Kematian Dalam Keluarga

Dimuat di pikiranrakyat Edisi Saturday, 09 July 2005
Oleh - Dibaca: 35 kali -


Pada suatu hari, lima belas tahun yang lalu, istri saya pulang dari rumah sepupunya dengan membawa seekor bayi anjing.

“Kau dapat dari mana anjing itu?”

“Bukan mendapat, tetapi membeli”

“Membeli anjing?”

“Apa mata kamu tidak melihat, anjing ini jenis ras. Saya membelinya dari Elly seharga seratus ribu rupiah”

“Seratus ribu?”

“Kasihan anak-anak butuh teman mainan.”

Sebagai suami yang takut istri, saya menuruti saja kemauannya. Anjing itu berwarna hitam legam. Kulitnya memang halus lembut, rata. Katanya jenis spinser, bentuk mini dari jenis dobberman. Karena masih bayi, maka anjing itu setiap kali harus disusui istri saya dari sebuah botol susu bayi manusia. Kalau malam, tidur di bekas keranjang parsel yang dialasi kain-kain tebal, diselimuti, dan dipanasi dengan lampu baca saya yang saya relakan.

Anak-anak saya yang masih duduk di TK dan sekolah dasar memang senang sekali. Tetapi mereka hanya suka menggendong dan bermain dengannya, tetapi urusan hidupnya dibiarkan kepada ibunya. Semakin besar, anjing itu semakin lucu. Jenis kelaminnya perempuan, dan kita menamakannya Candy. Tetapi saya sendiri memanggilnya Ondil. Istri sayalah yang melatihnya untuk kencing dan buang air besar di kebun. Dia pulalah yang mengajarinya bahasa Inggris, seperti sit down, come here, drink, eat it, tetapi saya sendiri sering membentaknya dalam bahasa Jawa. Dan anak-anak berbicara padanya dalam bahasa Indonesia.

Seharusnya jenis spinser itu dibiarkan tumbuh tetap kecil sehingga dapat dimasukkan saku ke mana-mana. Untuk itu harus diberi jatah makanan tetap dan terukur. Tetapi kami tidak tega membiarkannya kelaparan. Dia makan apa yang kami makan. Akibatnya si Ondil itu tumbuh besar, meskipun tetap seperti anak-anak anjing yang normal, yakni seperti anjing umumnya di kompleks perumahan kami.

Ketika tiba masa dewasanya, anjing itu, seperti makhluk perempuan mana pun, mengalami menstruasi. Kalau sudah datang waktunya, istri saya selalu sibuk mengenakan celana padanya. Kalau ada orang jual jenis Cutex untuk anjing, barangkali istri saya tinggal membelinya saja. Sayang, orang tidak pernah memikirkan menstruasi anjing.

Anjing itu tumbuh dengan sehat dan montok, akibat sering kami kasih makan enak. Kalau tadinya ia mau makan nasi dengan campuran ati-ampela ayam yang digodok, makin lama ia tak mau memakan nasinya hanya ati-ampelanya saja. Setiap pergi ke undangan kawan, istri saya selalu sibuk membungkusi masakan lidah sapi, sisa-sisa daging ayam atau daging sapi, dan kadang-kadang rollade. Kalau kami sedang masak sayur asem, anjing itu terpaksa berpuasa akibat tak mau makan nasi lagi.

Hubungan anjing kami itu dengan istri saya mirip hubungan seorang ibu dengan anak. Ia selalu memperdengarkan kesedihannya apabila istri saya pergi keluar rumah agak lama. Dan kalau kami datang kembali ke rumah, ia selalu melonjak pada istri saya dan suka menarik-narik celana panjangnya.

Menarik juga dibaca:   Malam Seorang Maling

Pernah pada suatu ketika istri saya terbaring sakit untuk beberapa hari. Anjing itu dengan setia menunggui istri saya di bawah ranjang sambil tiduran. Dan sekali-kali melonjak ke arah ranjang untuk sekadar menjilati tangan istri saya. Kalau istri saya yang sakit pergi ke kamar mandi, ia menjaganya di depan pintu kamar mandi sambil melenguhkan kerinduannya takut ditinggalkan lama-lama.

Pada waktu istri saya sakit itulah seorang tetangga perempuan menjadi korban gigitannya. Ceritanya demikian. Semula istri saya mengeluh masuk-angin dan minta dikerik. Tetapi tak satupun dari keluarga kami yang dapat mengerik. Maka kami minta tolong pada seorang ibu tetangga depan rumah agar bersedia menolong mengerik tubuh istri saya. Ketika ibu sedang mengerik bagian punggung istri saya di dalam kamar, istri saya berkali-kali mengaduh kecil. Pada saat itulah anjing kami melonjak ke arah ranjang dan menggigit kaki tetangga kami itu. Untung dia memakai celana panjang, sehingga gigitannya tak begitu dalam. Bagaimana pun juga kami terpaksa membawanya ke dokter untuk memastikan bahwa ia tidak terjangkit rabies.

Lain waktu justru anjing itulah yang kami bawa ke dokter hewan karena selama tiga hari tidak mau makan. Saya, istri, dan anak perempuan saya yang sudah mahasiswa mengantarnya ke dokter hewan yang terkenal di kota kami. Istri saya merawatnya seperti merawat salah seorang anak kami yang sedang sakit. Anjing itu sebentar-sebentar dihiburnya, ditenangkan hatinya, dan disuapinya dengan obat.

Selama bersama kami, anjing itu telah lima kali kami bawa ke dokter hewan, sampai dokter itu hafal kami, dan selalu memanggil masuk pasiennya dengan panggilan “anjing Jakob”, karena memang ia didaftarkan berdasarkan nama pemiliknya.

Dan inilah peristiwa yang mengagetkan itu. Pada suatu malam, kami sekeluarga diundang ke perkawinan seorang keponakan. Kami baru bisa pulang sekitar jam dua belas malam. Ketika mobil minibus tua kami mendekati rumah, kami heran karena begitu banyak orang bergerombol di depan rumah. Ketika kami turun dari mobil, seorang tetangga memberitahukan bahwa kami baru saja kemasukan maling.

“Ada dua orang pencurinya, Pak. Mereka naik motor. Sekitar jam sepuluh tadi. Ibu Slamet di depan rumah mendengar anjing Bapak menyalak terus- menerus. Suara salaknya tidak seperti biasanya. Kira-kira seperempat jam anjing Bapak menyalak keras-keras dan tiba-tiba berhenti. Ibu Slamet keluar rumah mencoba mengetahui apa yang terjadi. Ibu itu melihat seseorang keluar dari jendela samping rumah Bapak dan kemudian cepat-cepat baik boncengan motor yang sudah menunggu di jalan. Ibu Slamet memberanikan diri memeriksa jendela yang terbuka. Dan ternyata di dalam kamar tergeletak anjing Bapak bersimbah darah.”

“Di mana anjing itu sekarang,” kata istri saya cemas. “Masih di dalam kamar Bu. Kami tak berani masuk, setelah Ibu Slamet berteriak-teriak bangsat-bangsat.” Benar saja, si Candy tengah terkapar di kamar tengah tempat ia biasa tidur. Ketika kami mendekatinya, mata anjing itu berair memandang kami seolah-olah minta pertolongan kami. Di bagian lehernya terdapat luka yang menganga, seperti bekas sabetan benda tajam. Napasnya terengah-engah. Ia tak mampu bergerak. Hanya matanya saja yang memandangi kami satu per satu.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Mimpi-mimpi

Pada jam setengah satu malam anjing itu kami bawa ke rumah dokter hewan. Rumah dokter kami gedor. Dan karena kami pelanggan yang dikenalnya, meskipun mungkin agak kesal, ia terpaksa membuka ruang praktiknya. Anjing kami harus dijahit lukanya. Sampai pagi, saya dan istri saya menungguinya.

Setelah peristiwa itu kami semakin menyayangi dan memanjakannya. Dan rupanya ia tahu bahwa kami memperlakukannya secara istimewa. Begitulah sifat anjing, tahu kalau kami memanjakannya, ia semakin melunjak dengan mencoba ikut tidur di ranjang kami. Saya terpaksa menendangnya dan memaki-makinya dalam bahasa Jawa. Mungkin ia tak tahu bahasa saya, tetapi tendangan itu telah membuatnya meringkuk ketakutan di tempat tidurnya sendiri.

Hampir lima belas tahun anjing itu hidup bersama kami. Saya kadang heran mengapa selama hampir delapan tahun anjing itu hidup sehat terus. Ia tak pernah sakit lagi.

Usia anjing sejenis dia paling lama bertahan sampai umur dua belas tahun. Tetapi ini telah mencapai tahun kelima belas. Apakah kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh istri saya membuatnya awet hidup? Dia telah mengalami masa kecil anak-anak saya sampai anak tertua saya menikah, dan memberi kami dua orang cucu yang sering ikut bermain dengan anjing itu. Apakah benar bahwa hidup bertahan lama karena kasih sayang? Hidup adalah cinta dan cinta membuat hidup?

Menjelang bulan-bulan terakhir akhir hidupnya, anjing itu keluar halaman rumah dan hilang tak kembali. Kami mencarinya sampai ke kampung tetangga. Selama tiga hari kami berkeliling kampung menanyakan perihal anjing kami itu. Tak seorang pun mengaku pernah melihatnya. Pada suatu malam kami mendengar suara seperti suara anjing kami yang sedang menyalak marah dan takut. Hati kami tersayat-sayat. Jangan-jangan anjing kami disiksa atau akan disembelih untuk dijadikan gulai. Kalau dia harus mati, biarlah mati di rumah kami. Jangan sampai dia mati tersiksa jauh dari kami. Malam itu istri saya berdoa agar anjingnya dapat dikembalikan dalam keadaan hidup. Istri saya tidak tahan melihat tempat tidur anjing itu tergolek sepi. Juga terharu ketika ia pulang kembali ke rumah tidak ada anjing yang menyambutnya dengan salakan dan jilatan serta gigitannya yang lembut.

Anak kami yang sudah menikah menganjurkan agar kami menyebarkan poster di persilangan jalan-jalan kampung di sekitar kompleks perumahan. Kami pun membuatnya dan mem-fotokopinya sebanyak sepuluh lembar. Kemudian kami suruh tukang sampah untuk menempelkannya di tempat-tempat yang strategis. Hasilnya memang datang. Di hari ketiga kami mendapat telefon yang memberitahukan keberadaan anjing dengan ciri-ciri yang kami sebutkan dan kami harus menjemputnya di tempat yang dia tunjukkan. Dalam poster itu kami sebutkan bahwa penemunya akan kami beri hadiah uang.

Menarik juga dibaca:   Cerpen Tikus dan Manusia

Istri dan anak saya yang bungsu menuju ke tempat yang ditunjukkannya lewat telefon. Anjing kami itu dirantai dalam sebuah rumah kampung. Ia nampak depresi. Ketika anak kami muncul, anjing itu melonjak dan menerjang anak saya sambil menjilati leher dan pipi anak saya itu. Setelah kami membayar seratus ribu rupiah, seharga pembelian lima belas tahun yang lalu, anjing itu dibawa pulang. Sesampainya di rumah ia tak mau makan dan tak mau minum sampai keesokan harinya. Ia mencoba mengerti ketika saya memarahinya.

Lima hari sebelum anjing itu mati, tiba-tiba ia kehilangan nafsu makan sama sekali. Sepanjang hari dan malam ia tergolek tidur, Sambil sekali-kali buang air. Jalannya telah sempoyongan. Kalau minum air sedikit saja, ia langsung muntah. Malam-malam, dalam keadaan sakit, ia sering memaksakan diri masuk kamar kami hanya untuk menjenguk istri saya.

Malam sebelum kematiannya kami bertiga berada di dekat tempat dia tergolek. Dengan tatapan matanya yang tak berdaya ia memandangi kami satu persatu, tatapan mata yang sama persis dengan tatapan ketika ia hampir mati kena bacokan maling. Setelah itu kami mengelusnya bergantian, mengajaknya berbicara untuk menghibur dirinya. Kemudian kami menyelimutinya. Jam empat pagi istri saya masih menyaksikan anjing kami itu bernapas, tetapi sudah tak mampu lagi menggerakkan kepalanya untuk melihat istri saya. Dan pada jam enam pagi istri saya membangunkan isi rumah dan memberitahukan bahwa si Candy telah mati.

Saya segera mencangkul kuburan untuk anjing kami di halaman depan rumah. Anak saya membungkusnya dengan kain putih. Saya kemudian menimbunnya kembali dengan tanah. Di atas gundukan tanah, saya sebarkan bunga-bunga aneka warna yang saya petik dari halaman rumah.

Menjelang berangkat ke kantor, timbunan bunga bertambah. Rupanya istri saya yang kemudian menambahinya. Juga dipancangkannya sebuah salib kayu yang sederhana di ujung gundukan arah kepala anjing itu. Sebelum masuk mobil, istri saya bertanya sambil melihat kuburan anjing kami.

“Pa, apakah anjing dapat masuk surga?”

“Ya bisa saja. Semua yang baik dapat masuk surga. Semua yang jahat masuk neraka. Tentunya anjing galak masuk neraka.” Sambil menengok ke belakang saya atretkan mobil tua saya.

Malam harinya, ketika saya dan istri saya sedang keluar rumah, anak bungsu saya yang sendirian di rumah melihat pintu kamar tidur kami terbuka pelan-pelan, seperti kebiasaan anjing kami memasuki kamar untuk sekadar menjenguk istri saya tidur.

Malam itu istri saya khusyuk berdoa sebelum tidur.

Saya mendengar ia menangis lirih dalam doa.

Saya pura-pura tidur.

Harian Pikiran Rakyat, 07/09/2005.

TERIMA KASIH Anda telah mengunjungi halaman Kematian Dalam Keluarga oleh yang terbit pada Saturday, 09 July 2005 di pikiranrakyat. Jika konten hanya berbentuk gambar, silakan klik pada gambar untuk memperbesar agar teks tulisan bisa jelas terbaca. Anda bisa berkontribusi dengan mengetik ulang konten yang masih berbentuk gambar ke dalam bentuk teks dan kirimkan ke email [email protected] untuk dimuat disini. Anda bisa juga berdonasi tanpa uang untuk memperpanjang website ini agar terus online dan kontennya terus bertambah dengan mengunjungi iklan partner yang muncul di website ini. Jika ingin meng-copy konten di website ini untuk web/blog, bahan pelajaran, penulisan buku atau karya ilmiah lainnya, kami persilakan dengan syarat menyebutkan www.sastracerpen.com sebagai sumbernya. Terima kasih, selamat membaca dan semoga bermanfaat.
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Kematian Dalam Keluarga

×
KLIK (X) 2x Untuk Menutup

Selamat Membaca

Kematian Dalam Keluarga

×