempelajari dan menggubah jurus-jurus baru. Setidaknya sampai saat ini tidak seorang pun tahu di manakah kiranya kedudukan Guru Besar Ilmu Silat Aliran Shannan, tetapi perkembangan jurus-jurusnya menampakkan pengamatan atas gerak-gerik binatang, pertumbuhan tanaman, sapuan angin, dan pergerakan bintang-bintang, yang dalam keberulangannya tetap saja berubah, berubah, dan selalu berubah. Ini dapat berarti bahwa dirinya bermukim di tengah alam terbuka.

Andaikan telah terbangun suatu rangkaian jurus, yang terurutkan dari jurus ke-1 sampai ke-100, maka dengan terendapkannya jurus-jurus baru urutannya tidak menjadi jurus ke-1 sampai ke-101, ke-102, dan seterusnya, melainkan mulai dari jurus ke-2 sampai ke-101, berlanjut dengan jurus ke-3 sampai ke-102, jurus ke-4 sampai ke-103, dan seterusnya yang menunjukkan betapa bukan hanya jurus-jurus itu telah menjadi semakin canggih, melainkan bahwa Ilmu Silat Aliran Shannan bisa dipelajari dari mana saja selama tetap urut, karena akan tetap sampai kepada jurus yang semula merupakan jurus ke-1 dan seterusnya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi I Kitab 2 #24 Kejatuhan Mayat yang Terkena Embun

Sebaliknya, jika tidak pernah lagi mengikuti perkembangan jurus-jurus itu, berarti Ilmu Silat Aliran Shannan yang dikuasainya akan berada di bawah siapa pun yang mempelajarinya lebih kemudian, meski dalam pertarungan belum tentu yang mempelajarinya paling akhir akan menjadi pemenang. Maka dapat dibayangkan apa yang dikhawatirkan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang ketika Harimau Perang berhasil menculik Anggrek Putih dan menawannya. Isi kepala Anggrek Putih, tanpa disadari Anggrek Putih sendiri, menjadi ajang pertarungan pengaruh jarak jauh antara Harimau Perang yang berusaha menarik keluar segenap endapan jurus-jurus Ilmu Silat Aliran Shannan, dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang yang berusaha menghapusnya.

Anggrek Putih sendiri, sementara tidak tahu-menahu persoalan perebutan pengaruh atas kepalanya, juga berada dalam tarik-menarik antara menahan segalanya agar jurus-jurus itu tidak dapat dikenali Harimau Perang, yang telah menyekap dirinya cukup lama, dengan memberikan segalanya kepada kami berdua, yang telah membebaskannya. Namun meski maksud hati memberikan semua, daya pengungkapannya sudah terbatas, karena campur tangan pengaruh Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang terhadap endapan jurus-jurus dalam kepalanya yang dikirim Guru Besar Ilmu Silat Aliran Shannan itu.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #307 Penculikan Dijalankan

Laozi berkata:

ia tidak memperlihatkan

dirinya sendiri;

karenanya terlihat

di mana pun.

ia tidak menjelaskan

dirinya sendiri;

karenanya berbeda.

ia tidak menegaskan

dirinya sendiri;

karenanya berhasil.

ia tidak membanggakan

dirinya sendiri;

karenanya bertahan.

ia tidak bersaing, dan

karena alasan itu

tidak seorang pun

di dunia ini

dapat bersaing

dengannya.1

Betapapun, bagi kami, Ilmu Silat Aliran Shannan yang kami dapatkan lebih dari cukup, karena dengan sifat pembelajaran jarak jauh yang menjadi cara dan ciri ilmu silat ini, maka apa yang bisa dilakukan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang akan dapat pula kami lakukan. Sekarang kami tahu, itulah rupanya yang dicari Harimau Perang, yakni cara untuk mencari, mencapai, menangkap, dan tentu jika perlu membunuh Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang dengan menggunakan ilmunya sendiri!

Panah Wangi bertanya,”Siapa yang harus kita kejar dahulu sekarang, Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang ataukah Harimau Perang?”

”Keduanya bermusuhan,” kataku, ”Jika kita biarkan saja suatu ketika mereka pun akan saling berbunuhan.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 9 #167 Jurus Naga Meringkuk di Dalam Telur

”Tapi kita tidak tahu kapan,” sahut Panah Wangi, ”sedangkan aku tidak mau menjadi tua dan mati di Chang’an.”

Sampai sekarang aku belum mengetahui apakah yang menjadi sebab perburuannya atas Harimau Perang. Ia teringat bagaimana Harimau Perang menghilang dan meninggalkan asap ketika sudah terkepung dan terluka.

”Apakah kita juga harus belajar ilmu sulap dan ilmu sihir supaya bisa menangkapnya?”

Pertanyaan itu di dunia persilatan tidak memerlukan jawaban. Panah Wangi pun lebih tampak menertawakan dirinya sendiri daripada sungguh-sungguh bertanya. Mungkin saja Panah Wangi setengah putus asa.

”Dengan Ilmu Silat Aliran Shannan ini tentu tidak perlu,” kataku, ”Bukan hanya kita akan menguasai ilmu dewa seperti Ilmu Pemecah Suara dan Ilmu Pemisah Suara, tetapi seperti apa yang disebut-sebut orang banyak tentang Harimau Perang, kita bisa muncul di tempat yang berbeda-beda, di mana pun tempatnya pada waktu yang sama.” (bersambung) 

1. Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 99.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #325 Antara Sulap dan Sihir oleh yang terbit pada Sunday, 24 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #325 Antara Sulap dan Sihir

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #325 Antara Sulap dan Sihir

×