Nagabumi III #353 Harimau Perang Perlaya!

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Sunday, 21 June 2015
Oleh - Dibaca: 17 kali -


MENDENGARKAN suara hujan sebetulnya seperti mendengarkan seseorang bercerita, tetapi yang tidak terlalu jelas bagaimana alurnya, siapa saja tokohnya, dan seperti apa latar belakangnya. Hanya seperti sesuatu sedang terjadi, sesuatu yang bisa menimbulkan perasaan tertentu, atau sesuatu yang seperti bisa dimaklumi, seperti nyanyian yang tidak diperta­nyakan lagi.

Begitulah suara hujan terdengar seperti nyanyian yang bernada dan berirama tetap, dan karena itu seperti bisa ditinggalkan, sebab tujuanku bukanlah mendengarkan suara hujan melainkan suara-suara dari gelanggang pertarungan, agar dalam keterpejaman mendapat gambaran melalui sosok-sosok yang terwujudkan oleh garis-garis hijau kekuningan, sebagaimana dimungkinkan oleh Ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

Ketika suara hujan itu berubah menjadi suara gerimis, kusaksikan lengan kedua petarung itu bergerak sedikit, sangat sedikit, tetapi kukira itulah tanda betapa keduanya siap saling menyerang. Apakah kiranya yang mereka tunggu? Kukira mereka menunggu lawan masing-masing teralihkan perhatiannya. Namun apakah kiranya dalam keadaan seperti ini yang akan membuat kedua petarung itu teralihkan perhatiannya? Jika kedua petarung itu mendengarkan apa yang kudengarkan, tentu yang mereka dengar adalah juga suara hujan!

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #352 Siapa Menggerakkan Bayangan?

Tentu, ketika hujan menjadi gerimis, suaranya berubah. Pada titik manakah masing-masing menganggap perhatian lawan teralihkan? Siapa yang menentukan titik lebih awal tentulah akan lebih dulu menyerang. Dari hujan menjadi gerimis, keduanya belum bergerak. Gerimis pun tidak berhenti sebagai gerimis, melainkan berlanjut mereda dengan cepat, sehingga mendadak sunyi, bumi tanpa suara sama sekali. Pada titik itulah keduanya berkelebat!

Secepat kilat Harimau Perang mengayunkan kedua pedang panjang melengkungnya saling menyilang ke dada Panah Wangi, yang secepat pikiran menancapkan pedang jian ke jantung Harimau Perang sampai tembus, lantas memutar tubuh ke belakang dan menendang punggungnya. Nyawa Harimau Perang boleh dianggap masih di tubuhnya ketika terlontar ke atas kolam, dan pada titik tertinggi 50 bola api berekor panjang melesat dari 50 arah menyalakan tubuhnya.

Ketika tubuh yang menyala itu jatuh ke kolam, terdengar desis seperti besi membara yang disiram air dengan bunyi yang sangat amat kerasnya. Bahkan tubuh yang masih menyala dan berkobar itu sempat pula menyalakan seluruh permukaan kolam sebelum kembali gelap sebagaimana layaknya malam.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #81 16: Di Balik Jurus Selimut Angin

Sun Tzu berkata:

kemarahan mencegah

bahkan pemimpin terbesar

dari berperan cerdas.

kemurkaan dan gairah

bukanlah pengganti

bagi perencanaan

berdarah dingin

dalam

penghancuran musuh 1)

Jika ada saksi mata bagi pertarungan ini, maka ia tidak akan menyaksikan apa pun, karena kejadiannya memang berlangsung terlalu cepat, bahkan lebih cepat dari cepat!

Tiada lagi hujan. Tiada lagi gerimis. Hanya malam. Harimau Perang terapung-apung di kolam seperti bongkahan arang raksasa, dengan sebilah pedang jian tertancap menembusnya. Panah Wangi yang terluka parah berada di pangkuanku. Luka sabetan silang Harimau Perang, siapakah yang bisa menyembuhkannya?

Dengan tenaga prana atau ki mungkin bisa kusembuhkan luka dalam, tetapi tidak akan bisa menangkupkan kembali luka menganga oleh sabetan pedang. Ini membutuhkan obat-obat ramuan seorang tabib yang dapat menghentikan pendarahan dan menutup kembali luka.

”Pendekar Tanpa Nama…,” ujar Panah Wangi lemah, ”apakah daku yang membunuhnya?”

Menarik juga dibaca:   Nagabumi I Kitab 4 #70 Campaka Bercerita

”Pedangmu menembus jantungnya, tidak mungkin ia lolos, tapi para padri pengawal Kaum Muhu tidak ingin ketinggalan,” jawabku, ”Mereka ingin memastikan bahwa mereka juga telah menghukum Harimau Perang.”

”Maafkan daku….”

”Tidak ada yang harus kumaafkan, Panah Wangi. Bahkan dirikulah yang berutang bukan saja nyawa, melainkan juga wajah…”

”Ah, Pendekar….” Panah Wangi meraba wajahku dengan tangan yang sangat lemah.

Kupegang tangannya.

”Dikau tidak akan mati,” kataku sambil mengangkat dan membopongnya, ”Di seluruh Chang’an, tak mungkin tidak ada tabib yang tidak bisa mengobatimu.”

Aku pun berbalik, meski tanpa kepastian ke mana akan menuju, kecuali bertanya kepada jaringan mata-mata tentara yang selama ini telah membantu kami. Bukankah di tempat mereka diriku telah dirawat oleh Tabib Pengganti Wajah? Kukira semestinya mereka dapat menunjukkan pula ke mana luka parah Panah Wangi dapat diatasi.

Namun, setelah berbalik kusaksikan betapa diriku telah terkepung! (bersambung)

1. Sun Tzu, The Art of War, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 101.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #353 Harimau Perang Perlaya! oleh yang terbit pada Sunday, 21 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #353 Harimau Perang Perlaya!

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #353 Harimau Perang Perlaya!

×