Nagabumi III #329 Pemetik Sanxian di Malam Sunyi

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Thursday, 28 May 2015
Oleh - Dibaca: 18 kali -


TINGGAL diriku sendiri bersama malam. Bagaimana jika diriku menjadi Harimau Perang sekarang, yang diburu 50 padri pengawal Kaum Muhu, dan masih ditambah empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta dengan segenap ilmu racunnya? Sebetulnya juga ditambah ratusan petugas Dewan Peradilan Kerajaan yang tidak kalah tinggi ilmu silatnya. Namun jika dalam hal para petugas Dewan Peradilan Kerajaan sudah terbukti betapa Harimau Perang dapat menghindarinya, menghadapi perburuan padri pengawal Kaum Muhu dan perkumpulan rahasia Kalakuta adalah tantangan berbeda.

Kecakapan bertarung padri pengawal Kaum Muhu yang memadukan keterampilan ilmu silat dan ilmu sihir, pastilah jauh lebih sebanding dengan ilmu silat Harimau Perang yang juga memanfaatkan ilmu sihir. Dalam ilmu sihir itulah Harimau Perang akan mendapatkan tandingannya, karena jika ilmu silat harus dilawan dengan ilmu silat, maka ilmu sihir juga harus dilawan dengan ilmu sihir. Menghadapi para padri pengawal Kaum Muhu itu, Harimau Perang tidak hanya akan diburu oleh 50 manusia petarung dari segala arah, tetapi juga tebaran mantra yang menggenang di udara.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #152 Orang-Orang Kebiri yang Mencuri

Katakanlah mantra dan teluh yang disebarkannya adalah mantra api, meskipun jika Harimau Perang memiliki mantra yang sama, tetap akan terbakar menyala ketika melewati genangannya. Harimau Perang hanya bisa mengetahui keberadaannya, tetapi tidak kebal darinya. Itulah yang akan membuat perburuan dan pertarungan akan menjadi sebanding dan setara. Namun bukan hanya betapa jumlah padri pengawal Kaum Penyembah Api, dengan kemampuan bertarung tingkat tinggi, itu cukup banyak untuk mengepung, mengurung, dan merajam Harimau Perang sampai mati, melainkan juga masih ditambah empat bekas pengawal pribadinya sendiri yang berasal dari perkumpulan rahasia Kalakuta.

Tentu racun bukanlah barang baru bagi Harimau Perang, tetapi dengan kenyataan betapa mereka berempat adalah bekas pengawal pribadi, tentu merupakan ancaman tersendiri karena pengawal pribadi akan mengenali pula kelemahan pribadi! Bagaimana caranya Harimau Perang akan bisa meloloskan diri?

Aku ternyata masih berdiri miring pada tembok. Tiada lagi keempat anggota perkumpulan rahasia itu. Adapun yang kupikirkan sekarang justru bagaimana caranya menyelamatkan Harimau Perang!

Inilah peliknya menjadi diriku dalam urusan Harimau Perang. Apa pun yang dilakukannya aku harus menghindarkannya dari kematian, selama aku belum berhasil membuatnya berbicara tentang kematian Amrita.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #69 Menemukan Pekasih dan Obat Perangsang

Apakah ini membuatku berhadapan dengan 50 padri pengawal Kaum Muhu dan empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta?

Bentrokan itu hanya bisa dihindarkan jika aku bisa menangkap Harimau Perang lebih dulu. Jika tidak, setiap kali Harimau Perang nyaris terbekuk, saat itu pula aku harus menolong, membantu, membebaskan, dan menghindarkannya dari penggorokan. Maklumlah, jika bagi para petugas Dewan Peradilan Kerajaan menangkap dan mengadilinya menjadi tujuan utama, dan hanya jika terpaksa karena melawan maka dipersilakan untuk membunuhnya. Bagi 54 orang itu pembunuhan adalah hal terbaik yang wajib segera diberlakukan bagi Harimau Perang. Sedangkan apabila aku menghalangi, apalagi menghindarkannya, kukira hal yang sama akan diberlakukan kepadaku pula.

Betapapun aku harus siap menghadapi 54 orang itu, satu per satu maupun bersama-sama, jika aku tidak pernah berhasil mendahului mereka. Namun sudah setahun lebih aku berada di Chang’an, dan belum juga aku menangkap Harimau Perang.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 6 #116 Sepasang Pendekar yang Menyamar

Hui Shih berkata:

yang terbesar

tidak memiliki

apa pun

di balik dirinya,

dan disebut

Yang Besar,

yang terkecil

tidak memiliki

apa pun

di dalam dirinya,

dan disebut

Yang Kecil. 1

Dari kedudukanku yang berdiri miring pada dinding tembok, aku sudah melenting ke atas dinding itu, dan siap berkelebat kembali ke Kuil Muhu ketika terdengar suara sanxian atau bunyi-bunyian petik dengan tiga dawai yang jernih sekali bunyinya.

Aku terkesiap. Sejak kapan pemetik sanxian ada di sana? Jika ibarat kata semut berbisik di dalam liang pun dapat kudengar, bagaimana caranya pengemis berbusana compang-camping ini bisa seperti tiba-tiba saja berada, di sudut jalan gelap dan sepi yang tidak seorang pun akan sekadar lewat untuk memberinya sedekah?

Sudah jelas betapa dirinya tentu bukan sembarang pengemis, melainkan salah seorang penyoren pedang yang menyamar sebagai pengemis.

”Pendekar Tanpa Nama,” katanya, ”berilah daku sedekah…” (bersambung) 

1. Fung Yu-lan, A Short History of Chinese Philosophy (1948), h. 83.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #329 Pemetik Sanxian di Malam Sunyi oleh yang terbit pada Thursday, 28 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #329 Pemetik Sanxian di Malam Sunyi

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #329 Pemetik Sanxian di Malam Sunyi

×