Nagabumi III #330 Mencari Kematian yang Sempurna

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Friday, 29 May 2015
Oleh - Dibaca: 32 kali -


HMM. Sekarang aku ingat. Inilah pengemis bercaping yang menggumamkan ayat dari Daodejing, meminta sedekah sebuah pedang kepada Yan Zi, dan menyatakan betapa dirinya memang pengemis, tetapi bukan sembarang pengemis. Aku ingat dialah yang memberi tahu bahwa Harimau Perang bukanlah pemeluk Muhu melainkan Ta ch’in, dan ketika bertemu lagi dan Yan Zi membacoknya, meski jaraknya sudah seujung rambut dirinya tenang-tenang saja. Pada pemba­cokan kedua terdapat sebuah pedang menangkisnya, dan seketika itu pula baik pengemis tersebut maupun penangkis ba­cokan yang tiada pernah terlihat ujudnya itu menghilang.

Sampai sekarang pun belum dapat, bahkan sekadar untuk menduganya, siapa mereka berdua itu. Pernah kuduga dia adalah anggota Partai Pengemis, tetapi kukira pernyataannya sendiri tadi sudah menggugurkannya. Kukira memang benar dia bukan sembarang pengemis, dalam arti bukan pengemis yang menjadi pengemis karena tersingkir dari khala­yaknya. Juga bukan bagian dari para pengemis yang tergabung dalam Partai Pengemis, yang hanya seperti meminjam cara-cara kehidupan pengemis dan mengatasnamakan pengemis padahal selalu mampu minum arak di mana pun mereka berada.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #4 Pengembaraan Kemurungan

Suara keramaian masih saja terdengar di kejauhan, tetapi seperti menegaskan kekosongan pojok ini.

”Sedekah apakah kiranya yang mampu daku berikan kepadamu, wahai pengemis sakti,” kataku, ”tidakkah dikau sudah begitu kaya dengan kelebihan sehingga tidak perlu apa pun lagi?”

Sanxian-nya masih berbunyi, dalam pendengaranku sungguh-sungguh indah sekali.

”Ah, siapakah yang bisa begitu penuh kelebihan seperti Pendekar Tanpa Nama? Namun jika dikau begitu merendah, kita bisa saling bertukar saja,” katanya, ”Kuberikan dikau sesuatu, dan sebagai gantinya berikanlah daku sesuatu.”

Kuingat lagi cerita Yan Zi bahwa setelah dilemparkannya uang setail perak, pengemis ini segera memberikan keterangan tentang agama Harimau Perang. Apakah yang akan disampaikannya sekarang?

Aku mencari-cari uang tail di balik baju. Namun pengemis itu berkata lagi.

”Sedekahilah daku sebuah jurus, nanti kupersembahkan kepada dikau sebuah jurus pula.”

Aku terhenyak, meskipun hanya satu jurus, ini seperti sebuah tantangan bertarung. Dalam dunia persilatan, mengajarkan jurus, meski hanya satu jurus, kepada siapa pun di luar perguruan, adalah suatu pengkhianatan. Justru melalui pertarunganlah seorang pendekar dapat mempelajari jurus-jurus lawannya dengan sah. Itulah saat ketika pendekar yang satu akan berkata pendekar lainnya, ”Daku sangat berterima kasih jika bisa mendapat sedikit pelajaran.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #249 50: Tentang Mengadu Dua Lawan

Sang Buddha berkata:

jangan percaya apa pun

karena seorang bijak

mengatakannya1

Bunyi sanxian itu mendadak berhenti. Ia berkelebat. Aku berkelebat. Dalam sekejap kami berdua sudah menjadi gulungan cahaya yang sebentar terlihat dan sebentar menghilang. Ilmu silat pengemis sakti ini sangat tinggi, tetapi tidak satu pun manusia di dunia persilatan mengetahui namanya. Sangat mungkin ia tidak pernah bertarung, karena dengan ilmu setinggi itu suatu pertarungan memang tidak akan pernah terjadi. Kami bahkan tidak pernah sempat bersentuhan, karena kecepatan tertinggi selalu tertandingi oleh kecepatan yang lebih tinggi lagi, dan hanya satu sentuhan telah dengan segera menyelesaikannya.

Tubuhnya berputar dan jatuh, tengkurap menimpa sanxian yang sempat berbunyi sebentar, tetapi lantas terdiam untuk selama-lamanya karena tiga dawainya terputus.

Untuk sejenak aku berdiri mematung dan tercenung. Sudah berapa kali diriku lolos dari lubang jarum dan terlontar dari lubang jarum yang satu ke lubang jarum yang lain. Dunia persilatan menjadi tempat para pendekar mencari kematian terindah, dalam pertarungan yang dengan cara bagaimanapun adalah berdarah.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Cintaku Jauh di Komodo

Namun aku segera mendekati dan membalikkan tubuhnya. Ia masih bernapas, dengan setitik darah di sudut mulutnya. Ia sudah cukup berumur, rambutnya berwarna perak, tetapi tubuhnya tampak muda. Betapapun aku membunuh seorang tua. Patutkah semua kematian ini, meskipun atas nama pendakian menuju puncak kesempurnaan di dalam dunia?

Wajahnya tersenyum ramah, bahkan menunjukkan kepuasan. Apakah aku pun harus bersyukur karena telah menjadi jalan menuju kepuasannya itu? Dalam dunia persilatan masalahnya bisa juga lebih sederhana, yakni sekadar membunuh atau dibunuh…

”Hadapilah,” katanya, dengan mata yang menatap tajam.

Aku tentu tampak tidak mengerti.

”Para padri pengawal Muhu dan para pembunuh Kalakuta…”

Aku hanya bisa memberi tanda betapa diriku telah mendengarnya. Ia menutup mata dan pergi. (bersambung) 

1 Raymond van Over, Eastern Mysticism. Volume One: The Near East and India (1977), h. 199.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #330 Mencari Kematian yang Sempurna oleh yang terbit pada Friday, 29 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #330 Mencari Kematian yang Sempurna

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #330 Mencari Kematian yang Sempurna

×