Nagabumi III #350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita?

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Thursday, 18 June 2015
Oleh - Dibaca: 38 kali -


AKU teringat kembali bagaimana gabungan pasukan pemberontak yang tinggal selangkah lagi menguasai Thang-long, pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam yang berada di bawah pengaruh Wangsa Tang, menjadi kacau-balau setelah api berkobar di garis belakang, karena seorang perempuan penyusup menyalakan bahan-bahan peledak dalam gerobak. Pasukan pemberontak yang mundur dengan penuh kekacauan diserang pasukan berkuda pemerintah andalan yang menyerbu dari balik kegelapan secara mengejutkan, mendesak kaum pemberontak sampai ke tengah Sungai Merah yang begitu dingin di musim dingin.

Dulu itu pun diriku tidak bisa mengerti betapa pasukan pemberontak gabungan yang terdiri atas orang-orang tangguh, dan oleh Amrita dilatih seperti tentara, dengan pengalaman tempur dalam berbagai medan berat, mengapa bisa didesak dan dihancurkan dengan begitu cepat ketika selalu unggul di berbagai medan berbulan-bulan sebelumnya.

Memang segala keunggulan berkat jasa kerja mata-mata yang dipimpin oleh Harimau Perang, tetapi ternyata adalah Harimau Perang pula yang telah menghancurkannya. Aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana seseorang bisa menghancurkan segala sesuatu yang dengan susah payah telah dibangunnya sendiri. Betapapun kini aku menemukan kata kunci dan itulah yang disebut keberpihakan. Harimau Perang tidak pernah berpihak kepada pihak mana pun selain dirinya sendiri. Apa yang bagi seseorang merupakan pilihan antara setia atau berkhianat, bagi Harimau Perang hanyalah berganti pihak, tanpa tujuan apa pun selain demi suatu petualangan.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi II Kitab 6 #112 Tanah Peperangan

Baginya lebih penting membuktikan kepada Amrita betapa dirinya benar, bahwa para pemimpin pemberontak bisa disuap, meskipun kemerdekaan suatu bangsa terjajah bukan hanya tertunda, melainkan jatuh pula beribu-ribu korban.

Adapun yang menjadikan Harimau Perang sebagai penjahat besar adalah tindakannya yang sungguh berdaya untuk meng­ubah para pemimpin pemberontak menjadi pengkhianat, dan baginya ini bukanlah keberpihakan kepada pihak mana pun selain sebuah petualangan. Untuk itulah kukira dia layak dihukum mati.

”Bagaimana dengan Amrita?”

Ia berhenti bicara, menghela napas panjang.

”Panglima Amrita itu, mengapa begitu sulit untuk percaya…”

Aku menunggu. Cukup lama Harimau Perang berhenti di sini. Apakah kiranya yang begitu mengganjal sehingga begitu sulit baginya untuk bercerita?

Sun Tzu berkata:

mereka yang mahir

dalam seni perang

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #203 Alasan dan Kebijaksanaan

mengizinkan

Jiwa Langit

mengalir

di dalam dan di luar

diri mereka 1)

”Sulit percaya bahwa kesetiaan macam apa pun bisa berubah menjadi pengkhianatan, sehingga perlu teman sendiri untuk membunuhnya agar ia bisa percaya,” sambung Harimau Perang, ”tetapi baru hari ini daku mendengar bahwa ternyata ia mengakuinya, meski tetap menyalahkan diriku seorang sebagai sumber segenap kegagalan pasukan pemberontak itu.”

Teman sendiri? Siapakah yang dimaksudnya itu?

”Harimau Perang, jadi bukanlah dirimu yang menusuk Amrita Vighnesvara dari belakang?”

”Pendekar Tanpa Nama, tidakkah jelas masalahnya bagimu bahwa jika daku yang membunuhnya tentu Panglima Amrita lebih sulit diyakinkan betapa teman seperjuangan bisa berbalik mengkhianatinya.”

Aku tertegun. Kata-katanya tidak keliru.

”Daku sedang berada di hadapannya ketika itu,” kata Harimau Perang lagi, ”jadi dia pun tahu bukanlah diriku melainkan teman di belakangnya, yang seharusnya melindunginya, yang membunuhnya. Daku segera berkelebat ketika dirimu tiba, begitu juga dirinya. Janganlah bertanya siapa pembunuhnya, wahai Pendekar Tanpa Nama, karena betapapun adalah diriku yang membuatnya membunuh Panglima Amrita kekasihmu itu. Jadi dikau tetap bisa beranggapan dakulah pembunuhnya.”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #54 Berita dari Mata-Mata Tibet

Sangatlah kuhargai cara Harimau Perang mengambil alih tanggung jawab pembunuhan Amrita, tetapi ini tidak mengurangi kemarahan dan tuntutanku kepada pembunuh Amrita yang menusuknya dari belakang itu. Sama seperti sikap Kaum Muhu terhadap Harimau Perang yang telah membunuh dua padri mereka dengan tiada semena-mena, untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, begitu pula sikapku terhadap pembunuh Amrita siapa pun orangnya. Ibarat kata ke mana pun dia pergi, ke mana pun kakinya melangkah, ke ujung dunia sekalipun, akan tetap kukejar.

”Itulah ceritaku,” kata Harimau Perang, ”apakah daku bisa mendapatkan pertarunganku sekarang?”

Panah Wangi sudah hampir beranjak, tetapi aku menahannya.

”Oh, tidak semudah itu Harimau Perang. Dikau harus tetap memberi tahu kami siapa yang telah membunuh Amrita.”

Gerimis masih tetap saja, tidak mereda, tidak juga menderas.

Harimau Perang menadah gerimis itu dengan kedua tangan, lantas membasuh wajahnya.

”Apakah daku harus menyebutkan namanya?” (bersambung) 

1. Sun Tzu, The Art of War, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 37.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita? oleh yang terbit pada Thursday, 18 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita?

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #350 Siapa Pembunuh Panglima Amrita?

×