Nagabumi III #354 Anak Panah Dukacita

Dimuat di jawapos-cerbung Edisi Monday, 22 June 2015
Oleh - Dibaca: 19 kali -


PANGERAN Song!

Ia menunggang seekor kuda putih. Ia berbaju ringkas seperti seorang pendekar yang siap bertarung. Hanya kuda Uighur pilihan, dan 50 pengawal istana yang mengiringi dan kini mengepungku, yang menunjukkan betapa dirinya adalah orang penting. Aku belum lupa tindak-tanduk dan gerakannya yang serbahalus dan lemah-lembut, juga dalam cara bertarungnya menghadapi Panah Wangi di atas gelanggang di Istana Xingqing waktu itu. Apakah hanya karena dirinya warga istana, maka segenap perilakunya harus menjadi jauh lebih halus dari orang-orang biasa yang berada di luar istana? Namun Pangeran Song, di atas kuda putih itu, tampak seperti memiliki wibawa seorang putra mahkota.

Apa yang sedang dilakukannya di sini? Aku tentu ingat telah melihatnya ketika berkelebat ke tempat ini. Apakah ia memang sedang mencari dan kemudian membuntuti Panah Wangi? Agaknya ketentuan bahwa Harimau Perang dan Panah Wangi hanya boleh diburu oleh Pasukan Hutan Bersayap agar tidak terjadi bentrokan antara para petugas Dewan Peradilan Kerajaan yang dipimpin Hakim Hou dengan pasukannya sendiri, cenderung diabaikannya. Lagipula pasukan Pangeran Song memburu Panah Wangi bukan untuk menangkap, melainkan meminta agar Panah Wangi bersedia menjadi pengawal pribadinya.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #346 70: Pengadilan Harimau Perang

”Pangeran Song…,” kataku sambil menundukkan kepala sebagai tanda menghormatinya.

Dalam keadaan Panah Wangi yang luka parah seperti ini, aku merasa lebih baik tidak bertentangan dengan siapa pun, karena seperti akan membutuhkan pertolongan siapa saja yang bisa membantu. Sekilas teringat Batu Naga yang telah dibawa ke wilayah timur dan tentu aku tidak bisa mengharapkannya sebagai keajaiban yang muncul sekarang.

”Pendekar Tanpa Nama,” kudengar suara halus dari atas kuda, ”dirimu selalu tak luput disebut dalam berbagai perbincangan tentang dunia persilatan. Sangat senang akhirnya bisa bertemu. Namun kini kumohon kebesaran hatimu untuk menyerahkan Pendekar Panah Wangi yang luka-lukanya tampak sangat parah itu, agar para tabib terbaik istana dapat segera menanganinya. Tenaga Pendekar Panah Wangi pada masa depan sangat kami butuhkan.”

Aku menatap Panah Wangi, ia sudah sangat lemah dan pucat. Kukira aku tidak punya pilihan lain. Mata Panah Wangi bahkan sudah terpejam sekarang.

Aku tidak mengatakan sepatah kata. Hanya mengajukan tubuh Panah Wangi ke depan. Mata Pangeran Song berkaca-kaca melihat keadaan Panah Wangi. Luka tersayat akibat sabetan saling menyilang itu tampak tidak tersembuhkan. Napas Panah Wangi tinggal satu-satu.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #66 13: Pecinta Tanpa Hati

Pangeran Song melambaikan tangannya, dan berlarianlah empat pengawal istana untuk menerima tubuh Panah Wangi.

”Jangan bergerak,” kata Pangeran Song, ”kita akan mendirikan tenda di sini, dan tiada cara lain selain mendatangkan para tabib istana itu kemari.”

Aku pun segera menjauhkan diri dan menyaksikan bagaimana para pengawal itu bekerja. Kulihat ke sekeliling, 50 padri pengawal Kaum Muhu itu telah mengundurkan ke balik malam.

Keempat pengawal yang menyangga tubuh Panah Wangi sungguh tidak bergerak sampai sebuah tenda raksasa didatangkan dari barak Pasukan Siasat Langit, dan didirikan melampaui kepala mereka. Dalam waktu singkat, tidak kurang dari 12 tabib istana yang juga sudah terbiasa disertakan dalam peperangan, sehingga berpengalaman menangani luka sayatan senjata tajam, tiba dengan segala peralatan dan bahan-bahan ramuan obat mereka.

Keunggulan para tabib sama sekali tidak kuragukan, tetapi luka Panah Wangi yang parah kusadari sebetulnya mematikan. Sabetan saling bersilang Harimau Perang tidak pernah membiarkan korbannya tetap hidup.

Menarik juga dibaca:   Nagabumi III #22 Sastrawan Kejam dari Tianshan

Seorang Buddha sebelum Gautama berkata:

tubuh ini

adalah malapetaka,

siksaan, bahaya, penyakit, 

anak panah dukacita,

menakutkan sahaya;

mengamati bahaya ini

akibat hawa nafsu,

biarlah seseorang

berjalan sendirian

seperti badak 1

Tenggelam dalam malam yang kini langitnya bersih penuh bintang, sambil menantikan berita tentang Panah Wangi di luar tenda, aku berpikir tentang apalagi yang harus kulakukan.

Harimau Perang sudah mati, tetapi tugasku masih jauh dari selesai, karena pembunuh Amrita ternyata bukanlah Harimau Perang, melainkan duratmaka lain yang masih harus kukejar ke Dunhuang. Namun rupanya aku pun tidak akan dapat segera menuju Dunhuang, meskipun jika kesempatannya terbuka, antara lain, karena kukira aku masih harus berurusan dengan Yang Mulia Paduka Bayang-Bayang… (bersambung)

1. Dari Khaggavisana Sutta yang berarti Wacana Badak (Rhinoceros Discourse) diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh C. F. Horne dalam The Sacred Books and Early Literature of the East, dimuat kembali dalam Lucien Stryk (peny.), The World of the Buddha [1969 (1968)], h. 221.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Nagabumi III #354 Anak Panah Dukacita oleh yang terbit pada Monday, 22 June 2015 di jawapos-cerbung. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #354 Anak Panah Dukacita

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Nagabumi III #354 Anak Panah Dukacita

×