Nagabumi III #331 67: Antara Cahaya dan Kegelapan

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Saturday, 30 May 2015
Oleh - Dibaca: 21 kali -


KAUM Muhu yang berada di Kotaraja Chang’an dan berbagai tempat lain di Negeri Atap Langit sebetulnya adalah bagian dari tersebarnya kaum pelarian dari Persia, ketika pada tahun 635 para pemeluk Islam dari Arab menggulingkan Wangsa Sassania, dan umat agama setempat yang mengikuti ajaran Zarathushtra ditindas dengan keras.

Sebagai umat beragama, di Negeri Atap Langit para penyembah atau pemuja api ini disebut Kaum Muhu. Tidak seperti Buddha, bersama Kaum Ta’chin tempat peribadatan Kaum Muhu digolongkan sebagai kuil-kuil asing, yang juga menunjukkan bagaimana penerimaan terhadapnya. Dalam penyebarannya, para pengikut Zarathushtra yang oleh orang-orang Yunani disebut Zoroaster, diterima dengan jauh lebih baik di Jambhudvipa, tempat mereka kemudian lantas disebut sebagai ”Parsi” yang memang berarti Persia.

Di tempat asalnya, sekitar 1.300 tahun yang lalu Zarathushtra menyusun kembali cara-cara pemujaan alam yang purba, seperti perlindungan terhadap binatang-binatang setempat, meningkatkan panen, dan memelihara daya-daya hidup mendasar seperti api, bumi, dan air. Banyak dewa setempat digabungkan oleh Zarathushtra, tetapi terbagi dalam dua kedewaan, yakni yang dermawan maupun penuh kedengkian, antara Ahura Mazda atau Ormuzd dan Angra Mainyu atau Ahriman, antara penguasa Cahaya dan pe­nguasa Kegelapan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #104 Mata yang Mencorong dalam Gelap

Kemenduaan penguasa merupakan bagian terkuat ajaran Zarathusthra, yang tidak sepenuhnya merupakan kemenduaan, karena diandaikan bahwa Ormudz,yang baik akan mengalahkan Ahriman yang jahat. Sebagai bentuk kepercayaan yang purba, bahkan Zarathusthra tercatat hanya menyusunnya, sedikit banyak jejaknya terdapat pula dalam berbagai agama yang muncul kemudian1. Dengan segala kerendahhatian, para padri Zoroaster yang di Negeri Atap Langit disebut Muhu ini menjalankan peribadatannya dengan damai meski berada di bawah pemerintahan Wangsa Tang yang penuh gejolak. Seperti tahu diri atas kedudukan mereka sebagai kelompok yang diselamatkan, didukung, dan sudah seratus tahun lebih ditampung.

Namun ini tidak berarti Harimau Perang bisa membunuh dua padri Muhu begitu saja dan melenggang pergi tanpa hukuman. Tampaknya bahkan sudah ditetapkan di antara Kaum Muhu bahwa hukumannya adalah kematian.

Zarathusthra berkata:

tempat-tempat

Kehampaan dan Kesendirian

yang kita rasakan,

kenyamanan mempercayai

yang kita saksikan,

tiada terbatas,

seperti hasrat

jiwa kita

untuk

mengada 2

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #172 Bayangan Menyerbu dari Empat Penjuru

Demikianlah aku belajar mengenal dan memahami ajaran para padri di Kuil Muhu ini, dan tanpa bermaksud mencuri dapatlah kuketahui pula rahasia ilmu silat padri-padri pengawal Kaum Muhu yang tersohor sebagai petarung andal itu. Jika diriku boleh mengungkapkannya, ternyata ilmu silat mereka memang terhubungkan dengan kepercayaannya, seperti hubungan perseteruan antara Cahaya dan Kegelapan yang seharusnyalah pada akhirnya dimenangkan oleh Cahaya. Di kuil ini mereka tiada pernah abai melatih diri, dengan kepercayaan yang besar kepada diriku yang juga tinggal dan menyaksikan segalanya di sini.

Tidak dapat kuingkari, betapa bimbang diriku menghadapi kemungkinan harus menghadapi 50 padri pengawal ini, semuanya, jika kuputuskan bahwa betapapun Harimau Perang harus tetap hidup untuk mengungkapkan rahasia terbunuhnya Panglima Amrita Vighnesvara dalam perebutan Kota Thang-long di Daerah Perlindungan An Nam kepadaku. Tidak juga dapat kuingkari betapa sungkan dan betapa malunya aku kepada diriku sendiri, apabila kusadari betapa naluri menghadapi kemungkinan pertarungan itulah yang sebetulnya membuatku tanpa sadar mencari kunci rahasia keunggulan ilmu silat para padri pengawal itu.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #166 Kotaraya nan Rawan

Panah Wangi pun tidak luput dari kegundahan yang sama.

”Sebaiknya kita mengajak para padri ini bicara,” ujar Panah Wangi, ”Sangat mengerikan jika berlangsung pertarungan antara kita berdua melawan mereka. Pihak mana pun yang menang hasilnya pasti menyedihkan.”

Aku mengangguk, kata-katanya sama sekali tidak keliru.

”Hampir setiap orang yang mengikuti perkembangan pertempuran di perbatasan mendengar peristiwa mengejutkan itu,” ujar Panah Wangi lagi, ”Gabungan pasukan pemberontak yang tinggal selangkah lagi untuk merebut Thang-long mendadak terpukul mundur, bahkan hancur lebur oleh pengkhianatan dari dalam. Setiap orang yang peduli dengan keadilan tentu mengerti kepentingan kita.”

Namun aku belum mengerti kepentingan Panah Wangi. Apakah aku harus menanyakannya sekarang? Aku menghela napas panjang, meskipun hanya dalam hatiku sendiri saja. Dalam hubungannya dengan Harimau Perang, semua orang bagaikan mengetahui masalahku, tetapi masalah Panah Wangi tiada seorang pun mengetahuinya! (bersambung) 

1. Raymond Van Over, Eastern Mysticism. Volume One: The Near East and India (1977), h. 289-91.

2. Ibid., h. 290.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #331 67: Antara Cahaya dan Kegelapan oleh yang terbit pada Saturday, 30 May 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #331 67: Antara Cahaya dan Kegelapan

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #331 67: Antara Cahaya dan Kegelapan

×