Nagabumi III #347 Rahasia di Ujung Mulut

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Monday, 15 June 2015
Oleh - Dibaca: 22 kali -


HARIMAU Perang yang semakin tenggelam dalam senja semakin tak terlihat wajahnya.

Aku tahu dia tidak akan menjawab pertanyaan ini.

Panah Wangi tampak kesal.

”Harimau Perang, dikau berhak tidak menjawab,” katanya, ”tetapi jika dewa-dewa membiarkanmu mati hari ini, ketahuilah bahwa dikau tidak akan mati hari ini, jika tidak pernah secara licik menikam Panah Sakti di tengah kemelut pertempuran dari belakang, pada masa mudamu yang memalukan.”

Dari sudut itu terdengar suara orang meludah.

Panah Wangi mengepalkan kedua tangannya, penanda dirinya menahan amarah. Seketika tergenggam pada masing-masing kepalan itu sebatang anak panah yang seperti siap menancap pada dahi siapa pun.

”Kuharap dikau tahu bagaimana daku menghukum pemerkosa dan calon pemerkosa,” kata Panah Wangi lagi, ”karena hukuman yang sama pasti terjadi padamu!”

Seperti ancaman tetapi bukan ancaman.

Gerimis menderas, betapapun belum menjadi hujan. Salah seorang padri pengawal berkata, ”Jawablah Harimau Perang, mengapa dikau membunuh dua padri Kaum Muhu yang tidak mempunyai kesalahan apa pun kepadamu, dengan sangat kejam? Dikau memenggal kepala dan menyayat-nyayat dada para petinggi agama kami dengan tiada semena-mena. Apakah kiranya dikau tiada memikirkan betapa tindakan seperti itu bisa dilakukan tanpa mendapat hukuman atau pembalasan setimpal?”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #186 Nasib Gadis yang Selalu Melukis

Tiada terdengar jawaban apa pun selain suara dengusan, apalagi jika bukan penghinaan. Angin kencang menyibak gerimis sehingga titik-titik gerimis beterbangan membasuh wajah-wajah para padri pengawal, yang tampak begitu waspada terhadap setiap perkembangan.

Apakah kiranya yang dipikirkan oleh Harimau Perang? Apakah ia berpikir betapa konyol semua pertanyaan ini, karena hidup pada dasarnya memang bantai-membantai? Untuk sejenak aku menyadari keadaan ini sebagai pertarungan antara kebiadaban dan peradaban.

Angin semakin kencang ketika giliranku tiba. Dalam perbincangan menghadapi keadaan ini telah diminta pengertianku bahwa pertanyaan diajukan bukan dalam semangat penyidikan, melainkan pengesahan untuk memberikan hukuman, yakni hukuman mati, yang sama juga sebagai pengesahan untuk membunuhnya, yang nadanya bukan tidak dikenali oleh Harimau Perang.

Pantaslah ia sejak tadi hanya meludah dan mendengus tanpa kebahagiaan.

Laozi berkata:

mengetahui 

dan tidak diketahui

adalah terbaik.

menjadi bebal

tetapi mengira paham

adalah bencana.

mengetahui

kesalahan seseorang

adalah cara menuju

ketidakbersalahan 1

Masalahku memang berbeda dengan Panah Wangi dan para padri Muhu itu, yang kehendak dan tujuannya sudah jelas, yakni balas dendam, meski telah diadabkan sebagai penegakan keadilan. Namun aku memburu Harimau Perang sama sekali bukan dengan pikiran untuk membunuhnya, bahkan tidak pernah terpikir olehku sebelum Panah Wangi menyebutnya bahwa kemungkinan terbesar adalah Harimau Perang yang menjadi pembunuh Amrita.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #254 51: Menyatu dengan Pencerahan

Tidak mudah bagiku menyingkirkan gagasan terdapatnya persekongkolan, dan tujuanku untuk mencari Harimau Perang adalah mempertanyakannya, dengan cara yang juga belum kuketahui. Sekarang aku tidak punya waktu lagi. Harimau Perang sudah berada pada saat-saat terakhirnya. Panah Wangi dan 50 padri pengawal Muhu yang mengepungnya tidak mungkin membiarkan Harimau Perang hidup lebih lama dari hari ini.

”Jawablah Harimau Perang,” kataku, ”apakah maknanya ketika Panglima Amrita Vighnesvara berkata ‘Harimau Perang merusak segalanya.’?”

Setelah dua pertanyaan sama sekali tidak dijawab, aku merasa sudah tahu bahwa pertanyaan ketiga ini juga tidak akan dijawab. Namun tubuh Harimau Perang yang semula terpuruk bagaikan mendapat ruh baru. Ia langsung menjawab pertanyaan ini dengan pertanyaan pula!

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #42 8: Jam Malam di Kota Chang'an

”Merusak segalanya, itu yang dikatakan Panglima Amrita?”

”Ya, apa maksudya?”

Harimau Perang tertawa kecil, seperti menertawakan sesuatu di dalam pikirannya sendiri, tetapi kemudian tawanya itu menjadi semakin keras.

”Hahahahahaha! Akhirnya dia mengakui apa yang semula diingkarinya! Hahahahaha!”

Apakah yang diingkarinya?

Harimau Perang masih tertawa, seperti lupa betapa hidupnya sungguh akan berakhir. Aku melayang dari atas wuwungan menuju tempat dirinya tersudut itu, lantas turun dengan bobot bulu burung angsa.

”Ceritakanlah semua,” kataku, ”hidupmu tinggal beberapa saat lagi.”

Aku berharap Harimau Perang berpikir seperti aku berpikir, bahwa sebelum mati yang terasa begitu dekat di depan hidung ini, sepantasnyalah manusia itu berbuat baik sebaik-baiknya, dengan begitu baik, sangat amat baik, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih baik.

Namun ternyata aku keliru! (bersambung)

1. Melalui John Blofeld, The Secret and the Sublime: Taoist Mysteries and Magic (1973), h. 158.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #347 Rahasia di Ujung Mulut oleh yang terbit pada Monday, 15 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #347 Rahasia di Ujung Mulut

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #347 Rahasia di Ujung Mulut

×