Nagabumi III #348 Tantangan Seorang Petualang

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Tuesday, 16 June 2015
Oleh - Dibaca: 17 kali -


AKU sudah begitu dekat dengan Harimau Perang, tetapi wajahnya tetap tidak terlihat, meskipun dari kesamar-samaran yang sempat membayang di bagian wajahnya itu, terlihat sekilas cahaya senyuman. Hmm. Senyuman orang yang sebentar lagi akan mati, apakah maknanya?

Lantas terdengar suara Harimau Perang itu.

”Pendekar Tanpa Nama, sungguh begitu pentingkah cerita itu untukmu?”

”Jika bukan karena cerita itu, diriku tidak akan berada di sini, Harimau Perang.”

Terlihat lagi kilas senyuman itu.

”Pendekar Tanpa Nama, jika memang demikian, cerita itu ada harganya.”

Permainan apakah ini? Apakah aku harus mengatakannya kurang penting, Tentu cerita itu sangat penting bagiku. Amrita tewas oleh jebakan dan pengkhianatan yang belum jelas latar belakangnya dan kini segalanya mungkin akan segera terbuka.

Berarti kilas senyuman itu menunjukkan kelicinannya!

Namun jika aku mengatakannya kurang penting, apalagi tidak penting, terutama dengan tujuan agar justru dia menceritakannya, bagi orang seperti Harimau Perang siasat seperti ini tentu mudah dibaca. Jadi dia tidak akan menceritakannya pula.

”Apa maksudmu Harimau Perang?Jika dikau bermaksud menukarnya dengan jiwamu, apalagi kebebasanmu, dikau pun tahu itu mustahil.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #86 Misteri Orang-Orang Kebiri

”Tentu tidak, wahai Pendekar, tetapi jika dikau menganggapnya begitu penting dan begitu menginginkannya, maka cerita itu sungguh pantas dikau bayar.”

Aku tertegun. Gerimis dan keremangan mengundang malam, tetapi hari masih cukup terang untuk memperlihatkan rambutnya yang lurus panjang. Ia telah memasukkan kembali pedang panjang melengkung itu ke dalam sarungnya, tersoren saling menyilang di punggungnya, seperti mengerti betapa dihunus pun tiada gunanya. Punggungnya tegak dan dadanya bidang, dengan bahu lebar pada tubuh tinggi besar, sesuai dengan keberasalannya, tempat Kaum Ta ch’in, yang sama dengan Kaum Muhu, juga berasal dari Persia.

Hanya saja Harimau Perang bukanlah golongan pelarian atau pengungsi, bukan pula keturunan pelarian atau keturunan pengungsi, melainkan seorang pengembara. Bahkan lebih dari pengembara, kukira Harimau Perang adalah seorang petualang. Jika seorang pengembara melakukan perjalanan demi perjalanan itu sendiri, maka bagi seorang petualang suatu perjalanan tidak ada artinya tanpa menguji dan melayani setiap kemungkinan yang dilihat sebagai tantangan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #84 Permainan Bayangan yang Meyakinkan

Itulah yang membedakan diriku dengan Harimau Perang. Sebagai pengembara, yang pada dasarnya adalah orang asing di setiap tempat yang kulewati, aku berusaha keras membatasi diriku sekadar sebagai orang yang lewat, sebagai penonton yang tidak melibatkan diri dengan masalah setempat, kecuali jika sangat terpaksa.

Celakanya, seperti selalu terjadi dalam dunia persilatan, terlalu sulit untuk menghindarkan diri dari tantangan persilatan yang apabila dilakukan oleh seorang pendekar yang terlibat dalam permainan kekuasaan akan membuat siapa pun yang ditantangnya, jika tak dapat dikalahkannya, menjadi terlibat ke dalam permainan kekuasaan pula. Seperti yang terjadi dengan tantangan bertarung Amrita kepadaku di pelabuhan Funan waktu itu, ketika belum lagi sehari menginjak Tanah Kambuja, yang jika tidak pernah terjadi tentu tidak akan menyeretku sampai sejauh ini.

Sedangkan pada Harimau Perang, dengan sengaja sebagai orang asing mengajukan diri untuk bergabung ke dalam tentara bayaran Karluk. Setelah membunuh Panah Sakti, ia menyembunyikan dirinya jauh ke An Nam, melibatkan diri dalam kegiatan mata-mata kaum pemberontak sampai berhasil mengepalai kesatuan mata-mata pemberontak gabungan. Namun ia pun lantas berganti pemihakan, dengan mengorbankan ribuan orang, barangkali membunuh Amrita pula, yang membuatnya mendapat jabatan kepala mata-mata Negeri Atap Langit.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #226 Akal Pendekar Panah Wangi

Itulah perbedaan antara pengembara dan petualang. Seorang pengembara mungkin mempunyai tujuan, mungkin pula tidak mempunyai tujuan, tetapi hanya menerima apa pun yang lewat dalam hidupnya selama mengembara. Seorang petualang tidak akan pernah merasa cukup dengan hanya menerima, karena ia memang mencari, menguji, mencoba, tetapi hanya sejauh masih menyenangkan dan sesuai dengan tujuannya sendiri.

Apakah Harimau Perang telah sampai kepada akhir petualangannya? Apakah yang masih mungkin dilakukannya untuk menyelamatkan diri dalam keadaan seperti ini? Ternyata ia memiliki rahasia, yang bagiku mungkin saja sangat berharga, karena berhubungan dengan apa yang diucapkan Amrita. Namun ia meminta bayaran.

”Dengan apa Harimau Perang? Apakah kiranya yang masih cukup berharga bagi orang mati?”

”Dengan memberiku kesempatan bertarung,” katanya, ”satu lawan satu.” (bersambung) 

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #348 Tantangan Seorang Petualang oleh yang terbit pada Tuesday, 16 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #348 Tantangan Seorang Petualang

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #348 Tantangan Seorang Petualang

×