Nagabumi III #334 Membuntuti Orang-Orang Kalakuta

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Tuesday, 02 June 2015
Oleh - Dibaca: 39 kali -


PARA padri pengawal Kaum Muhu, petarung-petarung terbaik yang bisa ditemukan di Chang’an, ternyata bisa memahami kepentingan kami. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh 50 padri pengawal disepakati bahwa siapa pun yang lebih dulu berhasil melumpuhkan Harimau Perang diandaikan tidak akan membunuhnya. Ini merupakan tugas yang tidak lebih mudah daripada membunuhnya, karena jika hanya ditangkap, bukankah Harimau Perang bisa menghilang? Namun karena para padri tidak mempermasalahkan soal itu, kukira diriku pun semestinya percaya kepada mereka. Lagi pula, sihir tidaklah asing bagi para padri Kaum Muhu bukan?

”Jika masalah Harimau Perang sudah jelas,” ujar Panah Wangi, ”bagaimana dengan orang-orang Kalakuta?”

”Hmmh! Tikus-tikus perkumpulan rahasia, kukira tanpa harus menunggu pun sebaiknya mereka kita selesaikan saja riwayat hidupnya,” ujar salah seorang padri.

”Setuju,” sahut salah seorang yang lain.

”Setuju, bukankah mereka pun pembunuh bayaran yang harus dibasmi?”

”Betul, sebaiknya kita cari mereka.”

Cari dan bunuh. Tentu itu maksudnya. Namun mereka adalah para padri Muhu yang seharusnyalah merawat kehidupan, bukan membunuhnya. Maka mereka hanya menyampaikan gagasan untuk mencari, dan bukan membunuh, padahal maksudnya tiada lain selain membunuhnya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #59 Elang Merah Ambruk ke Tanah

Kemudian terdengar gagasan yang berbeda dari padri kepala, pengganti kedua padri kepala yang dibunuh Harimau Perang itu.

”Kita memang harus mencari keempat anggota Kalakuta itu,” katanya, ”tetapi bukan untuk membunuhnya.”

Semua orang tersentak, tetapi tidak berani mempertanyakan maupun menyetujui, apalagi menyanggahnya. Padri kepala itu pun mengungkapkan apa yang dipikirkannya.

”Sudah beberapa lama kita memburu Harimau Perang, tetapi jejaknya pun sama sekali tidak kita dapatkan. Kini telah tiba di kota ini para anggota perkumpulan rahasia Kalakuta, yang pernah mengawal Harimau Perang dari Thang-long menyeberangi lautan kelabu pegunungan berbatu-batu. Mereka rupanya memiliki urusan sendiri dengan Harimau Perang, yang menurut Pendekar Tanpa Nama, bukan saja telah membantai kawan-kawan mereka di tengah jalan, melainkan juga mempergunakannya untuk memfitnah Pendekar Tanpa Nama.

”Mereka memburu Pendekar Tanpa Nama sampai ke Chang’an karena Harimau Perang itulah yang mengatakan siapa pembunuh kawan-kawan mereka, dan menjatuhkannya ke jurang. Pendekar Tanpa Nama berhasil menundukkan salah satu pemburunya, dan secara tidak langsung meyakinkan yang lain bahwa Harimau Perang itulah yang harus bertanggung jawab sepenuhnya. Jadi, seperti kalian semua, mereka juga memburu Harimau Perang, tetapi dengan perbedaan besar.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #270 Seratus Lipatan Kemegahan

”Kalian 50 padri pengawal adalah manusia siap tempur dengan kemampuan bertarung tingkat tinggi, tetapi separo diri kalian adalah padri jujur, yang meskipun tidak asing dengan sihir, tidak terlalu akrab dengan tipu daya golongan hitam; sebaliknya empat anggota Kalakuta ini, sebagai warga perkumpulan rahasia, dari hari ke hari hidup dari kerahasiaan satu ke kerahasiaan lainnya, yang tentu akrab dengan segenap jejak langkah Harimau Perang. Sedangkan mereka pun pernah menjadi pengawal pribadi Harimau Perang, yang sedikit banyak tentu mengenal cara berpikirnya dalam dunia kerahasiaan.

”Makanya carilah empat orang anggota Kalakuta ini untuk menunjukkan jalan kalian menuju Harimau Perang. Bagaimana pendapat kalian?”

Kukira sulit menanggapi jalan pikiran padri kepala ini selain menyetujuinya dengan beberapa catatan, bahwa keempat anggota Kalakuta ini tidak boleh mengetahui betapa diri mereka sedang dibuntuti. Jika tidak, aku sungguh berharap mereka tidak sebaliknya menjalankan tipu dayanya kepada 50 orang padri pengawal Muhu ini.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #67 Keculasan Selalu Dilengkapi Kegagalan

Wu Zi berkata:

sebagaimana

medan pertempuran

merupakan 

tempat abadi 

dari yang mati;

maka yang 

memutuskan mati

akan hidup, dan

yang menginginkan

hidup, akan mati.1

Begitulah di balik kehidupan Chang’an, yang mulai kembali ceria setelah diharu biru kekacauan yang diakibatkan penge­pungan, pembakaran, penjarahan, dan penganiayaan, tetap berlangsung pertarungan rahasia dalam kelam yang penuh ketegangan. Lima puluh padri pengawal memilih bergerak di balik tabir, sehingga mereka bisa melihat semuanya tetapi tiada sesuatu pun bisa melihat mereka, baik burung maupun manusia, termasuk anggota perkumpulan rahasia Kalakuta.

Namun mereka yang tergabung dalam Kalakuta tentulah bukan sembarang manusia. Seseorang tidaklah akan hidup dalam dunia kerahasiaan yang bagaikan tidak ada dalam dunia, jika dirinya hanyalah sama dengan tetangga-tetangga dan setiap orang di kampungnya. (bersambung) 

1. A. L. Sadler , The Chinese Martial Code [2009 (1944)], h. 176.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #334 Membuntuti Orang-Orang Kalakuta oleh yang terbit pada Tuesday, 02 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #334 Membuntuti Orang-Orang Kalakuta

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #334 Membuntuti Orang-Orang Kalakuta

×