Malam Seorang Maling – Jakob Sumardjo

Dimuat di esai Edisi Wednesday, 21 February 2007
Oleh - Dibaca: 26 kali -


Saya memilih cerpen ini awalnya saat membaca judulnya, hal pertama yang muncul di benak saya begitu membaca judul cerpen ini seolah memberi gambaran mengenai sebuah malam sakral yang dilewati oleh seorang maling, sebuah malam yang dijalani berbeda dengan malam-malam sebelumnya.

Si tokoh aku yang merupakan si maling yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini, tergambarkan sebagai orang yang beruntung di tengah segala kegelisahannya saat ia mencari persembunyian dari kejaran penduduk setempat, perihal tertangkap basahnya ia saat melakukan aksi mencurinya.

Beberapa kebetulan muncul, mulai dari lorong gelap yang menjadi penyelamatnya dan memang seperti menurutnya kegelapan adalah penyelamatku, dewa gelap adalah dewa para maling…berlanjut pada saat ia menikung di sebuah belokan dan teryata menemukan lorong yang bukan main lebih gelap dari yang sebelumnya dan itu lebih sangat menguntungkan baginya. Di tengah segala rasa takut dan usahanya untuk menghindari kejaran dari penduduk, si maling segera bersembunyi di atas pohon sambil menguasai dirinya agar tidak tertangkap oleh penduduk. Saat itu ia merasa sudah terperangkap, tapi sekali lagi ia terselamatkan, namun naasnya ia selamat karena munculnya satu sosok tak dikenal tak jauh dari tempat ia bersembunyi yang dianggap penduduk adalah maling yang sedang mereka kejar. Bagian ini merupakan peristiwa yang sangat disayangkan dan kemungkinan sangat sering terjadi di dunia nyata, menghakimi orang dengan sekehendak hati hanya karena luapan emosi.

Sosok tak di kenal ditengah kegelapan itu, yang dianggap maling, yang selama ini telah meresahkan masyarakat karena telah mengunjungi 5 rumah dalam 1 bulan terakhir. Warga akhirnya agak melunak, apalagi ketika akhirnya mereka menyadari telah melakukan sebuah kesalahan terhadap orang yang telah mejadi korban kekesalan massal tersebut. Si maling yang menyaksikan semua kejadian tragis itu menjadi gemetaran dan lemas seketika, ia mengupayakan dirinya agar tetap dapat bertahan sementara waktu di atas pohon untuk menghindari keganasan penduduk kampung apabila ia tertangkap apalagi setelah terjadi kesalahan seperti itu, namun hal itu terjadi hanya sementara setelah berhasil turun dari pohon yang dianggapnya sebagai penyelamat ia mulai kembali menganggap telah di selamatkan oleh dewa-nya, dan ia memuji dewanya tersebut, setelah itu kita tidak tahu pasti bagaimana kehidupan si maling itu selanjutnya, berhentikah ia dari profesinya tersebut atau dengan tenangnya ia masih bisa menggelutinya sebagai pekerjaan terbaik karena selalu merasa dilindungi oleh para dewa-dewanya.

Menarik juga dibaca:   Absurdisme dalam Cerpen Malam Seorang Maling Karya Jakob Sumardjo

Jakob Sumardjo, mengemas cerita ini cukup menarik, dengan penggunaan diksi yang menimbulkan kesan lucu, menurut saya saat membaca cerita ini. Ini kesimpulan yang berani saya ambil, karena setidaknya itulah kesan yang menempel setelah saya membaca cerpen ini.

Dimulai pada waktu si maling mengumpat betapa mudahnya ia memasuki rumah korbannya, ia sampai memiliki anggapan bahwa rumah tersebut perencanaannya oleh seorang maling juga dan ia mengutuk jika hal itu yang memang terjadi, lucunya juga saat ia memutar handel pintu ternyata pemilik rumah begitu sembrono untuk mengunci pintu rumahnya maka semakin mudahlah ia untuk masuk dan menjalankan missinya. Ditambah ruangan rumah yang gelap, dan sepinya penghuni rumah tersebut karena hanya ditinggali oleh sepasang suami istri yang belum memiliki anak, ia kembali bersyukur karena tidak adanya bayi di rumah tersebut, karena menurutnya bayi adalah musuh golongannya. Kelucuan-kelucuan yang tertangkap selanjutnya dari beberapa kebetulan-kebetulan yang timbul sehingga ia selamat dan ia selalu ingat untuk bersyukur pada dewa maling-nya yang ia percayai bahwa ia sangat dilindungi.

Menarik juga dibaca:   Sukab dan Corynebacterium diphtheriae

Cerpen ini tidak sepenuhnya menyajikan unsur humor-humor ringan secara tidak langsung saja, karena terdapat suatu pesan yang cukup dalam yang setidaknya sekali lagi saya coba- coba untuk berani menyimpulkan. Sifat dan karakter yang muncul dari para tokoh dalam cerpen ini cukup mewakili karakter manusia. Manusia yang menghalalkan segla car untuk mendapat yang ia inginkan, manusia yang gelap mata hanya karena tak dapat menahan amarahnya, manusia yang menjadi korban suatu tindak kejahatan orang lain, manuia yang menerima akibat dari kejahatn yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.

Perilaku maling adalah perilaku yang buruk untuk ditiru, mengambil barang orang dengan sembunyi-sembunyi, tanpa izin, dan mengerahkan yang namanya tipu daya. Sepandai-pandainya maling seperti ia masih memerlukan partner kerja, untuk melaksanakan semua perencanaan yang sudah dianggap matang, satu menjaga satu beraksi dan sebagainya.

Keluarga, kata ini memiliki suatu kekuatan, mengandung suatu energi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi setiap orang. Sosok seorang maling sepertinya tidak memiliki kepedulian terhadap yang namanya keluarga, tapi ternyata dalam cerpen ini ia masih memikirkan hal itu, terbukti saat ia mencoba mecari tempat sembunyi dari kejaran penduduk yang tengah mengejarnya, si maling sangat hati-hati dan teliti menentukan arah kemana ia harus bersembunyi agar dirinya aman dari amuk masyarakat sehingga ia dapat selamat dan tidak hanya namanya saja kelak yang kembali pada anak dan istrinya yang entah tahu atau tidak prihal mata pencaharinnya selama ini.

Menarik juga dibaca:   Tikus dan Manusia

Selain itu, kemungkinan jika seseorang berada dalam suatu kondisi terjepit, dan terselamatkan oleh hal yang kurang masuk diakal, ia akan menganggap bahkan mendewakan apapun itu yang telah menyelamatkannya, padahal mungkin saja ia selamat karena ulahnya yang tidak begitu ia sadari dan ia merasa seperti ada yang menyelamatkannya. Dalam cerpen ini katakanlah si maling yang berulang kali merasa beruntung dan selama itu lah ia merasa bahwa jin, dewa gelap, dewa maling memang melindunginya,yang namanya hidup memang tidak pernah dapat lepas dari yang namanya kepercayaan, sekuat apapun seseorang kadang yang namanya sugesti dan kepercayaan terhadap suatu hal itu tetap ada.

Kekeliruan, hal itu terdengar seperti sebuah kesalahan kecil yang tidak disengaja pula, tapi sebenarnya gara-gara sebuah kekeliruan suatu hal yang buruk dapat muncul, hal yang biasa dapat menjadi fatal. Nyawa seseorang yang tidak bersalah melayang begitu saja, akibat gelap matanya penduduk yang tidak dapat menahan emosi dan amarahnya saat menemukan sosok mencurigakan menurut mereka, padahal jelas saat itu keadaan sedang gelap, tak ada penerangan yang cukup untuk memastikan benar atau tidaknya orang yang mereka tangkap adalah maling yang selama ini meresahkan mereka, tidak ada salahnya padahal untuk mencaritempat yang sedikit lebih nyaman untuk dapat memastikan suatu kebenaran, disini terbukti tindak kekerasan tidak akan menghasilkan suatu hal yang bergerak ke arah positif. ***

Sumber

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Malam Seorang Maling – Jakob Sumardjo oleh yang terbit pada Wednesday, 21 February 2007 di esai. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Malam Seorang Maling – Jakob Sumardjo

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Malam Seorang Maling – Jakob Sumardjo

×