Nagabumi III #346 70: Pengadilan Harimau Perang

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Sunday, 14 June 2015
Oleh - Dibaca: 20 kali -


KULIHAT Harimau Perang memejamkan mata. Tahukah ia betapa dirinya sedang diloloskan melalui lubang jarum? Saat ia membuka matanya, empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta dari Daerah Perlindungan An Nam itu sudah terkapar tanpa nyawa lagi. Matanya terbuka lebih lebar. Dari jauh dapat kulihat cercah harapan dan kegembiraan, untuk sebentar, karena tentu disadarinya kemudian betapa orang-orang Kalakuta itu dibunuh bukanlah untuk menolongnya.

Dengan mata seorang mata-mata akan segera terpindai dan tertemukan olehnya betapa dirinya sudah terkepung. Tidak kurang dari 50 padri pengawal Kaum Muhu telah mengunci kedudukannya di sudut barat laut dari dinding tembok petak yang terletak di sudut paling barat laut di Kotaraja Chang’an. Ia tidak akan bisa lolos dengan cara apa pun, dengan ilmu penyusupan maupun ilmu sihir, karena bagi Kaum Muhu apa yang disebut sihir bahkan menjadi permainan kanak-kanak belaka.

Demikianlah selama berbulan-bulan para anggota perkumpulan rahasia Kalakuta mencari, melacak, dan memburu Harimau Perang, dan selama itu pula para padri pengawal Kaum Muhu membuntuti orang-orang Kalakuta tersebut. Limapuluh padri pengawal dibagi menjadi empat regu untuk membuntuti empat anggota perkumpulan rahasia Kalakuta, dengan dua regu terdiri atas 12 orang dan dua regu lain terdiri atas 13 orang. Dengan cara ini, setiap orang Kalakuta dapat diikuti secara ketat dari 12 sampai 13 sudut pandang, sehingga tiada lagi celah yang memungkinkan para padri pengawal Muhu itu kehilangan jejak maupun pandangan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #283 Panah Berdesing-desing Memburunya

Kemampuan Harimau Perang untuk menyamar, menyusup, dan menghilang, sesungguhnya tiada memiliki kelemahan, kecuali bahwa para bekas pengawal pribadinya, meski hanya sewaan, telanjur menggenggam segenap perbendaharaan siasat Harimau Perang. Tanpa kesempatan menyerap pengetahuan ketika menjadi pengawal pribadi seperti itu, tidak seorang pun akan bisa mengikuti ke mana Harimau Perang berkelebat keluar dan masuk lagi dari tabir kerahasiaan yang satu ke tabir kerahasiaan yang lain. Maka mencari, menemukan, dan menangkap Harimau Perang dengan cara mengikuti segenap gerak dan langkah orang-orang Kalakuta yang sedang memburunya adalah siasat terbaik.

Namun karena tujuan orang-orang Kalakuta adalah membunuh Harimau Perang, setelah menemukan Harimau Perang mereka harus segera dibunuh, dan kini sudah terbunuh.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #209 42: Para Pengawal Anggrek Merah

Laozi berkata:

meninggalkan kehidupan,

memasuki kematian:

sepertiga teman kehidupan,

sepertiga teman kematian,

dan mereka yang

menghargai kehidupan

dengan hasil

memasuki alam kematian,

ini juga sepertiga,

mengapa bisa?

karena jalan hidupnya

terlalu kasar 1

Harimau Perang mendongak, kukira kini ia juga melihatku dan Panah Wangi di atas wuwungan ini. Apakah hanya kepada kami yang berada di sini Harimau Perang harus bertanggung jawab? Sebetulnya aku pun belum menuduhkan apa-apa kepadanya, apalagi tuduhan menusuk Amrita dari belakang seperti dikatakan Panah Wangi, tetapi kawan-kawan yang lain di sini memang lebih pasti. Harimau Perang telah membunuh kekasih Panah Wangi yang bernama Panah Sakti dari belakang, membunuh dua padri Kaum Muhu dengan tiada semena-mena yang tak mungkin tidak mendapat hukuman, dan betapapun Amrita telah membisikkan kepadaku sebelum perlaya, ”Harimau Perang segalanya…”

Gerimis turun membasahi genting-genting rumah dan rerumputan. Senja mulai meremang. Panah Wangi memandangku. Aku menghela napas panjang. Kami dapat merebut Harimau Perang dari orang-orang Kalakuta, tetapi aku tidak dapat merebutnya dari kawan-kawanku sendiri. Telah diputuskan betapapun Harimau Perang hari ini harus mati. Bukan sekadar karena dirinya akan bisa melebur dalam kegelapan ketika senja lenyap berganti malam. Jika hanya itu, semenjak Ilmu Silat Aliran Shannan kami bagi rata maka kami semua akan mampu memburunya ke balik malam. Kami telah bersepakat, Harimau Perang tidak perlu lagi diberi kesempatan memamerkan kelicinan dan siasatnya yang telah dan selalu memakan korban.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #363 Selamat Tinggal Chang'an

Senja itu petak yang terletak di sudut barat laut tersebut menjadi ruang pengadilan, dengan terdakwa, tertuduh, dan tersangka yang terpaku di sudut barat laut dinding petak itu juga.

Dari atas genting Panah Wangi meng­ajukan pertanyaan, ”Jawablah Harimau Perang, seperti terbukti, mengapa dikau membunuh Panah Sakti kekasihku, calon menantu Panah Besar ayahku, kepala gabungan suku-suku Karluk, secara pengecut dari belakang?” (bersambung)

1. Mengacu terjemahan Daodejing ayat ke-50 dalam bahasa Inggris oleh R. B. Blakney [1960 (1955)], h. 103; D. C. Lau [1972 (1963)], h. 111, dan dalam bahasa Indo­nesia oleh Tjan K. (2007), h. 50.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #346 70: Pengadilan Harimau Perang oleh yang terbit pada Sunday, 14 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #346 70: Pengadilan Harimau Perang

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #346 70: Pengadilan Harimau Perang

×