Absurdisme dalam Cerpen Malam Seorang Maling Karya Jakob Sumardjo

Dimuat di esai Edisi Tuesday, 22 May 2012
Oleh - Dibaca: 18 kali -


Malam Seorang Maling yang ditulis Jakob Sumardjo diterbitkan harian Kompas pada 15 April 1970 ketika absurdisme cenderung diangkat dalam kesusastraan dunia. Contoh munculnya teater Waiting for Godot oleh Samuel Beckett yang kemudian dipentaskan Rendra dengan Menunggu Godot dan novel The Old man and The Sea oleh Ernest Hemingway yang diterjemahkan Sapardi Djoko Dhamono ke dalam Bahasa Indonesia serta munculnya cerpen Robohnya Surau Kami oleh A.A Navis dan Godlob oleh Danarto.

Absurdisme merupakan gagasan bagi karya sastra yang sukar dimengerti dari berbagai segi antara lain alur cerita, karakter dan bahasanya. Gagasan ini dilatar belakangi oleh keputusasaan masyarakat dunia terhadap Perang Dunia II ketika norma- norma agama, nilai- nilai peri kemanusiaan yang dianut tidak lagi bisa menghentikan berkecamuknya peperangan. Absurdisme yang diangkat Jakob Sumardjo dalam cerpennya ini berusaha membangun kembali kesadaran manusia ketika dihadapkan pada kacau- balaunya kehidupan sosial masyarakat dalam sudut pandang pengarang.

Menarik juga dibaca:   Membaca Cerpen Jakob Soemardjo

Absurdisme dalam cerpen Malam Seorang Maling merupakan gaya narasi untuk menciptakan efek dramatik serta estetik yang diilhami oleh perenungan filosofis pengarang. Hal ini biasanya tercermin dalam simbol- simbol yang digunakan pengarang, seperti kutipan berikut:
“Kegelapan adalah penyelamatku. Dewa gelap adalah dewa para maling. Sayang juga bahwa lorong kampung itu lurus sampai di ujung. Segala yang lurus dan segala yang terbuka adalah musuh tujuh turunan para maling. ”

Pengarang menceritakan naluri alamiah seorang maling yang dalam aksinya tertangkap warga dengan begitu dramatik dengan pemilihan diksi yang tajam pada monolog si maling, dalam kutipan berikut:
“Darahku tersirap ke kepala. Naluri mendesakku masuk ke kebun yang seperti hutan itu. Bersamaan dengan itu terdengar lagi teriakan- teriakan itu masuk lorongku. Aku terperangkap.”
“Aku naik, naik dan terus naik, rasanya mau aku lari bersembunyi di langit yang hitam itu.”

Menarik juga dibaca:   Tikus dan Manusia

Cerpen ini memerlukan perenungan filsafat untuk dapat dipahami nilainya terutama moralitasnya. Pembaca haruslah memiliki pengetahuan tentang kondisi sosial- budaya serta politik masyarakat. Pengarang banyak menggunakan simbol untuk memberikan efek estetik tertentu bagi publik yang membacanya. Pembaca dituntut untuk bercermin dan mengambil pesan moral dari monolog si maling.

Seperti kutipan di awal cerpen:
“Penghuni rumah ini terlalu sembrono atau orang yang tak pernah curiga pada orang- orang semacam aku ini”
“aku makin gemetaran. Badanku lemas. Kalau aku terjatuh mungkin aku akan dicacah- cacah oleh penduduk kampung yang tentu saja dua kali lipat ganasnya setelah mengetahui kekeliruan mereka”

Menarik juga dibaca:   Cerpen "Kompas" Pilihan 1970-1980

Malam seorang Maling merupakan refleksi situasi masyarakat ketika berhadapan dengan kekacauan kondisi lingkungannya dari sudut pandang si maling. Pengalaman buruk yang sebelumnya dialami kolektif seringkali mendorong kolektif tersebut untuk berbuat semena- mena, menghujat, main hakim sendiri dan menindas minoritas ( dalam cerpen ini disimbolkan dengan pengeroyokan massa pada seorang yang dituduh sebagai maling ) padahal tidak sepatutnya dijadikan korban. Keteledoran masyarakat seringkali membuat si maling yang benar- benar melakukan kejahatan, luput dari pengawasan.

“Semua jin kegelapan dan dewa maling telah berkenan menyelamatkan salah seorang putranya dari maut”
“Pujiku selalu bagi para jin” ***

Sumber

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Absurdisme dalam Cerpen Malam Seorang Maling Karya Jakob Sumardjo oleh yang terbit pada Tuesday, 22 May 2012 di esai. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Absurdisme dalam Cerpen Malam Seorang Maling Karya Jakob Sumardjo

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Absurdisme dalam Cerpen Malam Seorang Maling Karya Jakob Sumardjo

×